(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

KEGIATAN HDDAP DALAM BIMTEK GAP DAN PHT

Admin distankan | 21 September 2026 | 69 kali

Senin, 21 September 2026 Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Good Agricultural Practices (GAP) dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) bagi Pemandu Lapang dalam rangkaian kegiatan HDDAP. Kegiatan pada hari keenam diisi dengan materi dari perguruan tinggi, yaitu Universitas Panji Sakti, yang disampaikan oleh I Putu Parmila, dengan judul materi “Budidaya Sehat Tanaman Manggis.”

Pada sesi teori, peserta mendapatkan penjelasan mengenai teknik budidaya tanaman manggis yang sehat dan sesuai dengan prinsip GAP. Materi diawali dengan pembahasan mengenai kriteria lingkungan yang sesuai untuk tanaman manggis, meliputi ketinggian tempat, kondisi dan karakteristik tanah, pH tanah, serta kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai pemangkasan tanaman manggis, mulai dari tujuan pemangkasan, manfaat, hingga teknik pelaksanaannya. Dijelaskan pula mengenai pola percabangan tanaman manggis yang bersifat monopodial, sehingga pemangkasan perlu dilakukan dengan memperhatikan bentuk dan struktur tanaman agar pertumbuhan serta produktivitas tanaman dapat lebih optimal.

Dalam tahapan budidaya, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya pembumbunan, yang dianjurkan dilakukan pada awal musim hujan dan kembali dilakukan pada akhir musim hujan. Pembumbunan bertujuan untuk memperbaiki kondisi perakaran dan menjaga tanaman agar dapat tumbuh dengan baik.

Materi pemupukan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan. Pemupukan perlu memperhatikan prinsip 5T, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat sasaran. Untuk pemupukan dengan dosis yang tepat, penggunaan pupuk organik dianjurkan sebanyak 40–60 kg per pohon per tahun, sedangkan pupuk NPK diberikan sebanyak 1,5–2,5 kg per pohon per tahun dan dibagi dalam beberapa kali aplikasi. Pemberian dolomit dianjurkan sebanyak 1–2 kg per pohon per tahun, sedangkan boron diberikan sebanyak 25–50 gram per pohon per tahun.

Setelah memperoleh penjelasan secara teori, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Subak Abian yang berada di desa pucak sari. Peserta melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi lahan milik Nyoman Bukti dan mencatat berbagai parameter lingkungan serta kondisi tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lokasi lahan berada pada ketinggian 746 mdpl, dengan suhu sekitar 27°C, kelembaban udara 58%, kemiringan lahan 46°, pH tanah 6,7, dan kelembaban tanah sekitar 80%. Panjang kanopi tanaman yang diamati sekitar 1,88 meter, sedangkan lingkar batang mencapai 84 cm. Pada lahan tersebut terdapat tanaman manggis dengan umur sekitar 39 tahun dan 6 tahun.

Hasil pengamatan lapangan kemudian menjadi bahan diskusi peserta. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengidentifikasi permasalahan yang umum ditemukan di lahan, menyusun solusi dan alternatif tindakan yang dapat dilakukan, serta menyusun rencana kerja program. Hasil diskusi selanjutnya akan dipresentasikan oleh perwakilan masing-masing kelompok.

Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan beberapa permasalahan dalam praktik budidaya manggis di lapangan. Di antaranya adalah petani masih menggunakan bahan organik yang belum matang sebagai bahan pemupukan, belum melakukan pemeriksaan terhadap kandungan unsur hara dan pH tanah, serta kegiatan pemangkasan belum dilakukan secara rutin. Selain itu, pembumbunan belum dilakukan secara optimal sehingga pada beberapa tanaman masih terlihat akar yang muncul di permukaan tanah. Permasalahan lainnya adalah praktik pemanenan dan jarak tanam yang belum sepenuhnya sesuai dengan SOP.

Sebagai tindak lanjut dari permasalahan tersebut, peserta menyusun rencana program berupa pelaksanaan sekolah lapang dan edukasi mengenai tahapan budidaya tanaman manggis yang sesuai dengan prinsip GAP. Melalui kegiatan tersebut diharapkan petani dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai teknik budidaya manggis yang sehat, mulai dari pengelolaan tanah, pemupukan, pemangkasan, pembumbunan, pemeliharaan tanaman, hingga pemanenan sesuai standar yang dianjurkan.

Kegiatan Bimbingan Teknis GAP dan PHT hari keenam ini tidak hanya memberikan pengetahuan secara teori, tetapi juga memberikan pengalaman kepada peserta untuk melakukan pengamatan langsung, mengidentifikasi permasalahan di lapangan, serta menyusun solusi dan rencana tindak lanjut yang dapat diterapkan dalam pendampingan petani. Dengan demikian, pemandu lapang diharapkan mampu meneruskan pengetahuan dan praktik budidaya yang tepat kepada petani dalam rangka mendukung peningkatan kualitas dan produktivitas tanaman manggis.