Oleh: I Wayan Rusman, S.P.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan
Ahli Muda
Kecamatan Sawan
Penggunaan agens
pengendali hayati (APH) merupakan salah satu pendekatan yang semakin penting
dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Salah satu mikroorganisme yang banyak
dikaji dan dimanfaatkan sebagai APH adalah Pseudomonas fluorescens.
Bakteri ini termasuk kelompok Plant Growth-Promoting Rhizobacteria
(PGPR), yaitu bakteri yang hidup dan berkembang di sekitar perakaran tanaman
serta memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. P.
fluorescens mempunyai kemampuan berkolonisasi pada daerah rizosfer,
bersaing dengan mikroorganisme lain, menghasilkan senyawa antimikroba, serta
merangsang sistem pertahanan tanaman. Oleh karena itu, keberadaan bakteri ini
tidak hanya berperan dalam menekan perkembangan patogen, tetapi juga dapat
membantu meningkatkan vigor dan kemampuan tanaman dalam menghadapi tekanan
lingkungan.
Pada tanaman
cabai (Capsicum annuum), keberadaan P. fluorescens di daerah
perakaran berpotensi dimanfaatkan untuk membantu menekan berbagai penyakit yang
disebabkan oleh patogen tular tanah maupun patogen yang menyerang bagian
tanaman di atas permukaan tanah. Pemanfaatan bakteri ini terutama relevan dalam
sistem budidaya cabai karena tanaman cabai sering menghadapi berbagai gangguan
penyakit yang dapat berkembang cepat pada kondisi lingkungan yang sesuai.
Aplikasi P. fluorescens dapat diarahkan sejak fase persemaian hingga
pertumbuhan tanaman di lapangan sehingga populasi bakteri menguntungkan dapat
terbentuk lebih awal pada lingkungan perakaran.
Mekanisme Pseudomonas
fluorescens dalam Melindungi Tanaman
Kemampuan P.
fluorescens dalam mengendalikan penyakit berlangsung melalui beberapa
mekanisme yang saling melengkapi. Mekanisme pertama adalah kompetisi terhadap
ruang dan nutrisi. Bakteri yang mampu mengkolonisasi permukaan akar dengan
cepat akan menggunakan ruang dan sumber nutrisi yang tersedia sehingga peluang
patogen untuk berkembang dan menginfeksi jaringan tanaman menjadi lebih kecil.
Kolonisasi rizosfer yang baik menjadi salah satu faktor penting yang menentukan
keberhasilan aplikasi P. fluorescens di lapangan.
Mekanisme kedua
adalah antibiosis, yaitu kemampuan menghasilkan senyawa yang dapat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme patogen. Beberapa strain Pseudomonas mampu
menghasilkan antibiotik dan metabolit sekunder dengan aktivitas antimikroba.
Selain itu, bakteri ini dapat menghasilkan enzim tertentu yang berperan dalam
mengganggu struktur atau perkembangan mikroorganisme penyebab penyakit. Karena
setiap strain memiliki kemampuan yang berbeda, efektivitas P. fluorescens
sangat bergantung pada strain yang digunakan dan kesesuaiannya dengan patogen
sasaran.
Mekanisme ketiga
adalah kompetisi melalui siderofor. Siderofor yang diproduksi P. fluorescens
mempunyai kemampuan mengikat besi yang tersedia di sekitar perakaran. Dengan
demikian, bakteri dapat memperoleh besi untuk pertumbuhannya sekaligus
mengurangi akses patogen terhadap unsur tersebut. Mekanisme berikutnya yang
sangat penting adalah induced systemic resistance (ISR) atau ketahanan sistemik
terinduksi. Kolonisasi P. fluorescens pada akar dapat memberikan rangsangan
biologis kepada tanaman sehingga sistem pertahanannya berada dalam kondisi
lebih siap ketika tanaman menghadapi serangan patogen. Dengan kata lain,
bakteri tidak selalu harus berhadapan langsung dengan patogen untuk memberikan
perlindungan; tanaman dapat mengaktifkan respons pertahanan secara sistemik.
Cara Pemanfaatan APH di
Tingkat Petani
Bagi petani,
penggunaan P. fluorescens sebaiknya dilakukan dengan menggunakan produk
APH atau inokulan yang telah memiliki identitas mikroorganisme, mutu, dan
petunjuk penggunaan yang jelas, bukan mengambil bakteri secara langsung dari
tanah kemudian memperbanyaknya tanpa proses identifikasi dan pengujian. Hal ini
penting karena tidak semua bakteri yang termasuk kelompok Pseudomonas
mempunyai kemampuan pengendalian penyakit yang sama. Bahkan, efektivitas P.
fluorescens dapat berbeda antarstrain dan dipengaruhi kondisi lingkungan,
jenis tanaman, patogen sasaran, serta kemampuan bakteri berkolonisasi di
rizosfer.
Dalam praktik
budidaya cabai, aplikasi dapat diarahkan terutama ke daerah perakaran, misalnya
melalui penyiraman larutan APH pada media persemaian atau pangkal tanaman
setelah pindah tanam. Aplikasi juga dapat dilakukan secara berkala sesuai label
produk atau rekomendasi petugas pertanian. Pada tahap persemaian, perlakuan
pada media atau perakaran bertujuan membantu membangun populasi bakteri
menguntungkan sebelum tanaman ditanam di lapangan. Setelah tanaman berada di
lahan, aplikasi pada zona perakaran dapat dipertahankan untuk mendukung
kolonisasi bakteri.
Keberhasilan
aplikasi sangat dipengaruhi oleh kondisi lapangan. Penggunaan P. fluorescens
sebaiknya dilakukan pada tanaman yang relatif sehat atau pada tahap awal
perkembangan penyakit, karena APH bekerja terutama melalui pencegahan,
penekanan, dan penghambatan perkembangan patogen, bukan sebagai obat yang
secara cepat menghilangkan penyakit yang sudah berat. Penggunaan fungisida atau
bakterisida yang bersifat mematikan bakteri juga perlu diperhatikan waktunya
agar tidak langsung mengurangi populasi P. fluorescens yang telah
diaplikasikan. Dalam konsep pengendalian terpadu, APH dapat dikombinasikan
dengan sanitasi lahan, penggunaan benih sehat, pengaturan drainase, pemupukan
berimbang, pengelolaan kelembapan, dan pemantauan tanaman secara rutin.
Sumber Referensi:
Gusnadi,
B., Advinda, L., Anhar, A., Putri, I. L. E., & Chatri, M. (2023). Pseudomonas
fluorescens as a Biocontrol Agent for Controlling Various Plant Diseases.
Jurnal Serambi Biologi, 8(2), 123–128. https://doi.org/10.24036/srmb.v8i2.190.
Nasrun,
N., & Nurmansyah, N. (2016). Keefektifan formula Pseudomonas fluorescens
untuk mengendalikan penyakit layu bakteri dan meningkatkan pertumbuhan tanaman
nilam. Jurnal Fitopatologi Indonesia, 12(2), 46.
https://doi.org/10.14692/jfi.12.2.46.
Soesanto,
L., Mugiastuti, E., & Rahayuniati, R. F. (2013). Aplikasi formula cair Pseudomonas
fluorescens P60 untuk menekan penyakit virus cabai merah. Jurnal
Fitopatologi Indonesia, 9(6), 179–185. https://doi.org/10.14692/jfi.9.6.179.