(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Hal-hal Penting dalam Pembuatan dan Aplikasi Pestisida Nabati

Admin distankan | 21 September 2026 | 1130 kali

Oleh :

I Gede Sila Adnyana, S.P.

( POPT Ahli Pertama Kecamatan Tejakula )

Pestisida nabati merupakan salah satu alternatif bahan pengendali organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang berasal dari bagian tanaman tertentu dan mengandung senyawa aktif yang mampu memengaruhi hama maupun patogen tanaman. Penggunaan pestisida nabati menjadi salah satu bagian dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sintetis. Meskipun berasal dari bahan alami, pengaplikasian pestisida nabati tetap memerlukan perhatian dan ketepatan agar bahan yang digunakan dapat memberikan hasil pengendalian secara optimal.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah ketepatan dalam pemilihan bahan tanaman. Tidak semua jenis tanaman dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati karena setiap tanaman memiliki kandungan senyawa aktif dan tingkat efektivitas yang berbeda. Beberapa bahan yang umum dimanfaatkan antara lain daun mimba atau intaran, bawang putih, serai, daun pepaya, dan tanaman lain yang memiliki senyawa bersifat insektisida, antifeedant, repellent, atau penghambat pertumbuhan serangga. Bahan yang digunakan sebaiknya berasal dari tanaman yang sehat, tidak tercemar, dan tidak menunjukkan gejala serangan penyakit.

Konsentrasi atau takaran bahan juga perlu diperhatikan dalam pembuatan pestisida nabati. Penggunaan konsentrasi yang terlalu rendah dapat menyebabkan daya kendali terhadap OPT kurang efektif, sedangkan konsentrasi yang terlalu tinggi berpotensi menimbulkan fitotoksisitas atau gangguan pada tanaman. Oleh karena itu, penggunaan takaran perlu disesuaikan dengan jenis bahan, jenis tanaman yang akan diaplikasikan, serta OPT sasaran. Pengujian terlebih dahulu pada sebagian kecil tanaman dapat dilakukan untuk mengetahui respons tanaman sebelum aplikasi dilakukan pada areal yang lebih luas.

Selain konsentrasi, proses pembuatan dan ekstraksi bahan sangat menentukan kualitas pestisida nabati. Bahan tanaman perlu dicuci apabila diperlukan, kemudian dicacah atau dihaluskan agar senyawa aktif lebih mudah terekstrak. Proses perendaman, perebusan, fermentasi, atau ekstraksi lainnya harus dilakukan sesuai karakteristik bahan yang digunakan. Penggunaan air yang bersih serta peralatan yang tidak tercemar bahan lain juga penting untuk menjaga kualitas larutan pestisida nabati yang dihasilkan.

Waktu aplikasi menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Pestisida nabati umumnya lebih mudah mengalami penurunan efektivitas apabila terkena hujan, sinar matahari yang terlalu kuat, atau kondisi lingkungan yang kurang sesuai. Aplikasi sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika kondisi cuaca relatif teduh dan tidak terdapat indikasi hujan dalam waktu dekat. Penentuan waktu aplikasi juga perlu disesuaikan dengan fase perkembangan OPT, terutama ketika hama masih berada pada stadia yang lebih mudah dikendalikan.

Dalam pelaksanaannya, ketepatan sasaran dan cara aplikasi harus diperhatikan agar bahan pengendali mengenai bagian tanaman yang menjadi tempat keberadaan OPT. Penyemprotan sebaiknya dilakukan secara merata pada bagian tanaman yang terserang, termasuk permukaan bawah daun apabila hama berada pada bagian tersebut. Penggunaan alat semprot yang bersih dan berfungsi dengan baik juga diperlukan untuk menghasilkan distribusi larutan yang merata. Aplikasi yang tidak tepat sasaran dapat menyebabkan bahan terbuang dan hasil pengendalian menjadi kurang maksimal.

Pestisida nabati juga perlu diperhatikan dari segi penyimpanan dan lama penggunaan. Sebagian besar pestisida nabati memiliki daya simpan yang relatif terbatas karena bahan aktifnya dapat mengalami perubahan atau penurunan efektivitas selama penyimpanan. Larutan yang telah dibuat sebaiknya digunakan dalam waktu yang tidak terlalu lama dan disimpan pada wadah yang bersih serta tertutup apabila masih diperlukan. Apabila terjadi perubahan warna, bau, atau kondisi fisik yang menunjukkan kerusakan bahan, larutan sebaiknya tidak digunakan pada tanaman.

Penggunaan pestisida nabati tetap harus memperhatikan keamanan bagi pengguna, tanaman, organisme bukan sasaran, dan lingkungan. Meskipun berasal dari bahan tumbuhan, senyawa aktif tertentu tetap dapat menimbulkan iritasi atau dampak lainnya apabila digunakan secara tidak tepat. Pengguna disarankan menggunakan alat pelindung diri yang sesuai selama proses pembuatan dan aplikasi, serta menghindari kontak langsung dengan larutan. Selain itu, aplikasi sebaiknya dilakukan secara selektif agar tidak mengganggu keberadaan musuh alami OPT seperti predator dan parasitoid yang berperan dalam pengendalian secara alami.

Pada akhirnya, penggunaan pestisida nabati sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu komponen dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan tidak dilakukan secara sembarangan hanya karena bahan yang digunakan berasal dari alam. Pengamatan rutin terhadap keberadaan dan perkembangan OPT tetap menjadi dasar dalam menentukan perlu atau tidaknya tindakan pengendalian. Penerapan sanitasi lahan, penggunaan varietas yang sesuai, pengaturan teknik budidaya, pemanfaatan musuh alami, serta metode pengendalian lainnya perlu dipadukan sesuai kondisi lapangan. Dengan memperhatikan pemilihan bahan, takaran, proses pembuatan, waktu dan cara aplikasi, serta aspek keamanan, pestisida nabati dapat dimanfaatkan secara lebih tepat guna dalam mendukung perlindungan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Setiawati, W., R. Murtiningsih, N. Gunaeni, dan T. Rubiati. 2008. Tumbuhan Bahan Pestisida Nabati dan Cara Pembuatannya untuk Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Amelia, R. (2024). Keefektifan Beberapa Ekstrak Pestisida Nabati terhadap Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Skala Greenhouse. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin.