(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Penguatan Kelompok Pembenihan Nener Baru dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Budidaya Bandeng

Admin distankan | 06 Oktober 2026 | 11 kali

Pada Selasa, 6 Oktober 2026 telah dilaksanakan kunjungan dan pembinaan terhadap dua kelompok pembudidaya ikan, yaitu Pokdakan Maju Bersama, Desa Musi dan Pokdakan Berkah Jaya Abadi, Desa Sanggalangit.  Kedua kelompok tersebut bergerak dalam kegiatan pembenihan ikan bandeng, yaitu produksi nener. Meskipun kedua kelompok masih tergolong baru terbentuk secara kelembagaan, kegiatan budidaya telah dilakukan oleh para anggotanya sejak kurang lebih 20 tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa anggota kelompok telah memiliki pengalaman teknis yang cukup baik dalam melaksanakan kegiatan pembenihan bandeng.

Dari hasil kunjungan diketahui bahwa administrasi kedua kelompok telah tersusun dengan sangat lengkap. Kelengkapan tersebut menjadi modal penting dalam mendukung pengembangan kelembagaan, pengajuan bantuan, serta pemenuhan persyaratan program pemerintah. Meskipun demikian, kelompok diharapkan tetap aktif melaksanakan pertemuan secara rutin. Pertemuan kelompok tidak hanya diperlukan untuk memenuhi aspek administrasi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat hubungan antaranggota, menyampaikan permasalahan usaha, bertukar pengalaman, serta menyusun rencana kegiatan secara bersama-sama.

Menurut keterangan kelompok terjadi kelangkaan pupuk komersil jenis urea dan sp-36 yang disertai kenaikan harga mencapai Rp 800.000 untuk jenis pupuk SP-36. Pupuk memiliki peranan penting dalam mendukung kesuburan perairan dan merangsang pertumbuhan pakan alami. Oleh karena itu, ketersediaan pupuk bersubsidi diharapkan dapat membantu pembudidaya memperoleh pupuk dengan harga yang lebih terjangkau sehingga kegiatan pembenihan nener dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Selain permasalahan pupuk, fluktuasi harga nener juga masih menjadi kendala bagi para pembudidaya. Harga nener dapat berubah sesuai dengan jumlah permintaan, kondisi pasar, dan ketersediaan produksi. Pada beberapa hari terakhir, harga nener mengalami peningkatan hingga mencapai sekitar Rp16 per ekor karena adanya permintaan dari pasar lokal maupun ekspor. Kenaikan harga tersebut memberikan peluang bagi pembudidaya untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik. Namun, peningkatan harga belum tentu secara langsung meningkatkan keuntungan karena pembudidaya masih menghadapi berbagai risiko produksi, seperti kematian nener, gangguan kualitas air, dan penurunan jumlah hasil panen.

Permasalahan teknis lain yang dihadapi oleh kedua kelompok adalah kondisi air laut yang semakin tercemar. Penurunan kualitas air laut dapat memengaruhi pertumbuhan dan kestabilan plankton yang menjadi bagian penting dalam kegiatan pembenihan nener. Air yang masuk ke dalam tambak juga berpotensi membawa berbagai organisme dari alam, salah satunya adalah copepod. Apabila keberadaan copepod tidak dikendalikan, organisme tersebut dapat mengganggu keseimbangan pakan alami di dalam tambak.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh pembudidaya untuk mengatasi kondisi tersebut adalah menggunakan blue copper sebagai bahan untuk membantu menetralkan atau memperbaiki kualitas air. Penggunaan blue copper perlu dilakukan dengan hati-hati karena bahan yang mengandung tembaga dapat bersifat toksik bagi organisme perairan apabila digunakan secara berlebihan. Dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan kematian organisme non-target, termasuk fitoplankton, rotifera, dan bahkan nener. Residu tembaga juga berpotensi tertinggal di dasar tambak dan mengganggu kondisi perairan apabila penggunaannya terlalu sering.

Oleh karena itu, penggunaan blue copper tidak sebaiknya dijadikan sebagai satu-satunya cara untuk mengendalikan copepod atau memperbaiki kualitas air. Sebelum menggunakan bahan tersebut, pembudidaya perlu memperhatikan kandungan bahan aktif, dosis, cara aplikasi, dan petunjuk penggunaan pada label produk. Upaya pengendalian yang lebih aman dapat dilakukan melalui penyaringan air laut, pengendapan air sebelum digunakan, pengaturan pergantian air, serta pemantauan fitoplankton, rotifera, dan copepod secara berkala.