(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

TUNAS HARAPAN: MEMPERKUAT KELOMPOK, MENJAGA KUALITAS AIR, MENINGKATKAN PRODUKSI

Admin distankan | 14 September 2026 | 103 kali

Buleleng - Pada Senin, 14 September 2026 dilaksanakan pendataan dan pembinaan teknis budidaya ikan pada Pokdakan Tunas Harapan, Desa Joanyar, Kec. Banjar. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Analis Akuakultur Ahli Pertama, Penyuluh Perikanan, Pengadministrasi Perkantoran serta anggota pokdakan.

Pokdakan Tunas Harapan merupakan kelompok yang telah berdiri sejak tahun 2008 dengan jumlah anggota sebanyak 20 orang. Kelompok berada pada kelas Lanjut dan telah memiliki beberapa administrasi kelompok, antara lain data anggota, buku tamu, serta rencana kegiatan.

Dari sisi kelembagaan, kelompok diharapkan dapat menghidupkan kembali kekompakan dan semangat kebersamaan melalui pertemuan rutin kelompok. Pertemuan secara berkala penting untuk memperkuat komunikasi antaranggota, mengevaluasi kegiatan budidaya, membahas kendala teknis, serta menyusun rencana pengembangan usaha secara bersama-sama.

Komoditas yang dibudidayakan meliputi ikan nila dan lele. Kelompok telah memanfaatkan kolam dengan konstruksi beton/tambahan kolam penampungan serta menggunakan pakan dalam kegiatan budidaya. Dari sisi pasar, kondisi relatif mendukung. Harga yang dicatat di lapangan sekitar:

???? Nila hasil pancingan : ±Rp40.000/kg

???? Nila : ±Rp35.000/kg

???? Lele: ±Rp30.000/kg (ukuran 6–8)

Kelompok menyampaikan bahwa pemasaran bukan menjadi kendala utama. Hal ini merupakan modal positif untuk pengembangan produksi, sehingga perhatian dapat lebih diarahkan pada peningkatan efisiensi budidaya, kualitas air, ketersediaan benih, pakan, dan permodalan.

Hasil pengukuran kualitas air menunjukkan:

???? Kolam penampungan/pra-panen:

* Suhu: 26,95°C

* pH: 6,19

* DO: 5,51 mg/L

???? Kolam nila:

* Suhu: 27,60°C

* pH: 5,98

* DO: 3,17 mg/L

???? Air tandon:

* Suhu: 24,80°C

* pH: 6,46

* DO: 8,48 mg/L

Secara umum, suhu masih sesuai untuk budidaya ikan air tawar. Namun, pH pada kolam nila cenderung asam, sedangkan DO sebesar 3,17 mg/L tergolong rendah dan perlu mendapat perhatian karena dapat menurunkan kenyamanan ikan, nafsu makan, pertumbuhan, dan pada kondisi tertentu meningkatkan risiko kematian.

Menariknya, kualitas air tandon memiliki DO cukup tinggi (8,48 mg/L), sehingga potensi perbaikan kualitas air sebenarnya cukup baik. Rendahnya DO pada kolam nila diduga berkaitan dengan aliran air paralel dari kolam lain dan kondisi inlet yang tersumbat. Oleh karena itu, perbaikan saluran inlet, peningkatan sirkulasi air, serta pemantauan DO dan pH secara berkala menjadi langkah penting.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kelompok antara lain:

* Ketersediaan dan kualitas benih.

* Kebutuhan modal yang cukup besar, terutama untuk pakan.

* Perbaikan sistem inlet dan sirkulasi air.

* Penguatan pencatatan produksi dan administrasi usaha.

* Penguatan koordinasi anggota melalui pertemuan rutin.

Di sisi lain, harga jual cukup baik dan pemasaran relatif tidak terkendala, sehingga terdapat peluang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha apabila kendala teknis dan kelembagaan dapat ditangani secara bertahap.

Sebagai bagian dari pembinaan dan dukungan terhadap keberlanjutan usaha budidaya, Dinas memberikan obat-obatan dan vitamin untuk menunjang kesehatan ikan dan mendukung produksi budidaya kelompok. Pemberian dukungan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara tepat sesuai kebutuhan dan menjadi bagian dari upaya menjaga performa budidaya.

Rekomendasi Hasil Pembinaan meliputi : 

* Mengaktifkan kembali pertemuan rutin kelompok.

* Segera memperbaiki/ membersihkan inlet yang tersumbat dan memastikan sirkulasi air berjalan baik.

* Melakukan pemantauan pH dan DO secara berkala, terutama pada pagi hari.

* Meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan pencatatan biaya produksi.

* Mengoptimalkan bantuan obat-obatan dan vitamin dari Dinas secara tepat guna.

Kesimpulan:

Pokdakan Tunas Harapan memiliki modal kelembagaan dan potensi usaha yang baik, didukung pengalaman kelompok sejak 2008, komoditas yang memiliki pasar, serta pemasaran yang relatif lancar. Penguatan kekompakan kelompok, perbaikan manajemen kualitas air, dan peningkatan efisiensi produksi menjadi kunci agar potensi tersebut dapat berkembang menjadi usaha budidaya yang semakin produktif dan berkelanjutan.