(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Menjaga Laut Buleleng: Ketika Jukung, Nelayan, dan Kearifan Lokal Menjadi Bagian dari Perikanan Tangkap

Admin distankan | 28 September 2026 | 312 kali

Oleh: Galih Dandung Akbar Gumala, S.Pi

Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Pertama


Di sepanjang pesisir utara Bali, aktivitas melaut bukan sekadar kegiatan ekonomi. Bagi masyarakat pesisir Buleleng, laut merupakan ruang kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap pagi, perahu-perahu nelayan mulai bergerak meninggalkan pantai. Sebagian menggunakan mesin, sementara tradisi perahu kecil atau jukung masih menjadi bagian dari wajah perikanan pesisir Buleleng.

Di balik aktivitas tersebut terdapat pengetahuan lokal mengenai laut: membaca kondisi angin, mengenali perubahan gelombang, menentukan waktu melaut, hingga memahami lokasi ikan berdasarkan pengalaman yang diwariskan antargenerasi. Inilah salah satu sisi penting perikanan tangkap Buleleng yang tidak selalu terlihat dalam angka produksi.

Perikanan tangkap Buleleng terus menjadi bagian penting ekonomi pesisir

Data statistik Kabupaten Buleleng untuk tahun 2025 dikompilasi oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan sebagai bagian dari kegiatan pengumpulan data perikanan tahunan. Variabel produksi perikanan tangkap dihitung dalam satuan ton dan mencakup periode Januari–Desember.

Dalam pemberitaan tahun 2026, produksi perikanan tangkap Buleleng berdasarkan data 2025 disebut hampir mencapai 54 ribu ton. Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas penangkapan ikan di wilayah Buleleng.

Besarnya produksi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga agar kegiatan penangkapan tidak hanya menghasilkan ikan hari ini, tetapi juga mempertahankan sumber daya ikan untuk masa mendatang.

Jukung, perahu kecil yang menyimpan cerita panjang

Salah satu hal yang menarik dari perikanan pesisir Buleleng adalah keberadaan jukung. Jukung merupakan perahu tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Bali. Bentuknya relatif kecil dan ramping, dengan konstruksi yang memungkinkan nelayan melakukan aktivitas penangkapan di perairan pesisir. Jukung tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi menuju lokasi penangkapan. Bagi masyarakat pesisir, jukung juga menjadi bagian dari identitas kehidupan nelayan.

Di Buleleng, penggunaan jukung masih dapat ditemukan dalam aktivitas kelompok nelayan. Dalam pembinaan KUB di Desa Penuktukan, Tejakula, misalnya, DKPP mencatat penggunaan jukung berukuran sekitar 5,75–7,5 meter, bersama alat tangkap sederhana seperti pancing, jaring walang, dan jaring cumi.

Menariknya, jukung juga masih mendapatkan ruang dalam kegiatan budaya dan sosial masyarakat pesisir. Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Buleleng menyelenggarakan Lomba Perahu Layar dalam rangka Lovina Festival, dengan peserta dari kelompok usaha nelayan dan masyarakat pesisir binaan DKPP.

Dengan demikian, jukung dapat dilihat bukan hanya sebagai sarana produksi, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya maritim masyarakat Buleleng.

Bentuk jukung menyesuaikan kebutuhan nelayan

Jukung tradisional memiliki karakter yang berbeda dengan kapal penangkap ikan berukuran besar. Ukurannya yang relatif kecil membuatnya lebih sesuai untuk kegiatan penangkapan tertentu di perairan pesisir. Pada praktiknya, jukung dapat dipadukan dengan mesin sehingga nelayan tidak sepenuhnya bergantung pada tenaga layar atau dayung.

Di Penuktukan, Tejakula, misalnya, jukung yang digunakan kelompok nelayan memiliki panjang sekitar 5,75–7,5 meter. Kelompok tersebut menggunakan pancing, jaring walang, dan jaring cumi sebagai sarana penangkapan.

Data lapangan tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana teknologi tradisional tidak selalu berarti teknologi yang sepenuhnya ditinggalkan. Jukung justru dapat beradaptasi dengan teknologi modern, misalnya melalui penggunaan mesin. Artinya, modernisasi perikanan tidak selalu harus menghilangkan bentuk tradisional. Dalam kondisi tertentu, teknologi baru justru dapat digunakan untuk memperkuat sarana tradisional yang sudah dikenal masyarakat.

Pengetahuan lokal menjadi modal nelayan

Seorang nelayan tidak hanya mengandalkan alat tangkap.Pengetahuan mengenai laut juga menjadi modal penting.Nelayan belajar mengenali perubahan kondisi perairan melalui pengalaman. Arah angin, gelombang, musim, lokasi ikan, hingga kondisi tertentu yang menunjukkan apakah laut aman untuk dilayari menjadi bagian dari pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman panjang.

Pengetahuan semacam ini sering kali bersifat praktis dan diwariskan melalui interaksi antara generasi yang lebih tua dan generasi berikutnya. Karena itu, ketika membicarakan modernisasi perikanan, pengetahuan lokal tidak seharusnya diposisikan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan teknologi.

Informasi cuaca dan teknologi navigasi dapat membantu meningkatkan keselamatan, sementara pengalaman nelayan tetap menjadi sumber pengetahuan mengenai karakter perairan setempat.

Dari jukung menuju perikanan yang lebih modern

Perubahan teknologi sudah mulai terlihat dalam aktivitas nelayan Buleleng.Selain jukung dan alat tangkap sederhana, kelompok nelayan juga mendapatkan dukungan berupa mesin, alat tangkap, penguatan kelembagaan, hingga pembinaan usaha.Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan perikanan tangkap tidak hanya berbicara mengenai kapal dan alat tangkap. Kelembagaan, pemasaran, bahan bakar, legalitas, dan perlindungan nelayan juga menjadi bagian dari sistem perikanan.

Jukung juga menghadapi tantangan ruang pesisir

Di balik keberadaan jukung sebagai simbol budaya pesisir, terdapat persoalan nyata yang dihadapi nelayan. Dalam pembinaan KUB Sari Segara dan KUB Widya Mina di Penuktukan, nelayan menyampaikan persoalan mengenai keterbatasan lokasi untuk menambatkan jukung di kawasan pesisir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lokasi tambat merupakan bagian penting dari keberlangsungan aktivitas nelayan.

Persoalan ini memperlihatkan bahwa menjaga budaya maritim tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk perahu. Jika ruang untuk menambatkan jukung semakin terbatas, aktivitas nelayan juga dapat terganggu.Dengan demikian, pelestarian budaya maritim membutuhkan ruang hidup bagi masyarakat yang menjalankannya.

Ketika jukung bukan sekadar perahu

Di tengah perkembangan teknologi perikanan, jukung mungkin terlihat sederhana dibandingkan kapal modern.Namun kesederhanaan tersebut justru menyimpan nilai penting.

Jukung memperlihatkan hubungan antara masyarakat dengan laut yang terbentuk dalam waktu panjang. Ia menjadi sarana mencari ikan, bagian dari kehidupan keluarga nelayan, sekaligus simbol aktivitas masyarakat pesisir  Ketika sebuah jukung berangkat ke laut, yang bergerak bukan hanya sebuah perahu.

Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai laut, keterampilan menangkap ikan, pengalaman membaca cuaca, serta tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menjaga laut berarti menjaga pengetahuan yang hidup di dalamnya

Produksi perikanan tangkap Buleleng yang tinggi menunjukkan bahwa laut memiliki peran penting bagi perekonomian daerah. Namun keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak ikan yang berhasil ditangkap.

Keberlanjutan juga bergantung pada bagaimana sumber daya ikan dikelola, bagaimana ekosistem dijaga, bagaimana nelayan memperoleh akses terhadap sarana produksi, serta bagaimana pengetahuan lokal tetap dipertahankan. Karena itu, masa depan perikanan Buleleng tidak harus memilih antara tradisional atau modern.

Jukung dapat tetap menjadi bagian dari identitas pesisir, sementara mesin, informasi cuaca, teknologi navigasi, pencatatan hasil tangkapan, dan penguatan kelembagaan dapat digunakan untuk meningkatkan keselamatan dan produktivitas yang perlu dijaga adalah keseimbangannya.

 

Laut tetap menjadi sumber kehidupan, jukung tetap menjadi bagian dari identitas pesisir, dan teknologi hadir untuk membantu nelayan beradaptasi dengan perubahan zaman.

 

Referensi

  1. Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng. (2025). Kompilasi Data Perikanan Kabupaten Buleleng Tahun 2025. Data statistik produksi perikanan tangkap.
  2. Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng. (2025). Monitoring Aktivitas Nelayan Penangkap Ikan. 27 Januari 2025.
  3. Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng. (2025). Pembinaan Pelaku Usaha Perikanan kepada Kelompok Nelayan. 10 Juli 2025.
  4. Pemerintah Kabupaten Buleleng. (2025). Lomba Perahu Layar Bakal Meriahkan Lovina Festival 2025. 15 Juli 2025.
  5. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng. (2026). Pembinaan KUB Sari Segara dan KUB Widya Mina Desa Penuktukan, Tejakula. Data kegiatan memuat ukuran jukung, alat tangkap, hasil tangkapan, dan perkembangan sarana kelompok.

Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng. Renstra DKPP Kabupaten Buleleng 2023–2026.