Denpasar - Selasa, 15 September 2026 Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menghadiri seminar yang diselenggarakan sejalan dengan kunjungan delegasi Denmark yang mewakili industri peternakan babi dan daging babi ke Indonesia. Dalam kesempatan ini seminar dihadiri oleh Sekretaris Distankan Drh. Ni Luh Putu Prima Diantari Wati beserta staf Perencana. Seminar ini bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan, keahlian, dan pengalaman dalam pengembangan industri peternakan babi dan daging babi yang produktif, berdaya saing, serta berkelanjutan di Indonesia.
Opening Remarks By Royal Danish Embassy, Mr. Hans Ebbensgaard Murillo, Minister Counsellor Food, Agriculture and Fisheries
Pada kesempata ini, Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia mengemukakan bahwa beliau berharap dapat menjalin kerjasama yang baik antara Indonesia dan Denmark, salah satunya Bali dalam peternakan babi dan produksi daging babi. Sebagaimana disebutkan bahwa Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan kebutuhan akan babi yang cukup besar. Di Bali, babi tidak hanya dibutuhkan untuk konsumsi, namun juga dibutuhkan pada acara tertentu yang berkaitan dengan budaya, seperti hari-hari suci keagamaan. Berdasarkan hal tersebut, Bapak Hans mengemukakan bahwa ini akan menjadi kerjasama yang baik dalam pengembangan ternak babi di Bali, dengan menyesuaikan lingkungan dan budaya Bali.
Opening and Keynote Speech by Ministry of Agriculture, drh. Hendra Wibawa, M.Si., Ph.D., Director of Animal Health
Direktur Kesehatan Masyarakat
Veteriner menyampaikan bahwa babi memiliki peran yang sangat mendalam dalam
kebudayaan dan tradisi Bali, mulai dari upakara/panca yadnya hingga sajian
kuliner seperti babi guling.
Babi rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit, serta dapat bertindak sebagai host amplifier (inang pembawa/pengembangbiak virus):
Kehadiran wabah African Swine Fever (ASF) sejak
akhir 2019 memberikan pukulan telak, baik bagi stabilitas ekonomi peternak maupun
keberlangsungan pasokan untuk kebutuhan adat. ASF menyebabkan penurunan
populasi dari 690 ribu ekor, populasi babi di Bali merosot tajam hingga tersisa
398 ribu ekor.
Dampak ASF:
Faktor-Faktor Penyebab/Peluang Penularan :
a. Lalu lintas perdagangan/perpindahan babi yang kurang terkontrol
b. Pemberian pakan swill/limbah: Memanfaatkan sisa makanan/limbah dari rumah tangga, hotel, dan restoran tanpa pengolahan yang tepat
c. Penerapan biosekuriti yang masih rendah di tingkat peternak
d. Pasar hewan hidup : Menjadi tempat berkumpulnya ternak dari berbagai wilayah, sehingga memperbesar peluang penularan penyakit.
Strategi
Penanganan & Pengendalian
A.
Vaksinasi
·Vaksinasi
ASF secara resmi belum diedarkan karena belum lulus uji edar/masih menunggu
hasil pemeriksaan teknis.
·Namun,
untuk situasi emergency (darurat), penggunaan vaksin masih dimungkinkan
sesuai ketentuan.
B.
Penguatan Biosekuriti
·Melakukan
Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada para pelaku usaha dan peternak.
·Meminta
seluruh instansi/lembaga terkait berperan aktif dalam upaya pencegahan.
C.
Pengendalian Lalu Lintas (Control Movement)
·Memperketat
dan mengendalikan perpindahan hewan antarwilayah.
D.
Pendekatan Berdasarkan Skala Skala Peternakan
·Skala Menengah & Komersial:
Pembelajaran dari Luar Negeri & Arah Pembaharuan
(Studi Kasus: Denmark)
·Komparasi
(Denmark): Denmark berhasil membangun peternakan babi yang berdaya saing tinggi
dan mampu mengekspor secara global melalui:
o Penggunaan teknologi modern.
o Sistem pembibitan unggul.
o Jaminan keamanan pangan (food
safety) yang ketat.
·Rekomendasi
untuk Bali: Adopsi teknologi dan sistem peternakan babi modern yang disesuaikan dengan kondisi lokal, kebudayaan, dan daya dukung yang ada di Bali.