Oleh
: Vani Silvana, S.P.
POPT Ahli Pertama pada Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng
Kanker
batang merupakan disebabkan oleh patogen seperti Phytophthora spp. yang
menyerang kulit batang hingga jaringan kayu. Gejalanya ditandai dengan
keluarnya cairan berwarna cokelat kehitaman, kulit batang membusuk, dan apabila
tidak segera ditangani dapat menyebabkan penurunan produksi bahkan kematian pohon.
Selama bertahun-tahun, bubur Bordo (Bordeaux mixture) menjadi salah satu
andalan petani dalam mengendalikan penyakit ini. Namun, dalam beberapa tahun
terakhir semakin banyak petani yang beralih menggunakan JADAM Sulfur (JS).
Perubahan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan JADAM Sulfur memiliki
karakter yang mampu menempel lebih lama pada permukaan batang. JADAM Sulfur
memiliki karakter yang mampu menempel lebih lama pada permukaan batang,
terutama setelah luka kanker dibersihkan. Dengan daya lekat yang baik, lapisan
pelindung dapat bertahan lebih lama sehingga aplikasi tidak perlu terlalu
sering. Sebaliknya, bubur Bordo relatif mudah terkelupas atau luntur akibat
hujan maupun kelembapan tinggi sehingga memerlukan aplikasi ulang lebih sering.
Sulfur dikenal memiliki aktivitas terhadap berbagai jenis jamur dan tungau.
Dalam praktik budidaya, JADAM Sulfur sering dimanfaatkan untuk membantu menekan
perkembangan berbagai penyakit tanaman sekaligus.
Sementara
itu, bubur Bordo bekerja terutama sebagai fungisida berbahan tembaga yang
bersifat protektif. Efektivitasnya sangat bergantung pada ketepatan waktu
aplikasi dan kondisi permukaan tanaman. Salah satu alasan utama petani memilih
JADAM Sulfur adalah biaya produksinya yang relatif rendah. Bahan-bahan pembuatannya
mudah diperoleh dan dapat dibuat sendiri dalam jumlah besar. Bagi petani yang
memiliki ratusan hingga ribuan pohon durian, efisiensi biaya pengendalian
penyakit menjadi faktor yang sangat penting. JADAM Sulfur dapat diaplikasikan
menggunakan kuas pada luka kanker maupun melalui penyemprotan sesuai kebutuhan
dan pengenceran yang tepat. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam
penggunaannya di lapangan. Sementara bubur Bordo harus dibuat dengan komposisi
yang tepat antara tembaga sulfat dan kapur. Kesalahan dalam pencampuran dapat
mengurangi efektivitas bahkan meningkatkan risiko fitotoksisitas pada tanaman. Penggunaan
fungisida berbasis tembaga secara berulang dalam jangka panjang dapat
menyebabkan akumulasi tembaga di dalam tanah. Pada kondisi tertentu, akumulasi
ini dapat memengaruhi keseimbangan mikroorganisme tanah dan kesuburan lahan. JADAM
Sulfur tidak mengandung tembaga sehingga sebagian petani memilihnya sebagai
alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap fungisida berbahan tembaga.
Banyak petani yang menerapkan metode pertanian memilih JADAM Sulfur karena
selaras dengan prinsip penggunaan input yang sederhana, murah, dan dapat
diproduksi sendiri. Dengan demikian, biaya produksi dapat ditekan tanpa
sepenuhnya bergantung pada produk komersial. Popularitas JADAM Sulfur di
kalangan petani durian didorong oleh beberapa keunggulan, seperti biaya yang
lebih ekonomis, kemudahan pembuatan, daya lekat yang baik, serta kemudahan
aplikasi. Di sisi lain, bubur Bordo tetap merupakan fungisida protektif yang
telah lama digunakan dan masih memiliki peran penting dalam pengelolaan
penyakit tanaman.
Daftar
Pustaka :
Pemerintah Desa Mulyodadi. (2026). Jadam Sulfur: Murah, Alami, dan Ampuh! Untuk Pertanian Berkelanjutan. Diakses dari Website Resmi Mulyodadi.