(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Ujung Buah Tomat Membusuk: Memahami Blossom-End Rot dan Peran Vital Kalsium

Admin distankan | 23 Juli 2026 | 91 kali

Oleh: I Wayan Rusman, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda

Kecamatan Sawan

Bagi para petani sayuran khususnya petani tomat, melihat tanaman tomat tumbuh lebat dan mulai berbuah adalah momen yang paling dinantikan. Namun, rasa kecewa sering kali datang ketika buah muda yang awalnya hijau segar mendadak menunjukkan bercak cokelat kehitaman di bagian bawahnya. Bercak tersebut semakin lama semakin melebar, cekung, dan mengeras seperti kulit hingga menyebabkan buah membusuk sebelum sempat matang. Secara awam, fenomena ini kerap dianggap sebagai serangan jamur, bakteri, atau hama. Padahal, dugaan tersebut tidak tepat. Secara ilmiah, gangguan ini dikenal sebagai Blossom-End Rot (BER) atau busuk ujung buah yang merupakan sebuah gangguan fisiologis (abiotik) yang dipicu oleh defisiensi (kekurangan) kalsium pada jaringan buah.

Peran Vital Kalsium pada Dinding Sel Tomat

Kalsium merupakan unsur hara makro sekunder yang berfungsi layaknya "semen" bagi struktur dinding sel. Unsur ini berikatan dengan asam pektat membentuk calcium pectate pada lamela tengah (middle lamella). Ikatan ini memberikan kekakuan, elastisitas, dan kekuatan mekanis pada sel-sel buah yang sedang mengalami pembesaran pesat. Selain itu, kalsium berperan penting dalam menjaga integritas membran sel. Ketika pasokan kalsium terhambat pada saat buah muda berkembang maka akan menyebabkan:

1.        Kerusakan Membran: Membran sel gagal terbentuk secara sempurna dan menjadi "bocor" (leaky).

2.        Kebocoran Cairan Sel: Cairan intraseluler merembes keluar menuju ruang antarsel.

3.        Kematian Jaringan (Nekrosis): Sel-sel di area distal (ujung buah) hancur, mengering, mati, dan berubah warna menjadi cokelat kehitaman.

Paradoks Kalsium: Mengapa buah kekurangan meski tanah cukup kalsium?

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa Blossom-End Rot jarang disebabkan oleh ketiadaan kalsium di dalam tanah. Sering kali, kalsium melimpah di media tanam, tetapi gagal diangkut menuju buah. Fenomena ini dikenal sebagai Paradoks Kalsium. Beberapa mekanisme fisiologis yang memicu kegagalan pasokan kalsium meliputi:

1.        Sifat Imobilitas Kalsium

Kalsium diangkut secara pasif dari akar melalui pembuluh xilem bersama aliran air yang ditarik oleh proses transpirasi (penguapan). Begitu kalsium sampai di suatu organ (seperti daun), unsur ini bersifat imobil artinya tidak dapat dipindahkan kembali (retranslocated) melalui pembuluh floem ke organ lain seperti buah.

2.        Persaingan Transpirasi Antara Daun dan Buah

Daun memiliki jumlah stomata yang jauh lebih banyak dibanding buah, sehingga laju penguapan air di daun sangat dominan. Akibatnya, sebagian besar aliran xilem yang membawa kalsium terdorong menuju daun, sementara buah muda hanya mendapatkan porsi yang sangat kecil.

3.        Fluktuasi Irigasi (Stres Air)

Kondisi tanah yang mendadak kering lalu sangat basah mengganggu arus transpirasi. Saat tanah kering, penyaluran air dan kalsium terhenti seketika. Pada fase perkembangan buah muda, terputusnya pasokan kalsium dalam hitungan hari saja sudah cukup untuk memicu kematian jaringan seluler secara permanen.

4. Antagonisme Kation di Area Perakaran

Penyerapan kalsium (kation) oleh akar bersaing langsung dengan ion positif lainnya. Pengaplikasian pupuk berlebih yang mengandung Kalium, Magnesium, atau Nitrogen berbasis Amonium dapat menekan kemampuan akar dalam menyerap kalsium.

Strategi Pencegahan Blossom-End Rot

Langkah pencegahan dan pengendalian yang efektif harus berfokus pada manajemen irigasi dan nutrisi seperti:

1.     Penyiraman Konsisten: Terapkan pola irigasi yang teratur dan gunakan mulsa (organik maupun plastik) di permukaan tanah untuk menekan penguapan ekstrem serta menjaga kelembapan tanah tetap stabil.

2.     Keseimbangan Pemupukan: Batasi penggunaan pupuk amonium saat fase pembuahan dan beralih ke sumber nitrogen berbasis nitrat. Imbangi rasio pemupukan agar konsentrasi Kalium dan Magnesium tidak mendominasi.

3.     Aplikasi Kalsium Larut Air: Berikan kalsium nitrat melalui pengocoran akar atau penyemprotan foliar secara berkala sejak awal fase pembungaan dan pembentukan buah muda.

4.     Optimalisasi pH Tanah: Pastikan pH media tanam berada di kisaran ideal 6,0 - 6,8. Pada kondisi tanah yang terlalu asam, ion kalsium menjadi terikat dan sulit diserap oleh akar.

Daftar Referensi:

Onggo, T. M., Sumadi, S., & Fauziah, R. (2015). Pertumbuhan, hasil dan kualitas tomat cv. Marta-9 pada berbagai sistem budidaya dalam rumah plastik di dataran medium Jatinangor. Kultivasi, 14(1), 37–42.

Pertiwi, N. P., Setyorini, T., & Mawandha, H. G. (2020). Pengaruh hara kalsium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) varietas Permata. AGROISTA: Jurnal Agroteknologi, 4(2), 47–55.

Setiawan, R., Ulpah, S., & Baharuddin, R. (2021). Pengaruh serbuk cangkang telur ayam dan pupuk NPK 16:16:16 terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.). Dinamika Pertanian, 35(3), 143–150.