Buleleng – Pengendalian Hama Terpadu (SL GAP-PHT) pada tanaman manggis dalam program HDDAP telah memasuki pertemuan ke-6 yang dilaksanakan pada hari Senin, 12 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan petani dalam menerapkan praktik budidaya manggis yang baik serta pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara tepat, efektif, dan ramah lingkungan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta untuk memastikan kehadiran petani sekaligus mendukung tertib administrasi dan kelengkapan dokumentasi pelaksanaan Sekolah Lapang. Seperti pada pertemuan sebelumnya, kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keceriaan dan kebersamaan. Para peserta bersama-sama menyerukan yel-yel khas kelompok tani yang membangkitkan semangat, mempererat kekompakan, serta menciptakan suasana positif sebelum memasuki sesi pembelajaran teknis.
Pada pertemuan kali ini, peserta mendapatkan pemaparan materi mengenai organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dengan fokus pada pengenalan dan pengendalian kutu putih serta thrips yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dan menurunkan kualitas buah manggis. Melalui penyampaian materi ini, petani diharapkan mampu mengenali gejala serangan, memahami karakteristik hama, serta mengetahui langkah-langkah pengendalian yang sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Pada sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, berbagi pengalaman, serta mengemukakan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan budidaya manggis, khususnya terkait keberadaan dan pengendalian kutu putih serta thrips di kebun. Melalui diskusi ini, peserta dapat memperdalam pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan sekaligus memperoleh penjelasan mengenai pentingnya pengamatan rutin, pengenalan gejala serangan sejak dini, serta pemilihan metode pengendalian yang sesuai dengan kondisi tanaman dan lingkungan kebun. Sesi ini juga menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi dan berbagi pengetahuan antarpetani sehingga pembelajaran dapat berlangsung lebih aktif.
Agenda selanjutnya adalah praktik pembuatan perangkap hama menggunakan yellow trap atau perangkap kuning. Dalam sesi praktik ini, peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai cara menyiapkan dan memanfaatkan perangkap kuning sebagai salah satu sarana pemantauan keberadaan OPT di kebun manggis. Melalui kegiatan praktik ini, petani diharapkan memahami fungsi perangkap kuning dalam membantu memantau keberadaan serangga hama, termasuk thrips, serta mengetahui bahwa penggunaannya perlu disertai pengamatan tanaman secara berkala dan penerapan metode pengendalian lainnya sesuai prinsip PHT.
Kegiatan SL GAP-PHT menjadi wadah pembelajaran partisipatif yang mendorong petani untuk aktif bertukar informasi, meningkatkan keterampilan, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh di lahan masing-masing. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani dalam melakukan pemantauan OPT dan menentukan tindakan pengendalian secara tepat, efektif, serta ramah lingkungan.
Pelaksanaan kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung keberhasilan program HDDAP, khususnya dalam meningkatkan kapasitas petani manggis untuk menghasilkan produk hortikultura yang berkualitas melalui penerapan Good Agricultural Practices dan prinsip Pengendalian Hama Terpadu secara konsisten dan berkelanjutan.