(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

DANISH SEMINAR ON PIG FARMING AND PORK SECTOR STRENGTHENING BALI’S PIG AND PORK INDUSTRY: LEARNING FROM DENMARK’S GLOBAL LEADERSHIP IN PIG FARMING AND PORK PRODUCTION

Admin distankan | 15 September 2026 | 98 kali

Denpasar - Selasa, 15 September 2026 Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menghadiri seminar yang diselenggarakan sejalan dengan kunjungan delegasi Denmark yang mewakili industri peternakan babi dan daging babi ke Indonesia. Dalam kesempatan ini seminar dihadiri oleh Sekretaris Distankan Drh. Ni Luh Putu Prima Diantari Wati beserta staf Perencana. Seminar ini bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan, keahlian, dan pengalaman dalam pengembangan industri peternakan babi dan daging babi yang produktif, berdaya saing, serta berkelanjutan di Indonesia.

 Opening Remarks By Royal Danish Embassy, Mr. Hans Ebbensgaard Murillo, Minister Counsellor Food, Agriculture and Fisheries

Pada kesempata ini, Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia mengemukakan bahwa beliau berharap dapat menjalin kerjasama yang baik antara Indonesia dan Denmark, salah satunya Bali dalam peternakan babi dan produksi daging babi. Sebagaimana disebutkan bahwa Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan kebutuhan akan babi yang cukup besar. Di Bali, babi tidak hanya dibutuhkan untuk konsumsi, namun juga dibutuhkan pada acara tertentu yang berkaitan dengan budaya, seperti hari-hari suci keagamaan. Berdasarkan hal tersebut, Bapak Hans mengemukakan bahwa ini akan menjadi kerjasama yang baik dalam pengembangan ternak babi di Bali, dengan menyesuaikan lingkungan dan budaya Bali. 

Opening and Keynote Speech by Ministry of Agriculture, drh. Hendra Wibawa, M.Si., Ph.D., Director of Animal Health

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner menyampaikan bahwa babi memiliki peran yang sangat mendalam dalam kebudayaan dan tradisi Bali, mulai dari upakara/panca yadnya hingga sajian kuliner seperti babi guling.

Babi rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit, serta dapat bertindak sebagai host amplifier (inang pembawa/pengembangbiak virus):


1. ASF (African Swine Fever/Demam Babi Afrika)

2. Hog Cholera

3. PRRS (Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome)

4. Infeksi Virus Lainnya

5. Brucella suis

6. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

7. Trikinela (Trichinella)

Kehadiran wabah African Swine Fever (ASF) sejak akhir 2019 memberikan pukulan telak, baik bagi stabilitas ekonomi peternak maupun keberlangsungan pasokan untuk kebutuhan adat. ASF menyebabkan penurunan populasi dari 690 ribu ekor, populasi babi di Bali merosot tajam hingga tersisa 398 ribu ekor.

      Dampak ASF:


1. Sangat menular dan mematikan pada babi domestik

2. Tidak menular pada manusia (bukan zoonosis)

3. Menyebabkan kematian babi dalam jumlah besar yang berdampak signifikan pada ekonomi dan memicu kenaikan harga daging babi

Faktor-Faktor Penyebab/Peluang Penularan :


a. Lalu lintas perdagangan/perpindahan babi yang kurang terkontrol

b. Pemberian pakan swill/limbah: Memanfaatkan sisa makanan/limbah dari rumah tangga, hotel, dan restoran tanpa pengolahan yang tepat

c. Penerapan biosekuriti yang masih rendah di tingkat peternak

d. Pasar hewan hidup : Menjadi tempat berkumpulnya ternak dari berbagai wilayah, sehingga memperbesar peluang penularan penyakit.

Strategi Penanganan & Pengendalian

      A. Vaksinasi

·Vaksinasi ASF secara resmi belum diedarkan karena belum lulus uji edar/masih menunggu hasil pemeriksaan teknis.

·Namun, untuk situasi emergency (darurat), penggunaan vaksin masih dimungkinkan sesuai ketentuan.

      B. Penguatan Biosekuriti

·Melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada para pelaku usaha dan peternak.

·Meminta seluruh instansi/lembaga terkait berperan aktif dalam upaya pencegahan.

      C. Pengendalian Lalu Lintas (Control Movement)

·Memperketat dan mengendalikan perpindahan hewan antarwilayah.

      D. Pendekatan Berdasarkan Skala Skala Peternakan

·Skala Menengah & Komersial:


a. Pengujian rutin ASF

b. Sertfikat unit peternakan (farm) yang benar-benar bebas dari virus ASF

Pembelajaran dari Luar Negeri & Arah Pembaharuan (Studi Kasus: Denmark)

·Komparasi (Denmark): Denmark berhasil membangun peternakan babi yang berdaya saing tinggi dan mampu mengekspor secara global melalui:

o    Penggunaan teknologi modern.

o    Sistem pembibitan unggul.

o    Jaminan keamanan pangan (food safety) yang ketat.

·Rekomendasi untuk Bali: Adopsi teknologi dan sistem peternakan babi modern yang disesuaikan dengan kondisi lokal, kebudayaan, dan daya dukung yang ada di Bali.