Oleh: Galih Dandung Akbar Gumala, S.Pi
Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Pertama
Di sepanjang pesisir utara Bali, aktivitas melaut
bukan sekadar kegiatan ekonomi. Bagi masyarakat pesisir Buleleng, laut
merupakan ruang kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap
pagi, perahu-perahu nelayan mulai bergerak meninggalkan pantai. Sebagian
menggunakan mesin, sementara tradisi perahu kecil atau jukung masih menjadi
bagian dari wajah perikanan pesisir Buleleng.
Di balik aktivitas tersebut terdapat pengetahuan
lokal mengenai laut: membaca kondisi angin, mengenali perubahan gelombang,
menentukan waktu melaut, hingga memahami lokasi ikan berdasarkan pengalaman
yang diwariskan antargenerasi. Inilah salah satu sisi penting perikanan tangkap
Buleleng yang tidak selalu terlihat dalam angka produksi.
Perikanan tangkap Buleleng terus menjadi
bagian penting ekonomi pesisir
Data statistik Kabupaten Buleleng untuk tahun
2025 dikompilasi oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan sebagai bagian dari
kegiatan pengumpulan data perikanan tahunan. Variabel produksi perikanan
tangkap dihitung dalam satuan ton dan mencakup periode Januari–Desember.
Dalam pemberitaan tahun 2026, produksi perikanan
tangkap Buleleng berdasarkan data 2025 disebut hampir mencapai 54 ribu ton.
Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas penangkapan ikan di wilayah
Buleleng.
Besarnya produksi tersebut sekaligus menunjukkan
pentingnya menjaga agar kegiatan penangkapan tidak hanya menghasilkan ikan hari
ini, tetapi juga mempertahankan sumber daya ikan untuk masa mendatang.
Jukung, perahu kecil yang menyimpan
cerita panjang
Salah satu hal yang menarik dari perikanan
pesisir Buleleng adalah keberadaan jukung. Jukung merupakan perahu tradisional
yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Bali.
Bentuknya relatif kecil dan ramping, dengan konstruksi yang memungkinkan
nelayan melakukan aktivitas penangkapan di perairan pesisir. Jukung tidak hanya
berfungsi sebagai alat transportasi menuju lokasi penangkapan. Bagi masyarakat
pesisir, jukung juga menjadi bagian dari identitas kehidupan nelayan.
Di Buleleng, penggunaan jukung masih dapat
ditemukan dalam aktivitas kelompok nelayan. Dalam pembinaan KUB di Desa
Penuktukan, Tejakula, misalnya, DKPP mencatat penggunaan jukung berukuran
sekitar 5,75–7,5 meter, bersama alat tangkap sederhana seperti pancing, jaring
walang, dan jaring cumi.
Menariknya, jukung juga masih mendapatkan ruang
dalam kegiatan budaya dan sosial masyarakat pesisir. Pada 2025, Pemerintah
Kabupaten Buleleng menyelenggarakan Lomba Perahu Layar dalam rangka Lovina
Festival, dengan peserta dari kelompok usaha nelayan dan masyarakat pesisir
binaan DKPP.
Dengan demikian, jukung dapat dilihat bukan hanya
sebagai sarana produksi, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya maritim
masyarakat Buleleng.
Bentuk jukung menyesuaikan kebutuhan
nelayan
Jukung tradisional memiliki karakter yang berbeda
dengan kapal penangkap ikan berukuran besar. Ukurannya yang relatif kecil
membuatnya lebih sesuai untuk kegiatan penangkapan tertentu di perairan
pesisir. Pada praktiknya, jukung dapat dipadukan dengan mesin sehingga nelayan
tidak sepenuhnya bergantung pada tenaga layar atau dayung.
Di Penuktukan, Tejakula, misalnya, jukung yang
digunakan kelompok nelayan memiliki panjang sekitar 5,75–7,5 meter. Kelompok
tersebut menggunakan pancing, jaring walang, dan jaring cumi sebagai sarana
penangkapan.
Data lapangan tersebut menarik karena
memperlihatkan bagaimana teknologi tradisional tidak selalu berarti teknologi
yang sepenuhnya ditinggalkan. Jukung justru dapat beradaptasi dengan teknologi
modern, misalnya melalui penggunaan mesin. Artinya, modernisasi perikanan tidak
selalu harus menghilangkan bentuk tradisional. Dalam kondisi tertentu,
teknologi baru justru dapat digunakan untuk memperkuat sarana tradisional yang
sudah dikenal masyarakat.
Pengetahuan lokal menjadi modal nelayan
Seorang nelayan tidak hanya mengandalkan alat tangkap.Pengetahuan
mengenai laut juga menjadi modal penting.Nelayan belajar mengenali perubahan
kondisi perairan melalui pengalaman. Arah angin, gelombang, musim, lokasi ikan,
hingga kondisi tertentu yang menunjukkan apakah laut aman untuk dilayari
menjadi bagian dari pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman panjang.
Pengetahuan semacam ini sering kali bersifat
praktis dan diwariskan melalui interaksi antara generasi yang lebih tua dan
generasi berikutnya. Karena itu, ketika membicarakan modernisasi perikanan,
pengetahuan lokal tidak seharusnya diposisikan sebagai sesuatu yang berlawanan
dengan teknologi.
Informasi cuaca dan teknologi navigasi dapat
membantu meningkatkan keselamatan, sementara pengalaman nelayan tetap menjadi
sumber pengetahuan mengenai karakter perairan setempat.
Dari jukung menuju perikanan yang lebih
modern
Perubahan teknologi sudah mulai terlihat dalam
aktivitas nelayan Buleleng.Selain jukung dan alat tangkap sederhana, kelompok
nelayan juga mendapatkan dukungan berupa mesin, alat tangkap, penguatan
kelembagaan, hingga pembinaan usaha.Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan
perikanan tangkap tidak hanya berbicara mengenai kapal dan alat tangkap.
Kelembagaan, pemasaran, bahan bakar, legalitas, dan perlindungan nelayan juga
menjadi bagian dari sistem perikanan.
Jukung juga menghadapi tantangan ruang
pesisir
Di balik keberadaan jukung sebagai simbol budaya
pesisir, terdapat persoalan nyata yang dihadapi nelayan. Dalam pembinaan KUB
Sari Segara dan KUB Widya Mina di Penuktukan, nelayan menyampaikan persoalan
mengenai keterbatasan lokasi untuk menambatkan jukung di kawasan pesisir.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lokasi tambat merupakan bagian
penting dari keberlangsungan aktivitas nelayan.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa menjaga budaya
maritim tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk perahu. Jika ruang untuk
menambatkan jukung semakin terbatas, aktivitas nelayan juga dapat
terganggu.Dengan demikian, pelestarian budaya maritim membutuhkan ruang hidup
bagi masyarakat yang menjalankannya.
Ketika jukung bukan sekadar perahu
Di tengah perkembangan teknologi perikanan,
jukung mungkin terlihat sederhana dibandingkan kapal modern.Namun kesederhanaan
tersebut justru menyimpan nilai penting.
Jukung memperlihatkan hubungan antara masyarakat
dengan laut yang terbentuk dalam waktu panjang. Ia menjadi sarana mencari ikan,
bagian dari kehidupan keluarga nelayan, sekaligus simbol aktivitas masyarakat
pesisir Ketika sebuah jukung berangkat
ke laut, yang bergerak bukan hanya sebuah perahu.
Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai laut,
keterampilan menangkap ikan, pengalaman membaca cuaca, serta tradisi yang
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menjaga laut berarti menjaga pengetahuan
yang hidup di dalamnya
Produksi perikanan tangkap Buleleng yang tinggi
menunjukkan bahwa laut memiliki peran penting bagi perekonomian daerah. Namun
keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak ikan yang berhasil
ditangkap.
Keberlanjutan juga bergantung pada bagaimana
sumber daya ikan dikelola, bagaimana ekosistem dijaga, bagaimana nelayan
memperoleh akses terhadap sarana produksi, serta bagaimana pengetahuan lokal
tetap dipertahankan. Karena itu, masa depan perikanan Buleleng tidak harus
memilih antara tradisional atau modern.
Jukung dapat tetap menjadi bagian dari identitas
pesisir, sementara mesin, informasi cuaca, teknologi navigasi, pencatatan hasil
tangkapan, dan penguatan kelembagaan dapat digunakan untuk meningkatkan
keselamatan dan produktivitas yang perlu dijaga adalah keseimbangannya.
Laut
tetap menjadi sumber kehidupan, jukung tetap menjadi bagian dari identitas
pesisir, dan teknologi hadir untuk membantu nelayan beradaptasi dengan
perubahan zaman.
Referensi
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten
Buleleng. Renstra DKPP Kabupaten Buleleng 2023–2026.