(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

DISTANKAN HADIRI BIMTEK GOOD AGRICULTURAL PRACTICES DAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU !!

Admin distankan | 14 September 2026 | 84 kali

Buleleng - Senin, 14 September 2026 telah dilaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Good Agricultural Practices (GAP) dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang diselenggarakan oleh Direktorat Hilirisasi Hasil Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian dan dihadiri oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Ir IGA Maya Kurnia, M.Si beserta staf. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 22 orang peserta yang terdiri atas penyuluh pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), DPIU dan Fasilitator.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, penyampaian materi, serta diskusi mengenai penerapan GAP dan PHT dalam mendukung peningkatan mutu, keamanan pangan, dan keberlanjutan usaha hortikultura. Dalam penyampaian materi dijelaskan bahwa penerapan GAP perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari persiapan lahan, pemilihan dan penanganan benih atau bahan tanam, proses budidaya, pemeliharaan tanaman, pengendalian OPT, penggunaan pupuk dan bahan kimia, hingga kegiatan panen dan pascapanen.

Penerapan GAP tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga bertujuan menghasilkan produk hortikultura yang bermutu, aman dikonsumsi, layak dipasarkan, serta memperhatikan kelestarian lingkungan dan keselamatan pekerja. Salah satu aspek yang ditekankan adalah penggunaan pestisida dan bahan kimia secara tepat, yaitu menggunakan bahan yang telah terdaftar dan diizinkan, sesuai dosis serta peruntukannya. Penggunaan, penyimpanan, dan pembuangan bahan kimia juga perlu dilakukan dengan benar serta didukung dengan pencatatan yang baik. Selain itu, lahan budidaya harus terhindar dari pencemaran, sedangkan peralatan panen dan pascapanen harus dijaga kebersihan dan kondisinya.

Dalam kegiatan ini juga dibahas mengenai titik kendali GAP, yaitu bagian-bagian penting dalam proses budidaya yang perlu diperhatikan dan dikendalikan untuk memastikan pemenuhan standar. Setiap proses perlu didukung dengan dokumentasi dan pencatatan, sehingga penerapan GAP dapat dipantau dan dievaluasi secara berkelanjutan.

Selain penyampaian materi secara teori, peserta mendapatkan penjelasan mengenai metode pembelajaran melalui Sekolah Lapang (SL). Sekolah Lapang dirancang dengan komposisi pembelajaran sekitar 40% teori dan 60% praktik, sehingga peserta diharapkan dapat memahami materi sekaligus menerapkannya secara langsung di lapangan. Metode pembelajaran yang akan digunakan meliputi diskusi kelompok, demonstrasi, studi kasus, pengamatan lapangan, serta praktik langsung.

Materi Sekolah Lapang mencakup konservasi lahan, penanganan benih, budidaya tanaman, pemupukan, pengendalian OPT, panen dan pascapanen, serta penerapan GAP. Dalam pelaksanaannya, peserta akan dibagi ke dalam 3 kelompok yang terdiri atas Penyuluh, POPT, DPIU dan Fasilitator. Peserta juga akan melakukan pengamatan terhadap kondisi kebun dan menilai penerapan GAP berdasarkan indikator yang telah ditentukan. Hasil pengamatan selanjutnya dapat dituangkan dalam bentuk checklist sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui bagian-bagian yang telah memenuhi standar maupun yang masih perlu diperbaiki.

Kegiatan juga membahas persiapan bahan ajar, pembagian kelompok, jadwal pembelajaran, serta dukungan tempat dan sarana praktik untuk pelaksanaan Sekolah Lapang. Selain aspek teknis, pembelajaran juga diarahkan untuk membangun kekompakan dan partisipasi peserta melalui diskusi kelompok serta kegiatan bersama. Evaluasi pembelajaran nantinya dapat dilakukan melalui kuesioner penilaian dan penyusunan laporan kegiatan Sekolah Lapang.

Secara keseluruhan, kegiatan Bimtek GAP dan PHT ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi penyuluh, POPT, DPIU dan fasilitator dalam memberikan pembinaan kepada petani. Pengetahuan yang diperoleh selanjutnya diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan melalui Sekolah Lapang, sehingga petani mampu menerapkan praktik budidaya yang baik, melakukan pengelolaan OPT secara terpadu, serta menghasilkan produk hortikultura yang bermutu, aman dikonsumsi, berdaya saing, dan berkelanjutan.