Gerokgak - Bertempat di ruang rapat Kantor Camat Gerokgak, telah dilaksanakan Forum Konsultasi Publik mengenai Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kawasan Terpadu Batuampar, hasil Kerjasama antara Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng dengan Universitas Pendidikan Ganesha. Forum dihadiri oleh Sekretariat Kelompok Kerja KLHS Kab. Buleleng Tahun 2026, Kepala Pusdal Lingkungan Hidup Bali Nusra, Kepala Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Perikanan Gondol, Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat, Camat Gerokgak, dan Perbekel 4 Desa di Kawasan Terpadu Batuampar.
Kajian Lingkungan Hidup Strategis adalah proses analisis yang teratur dan menyeluruh untuk memastikan prinsip pembangunan yang aman bagi lingkungan sudah masuk ke dalam kebijakan, rencana, atau program pembangunan suatu wilayah. Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Terpadu Batuampar merupakan bagian penting untuk memastikan bahwa arah struktur ruang, pola ruang, ketentuan pemanfaatan ruang, dan program pembangunan Kawasan telah mempertimbangkan prinsip pembangunan berkelanjutan sejak tahap perencanaan. KLHS RDTR Kawasan Terpadu Batuampar meliputi empat desa, yaitu Desa Sumber Klampok, Desa Pejarakan, Desa Sumberkima, dan Desa Pemuteran dengan luas keseluruhan 4.555,46 hektare. Kawasan Terpadu Batuampar berhadapan langsung dengan Laut Bali, berdekatan dengan Kawasan konservasi, lahan pertanian dan perkebunan, serta infrastruktur transportasi dan kegiatan pariwisata, sehingga Kawasan Batuampar menjadi Kawasan fungsi ekonomi sekaligus ekologi.
Kawasan Batuampar didominasi oleh lanskap agrikultur mencapai 61,22% dari total Kawasan, meliputi pertanian lahan kering seluas 2.225 Ha dan lahan sawah seluas 527 Ha. Pembangunan Kawasan tentu menimbulkan potensi permasalahan di kemudian hari. Hasil konsultasi publik awal telah memetakan 52 isu atau permasalahan. Isu bidang pertanian dan pangan teridentifikasi diantaranya isu kemandirian dan ketahanan pangan, alih fungsi dan kerentanan keberlanjutan lahan pertanian produktif, penurunan produktivitas pertanian, dan pemerataan ketersediaan sumber daya air. Dari 52 isu, selanjutnya dilaksanakan sintesa pengelompokan isu menjadi 30 isu, berdasarkan pengelompokan (shortlist) isu. Dari 30 isu strategis, dilaksanakan keterkaitan antar isu sehingga menghasilkan 15 isu pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya dilaksanakan penapisan isu sehingga menghasilkan 7 isu pembangunan berkelanjutan paling strategis. Untuk sektor pertanian, ketahanan pangan dan perikanan, terdapat 2 isu pembangunan berkelanjutan paling strategis, yaitu:
1. Peningkatan alih fungsi lahan dan tekanan pemanfaatan ruang akibat pengembangan Kawasan Terpadu Batuampar
2. Keterbatasan kuantitas, kualitas dan pemerataan ketersediaan sumber daya air.
Kecamatan Gerokgak memiliki potensi yang besar di bidang hortikultura, dengan komoditas strategis seperti cabai dan palawija dengan produksi jagungnya, serta potensi peternakan khususnya sapi, sebagai pusat pembibitan Sapi Bali Unggul. Kecamatan Gerokgak khususnya Kawasan Batuampar memiliki anomali cuaca yang cukup unik, yaitu curah hujan tinggi namun sumber daya air bawah tanah yang sedikit, bahkan tergolong debit air langka.
Atas isu Pembangunan Berkelanjutan Paling Strategis tersebut, perlu dilaksanakan kajian secara komprehensif, menghitung potensi risiko yang mungkin terjadi, dalam rangka pembangunan Kawasan pembangunan berkelanjutan, maka selanjutnya akan dilaksanakan pertemuan – pertemuan dengan seluruh stakeholder guna menghasilkan output dokumen KLHS yang komprehensif, sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.