(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Pseudomonas fluorescens sebagai Agens Pengendali Hayati (APH) Potensial untuk Penyakit Tular Tanah pada Tanaman Cabai

Admin distankan | 14 Agustus 2026 | 554 kali

Oleh: I Wayan Rusman, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda

Kecamatan Sawan

 

Penggunaan agens pengendali hayati (APH) merupakan salah satu pendekatan yang semakin penting dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Salah satu mikroorganisme yang banyak dikaji dan dimanfaatkan sebagai APH adalah Pseudomonas fluorescens. Bakteri ini termasuk kelompok Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), yaitu bakteri yang hidup dan berkembang di sekitar perakaran tanaman serta memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. P. fluorescens mempunyai kemampuan berkolonisasi pada daerah rizosfer, bersaing dengan mikroorganisme lain, menghasilkan senyawa antimikroba, serta merangsang sistem pertahanan tanaman. Oleh karena itu, keberadaan bakteri ini tidak hanya berperan dalam menekan perkembangan patogen, tetapi juga dapat membantu meningkatkan vigor dan kemampuan tanaman dalam menghadapi tekanan lingkungan.

Pada tanaman cabai (Capsicum annuum), keberadaan P. fluorescens di daerah perakaran berpotensi dimanfaatkan untuk membantu menekan berbagai penyakit yang disebabkan oleh patogen tular tanah maupun patogen yang menyerang bagian tanaman di atas permukaan tanah. Pemanfaatan bakteri ini terutama relevan dalam sistem budidaya cabai karena tanaman cabai sering menghadapi berbagai gangguan penyakit yang dapat berkembang cepat pada kondisi lingkungan yang sesuai. Aplikasi P. fluorescens dapat diarahkan sejak fase persemaian hingga pertumbuhan tanaman di lapangan sehingga populasi bakteri menguntungkan dapat terbentuk lebih awal pada lingkungan perakaran.

 

Mekanisme Pseudomonas fluorescens dalam Melindungi Tanaman

Kemampuan P. fluorescens dalam mengendalikan penyakit berlangsung melalui beberapa mekanisme yang saling melengkapi. Mekanisme pertama adalah kompetisi terhadap ruang dan nutrisi. Bakteri yang mampu mengkolonisasi permukaan akar dengan cepat akan menggunakan ruang dan sumber nutrisi yang tersedia sehingga peluang patogen untuk berkembang dan menginfeksi jaringan tanaman menjadi lebih kecil. Kolonisasi rizosfer yang baik menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan aplikasi P. fluorescens di lapangan.

Mekanisme kedua adalah antibiosis, yaitu kemampuan menghasilkan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen. Beberapa strain Pseudomonas mampu menghasilkan antibiotik dan metabolit sekunder dengan aktivitas antimikroba. Selain itu, bakteri ini dapat menghasilkan enzim tertentu yang berperan dalam mengganggu struktur atau perkembangan mikroorganisme penyebab penyakit. Karena setiap strain memiliki kemampuan yang berbeda, efektivitas P. fluorescens sangat bergantung pada strain yang digunakan dan kesesuaiannya dengan patogen sasaran.

Mekanisme ketiga adalah kompetisi melalui siderofor. Siderofor yang diproduksi P. fluorescens mempunyai kemampuan mengikat besi yang tersedia di sekitar perakaran. Dengan demikian, bakteri dapat memperoleh besi untuk pertumbuhannya sekaligus mengurangi akses patogen terhadap unsur tersebut. Mekanisme berikutnya yang sangat penting adalah induced systemic resistance (ISR) atau ketahanan sistemik terinduksi. Kolonisasi P. fluorescens pada akar dapat memberikan rangsangan biologis kepada tanaman sehingga sistem pertahanannya berada dalam kondisi lebih siap ketika tanaman menghadapi serangan patogen. Dengan kata lain, bakteri tidak selalu harus berhadapan langsung dengan patogen untuk memberikan perlindungan; tanaman dapat mengaktifkan respons pertahanan secara sistemik.

 

Cara Pemanfaatan APH di Tingkat Petani

Bagi petani, penggunaan P. fluorescens sebaiknya dilakukan dengan menggunakan produk APH atau inokulan yang telah memiliki identitas mikroorganisme, mutu, dan petunjuk penggunaan yang jelas, bukan mengambil bakteri secara langsung dari tanah kemudian memperbanyaknya tanpa proses identifikasi dan pengujian. Hal ini penting karena tidak semua bakteri yang termasuk kelompok Pseudomonas mempunyai kemampuan pengendalian penyakit yang sama. Bahkan, efektivitas P. fluorescens dapat berbeda antarstrain dan dipengaruhi kondisi lingkungan, jenis tanaman, patogen sasaran, serta kemampuan bakteri berkolonisasi di rizosfer.

Dalam praktik budidaya cabai, aplikasi dapat diarahkan terutama ke daerah perakaran, misalnya melalui penyiraman larutan APH pada media persemaian atau pangkal tanaman setelah pindah tanam. Aplikasi juga dapat dilakukan secara berkala sesuai label produk atau rekomendasi petugas pertanian. Pada tahap persemaian, perlakuan pada media atau perakaran bertujuan membantu membangun populasi bakteri menguntungkan sebelum tanaman ditanam di lapangan. Setelah tanaman berada di lahan, aplikasi pada zona perakaran dapat dipertahankan untuk mendukung kolonisasi bakteri.

Keberhasilan aplikasi sangat dipengaruhi oleh kondisi lapangan. Penggunaan P. fluorescens sebaiknya dilakukan pada tanaman yang relatif sehat atau pada tahap awal perkembangan penyakit, karena APH bekerja terutama melalui pencegahan, penekanan, dan penghambatan perkembangan patogen, bukan sebagai obat yang secara cepat menghilangkan penyakit yang sudah berat. Penggunaan fungisida atau bakterisida yang bersifat mematikan bakteri juga perlu diperhatikan waktunya agar tidak langsung mengurangi populasi P. fluorescens yang telah diaplikasikan. Dalam konsep pengendalian terpadu, APH dapat dikombinasikan dengan sanitasi lahan, penggunaan benih sehat, pengaturan drainase, pemupukan berimbang, pengelolaan kelembapan, dan pemantauan tanaman secara rutin.

 

Sumber Referensi:

Gusnadi, B., Advinda, L., Anhar, A., Putri, I. L. E., & Chatri, M. (2023). Pseudomonas fluorescens as a Biocontrol Agent for Controlling Various Plant Diseases. Jurnal Serambi Biologi, 8(2), 123–128. https://doi.org/10.24036/srmb.v8i2.190.

Nasrun, N., & Nurmansyah, N. (2016). Keefektifan formula Pseudomonas fluorescens untuk mengendalikan penyakit layu bakteri dan meningkatkan pertumbuhan tanaman nilam. Jurnal Fitopatologi Indonesia, 12(2), 46. https://doi.org/10.14692/jfi.12.2.46.

Soesanto, L., Mugiastuti, E., & Rahayuniati, R. F. (2013). Aplikasi formula cair Pseudomonas fluorescens P60 untuk menekan penyakit virus cabai merah. Jurnal Fitopatologi Indonesia, 9(6), 179–185. https://doi.org/10.14692/jfi.9.6.179.