Oleh: I Wayan Rusman, S.P.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda
Kecamatan Sawan
Bagi para petani sayuran khususnya petani tomat, melihat tanaman tomat tumbuh lebat dan mulai berbuah adalah momen yang paling dinantikan. Namun, rasa kecewa sering kali datang ketika buah muda yang awalnya hijau segar mendadak menunjukkan bercak cokelat kehitaman di bagian bawahnya. Bercak tersebut semakin lama semakin melebar, cekung, dan mengeras seperti kulit hingga menyebabkan buah membusuk sebelum sempat matang. Secara awam, fenomena ini kerap dianggap sebagai serangan jamur, bakteri, atau hama. Padahal, dugaan tersebut tidak tepat. Secara ilmiah, gangguan ini dikenal sebagai Blossom-End Rot (BER) atau busuk ujung buah yang merupakan sebuah gangguan fisiologis (abiotik) yang dipicu oleh defisiensi (kekurangan) kalsium pada jaringan buah.
Kalsium merupakan
unsur hara makro sekunder yang berfungsi layaknya "semen" bagi
struktur dinding sel. Unsur ini berikatan dengan asam pektat membentuk calcium
pectate pada lamela tengah (middle lamella). Ikatan ini memberikan
kekakuan, elastisitas, dan kekuatan mekanis pada sel-sel buah yang sedang mengalami
pembesaran pesat. Selain itu, kalsium berperan penting dalam menjaga integritas
membran sel. Ketika pasokan kalsium terhambat pada saat buah muda berkembang
maka akan menyebabkan:
1.
Kerusakan
Membran: Membran sel gagal terbentuk secara sempurna dan menjadi
"bocor" (leaky).
2.
Kebocoran
Cairan Sel: Cairan intraseluler merembes keluar menuju ruang antarsel.
3. Kematian Jaringan (Nekrosis): Sel-sel di area distal (ujung buah) hancur, mengering, mati, dan berubah warna menjadi cokelat kehitaman.
Kalsium
diangkut secara pasif dari akar melalui pembuluh xilem bersama aliran air yang
ditarik oleh proses transpirasi (penguapan). Begitu kalsium sampai di suatu
organ (seperti daun), unsur ini bersifat imobil artinya tidak dapat dipindahkan
kembali (retranslocated) melalui pembuluh floem ke organ lain seperti
buah.
Daun memiliki
jumlah stomata yang jauh lebih banyak dibanding buah, sehingga laju penguapan
air di daun sangat dominan. Akibatnya, sebagian besar aliran xilem yang membawa
kalsium terdorong menuju daun, sementara buah muda hanya mendapatkan porsi yang
sangat kecil.
Kondisi
tanah yang mendadak kering lalu sangat basah mengganggu arus transpirasi. Saat
tanah kering, penyaluran air dan kalsium terhenti seketika. Pada fase
perkembangan buah muda, terputusnya pasokan kalsium dalam hitungan hari saja
sudah cukup untuk memicu kematian jaringan seluler secara permanen.
Penyerapan kalsium (kation) oleh akar bersaing langsung dengan ion positif lainnya. Pengaplikasian pupuk berlebih yang mengandung Kalium, Magnesium, atau Nitrogen berbasis Amonium dapat menekan kemampuan akar dalam menyerap kalsium.
Langkah pencegahan dan pengendalian yang efektif harus berfokus
pada manajemen irigasi dan nutrisi seperti:
1. Penyiraman Konsisten: Terapkan pola
irigasi yang teratur dan gunakan mulsa (organik maupun plastik) di permukaan
tanah untuk menekan penguapan ekstrem serta menjaga kelembapan tanah tetap
stabil.
2. Keseimbangan Pemupukan: Batasi
penggunaan pupuk amonium saat fase pembuahan dan beralih ke sumber nitrogen
berbasis nitrat. Imbangi rasio pemupukan agar konsentrasi Kalium dan Magnesium
tidak mendominasi.
3. Aplikasi Kalsium Larut Air: Berikan
kalsium nitrat melalui pengocoran akar atau penyemprotan foliar secara berkala
sejak awal fase pembungaan dan pembentukan buah muda.
4. Optimalisasi pH Tanah: Pastikan pH media tanam berada di kisaran ideal 6,0 - 6,8. Pada kondisi tanah yang terlalu asam, ion kalsium menjadi terikat dan sulit diserap oleh akar.
Daftar
Referensi:
Onggo, T. M., Sumadi, S.,
& Fauziah, R. (2015). Pertumbuhan, hasil dan kualitas tomat cv. Marta-9
pada berbagai sistem budidaya dalam rumah plastik di dataran medium Jatinangor.
Kultivasi, 14(1), 37–42.
Pertiwi, N. P., Setyorini,
T., & Mawandha, H. G. (2020). Pengaruh hara kalsium terhadap pertumbuhan
dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) varietas
Permata. AGROISTA: Jurnal Agroteknologi, 4(2), 47–55.
Setiawan, R., Ulpah, S., & Baharuddin, R.
(2021). Pengaruh serbuk cangkang telur ayam dan pupuk NPK 16:16:16 terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.). Dinamika
Pertanian, 35(3), 143–150.