(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Keunggulan Jadam Sulfur untuk mengendalikan Kanker Batang pada Tanaman Durian

Admin distankan | 28 Juli 2026 | 19 kali

Oleh : Vani Silvana, S.P.

POPT Ahli Pertama pada Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng

Kanker batang merupakan disebabkan oleh patogen seperti Phytophthora spp. yang menyerang kulit batang hingga jaringan kayu. Gejalanya ditandai dengan keluarnya cairan berwarna cokelat kehitaman, kulit batang membusuk, dan apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan penurunan produksi bahkan kematian pohon. Selama bertahun-tahun, bubur Bordo (Bordeaux mixture) menjadi salah satu andalan petani dalam mengendalikan penyakit ini. Namun, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak petani yang beralih menggunakan JADAM Sulfur (JS). Perubahan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan JADAM Sulfur memiliki karakter yang mampu menempel lebih lama pada permukaan batang. JADAM Sulfur memiliki karakter yang mampu menempel lebih lama pada permukaan batang, terutama setelah luka kanker dibersihkan. Dengan daya lekat yang baik, lapisan pelindung dapat bertahan lebih lama sehingga aplikasi tidak perlu terlalu sering. Sebaliknya, bubur Bordo relatif mudah terkelupas atau luntur akibat hujan maupun kelembapan tinggi sehingga memerlukan aplikasi ulang lebih sering. Sulfur dikenal memiliki aktivitas terhadap berbagai jenis jamur dan tungau. Dalam praktik budidaya, JADAM Sulfur sering dimanfaatkan untuk membantu menekan perkembangan berbagai penyakit tanaman sekaligus.

Sementara itu, bubur Bordo bekerja terutama sebagai fungisida berbahan tembaga yang bersifat protektif. Efektivitasnya sangat bergantung pada ketepatan waktu aplikasi dan kondisi permukaan tanaman. Salah satu alasan utama petani memilih JADAM Sulfur adalah biaya produksinya yang relatif rendah. Bahan-bahan pembuatannya mudah diperoleh dan dapat dibuat sendiri dalam jumlah besar. Bagi petani yang memiliki ratusan hingga ribuan pohon durian, efisiensi biaya pengendalian penyakit menjadi faktor yang sangat penting. JADAM Sulfur dapat diaplikasikan menggunakan kuas pada luka kanker maupun melalui penyemprotan sesuai kebutuhan dan pengenceran yang tepat. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam penggunaannya di lapangan. Sementara bubur Bordo harus dibuat dengan komposisi yang tepat antara tembaga sulfat dan kapur. Kesalahan dalam pencampuran dapat mengurangi efektivitas bahkan meningkatkan risiko fitotoksisitas pada tanaman. Penggunaan fungisida berbasis tembaga secara berulang dalam jangka panjang dapat menyebabkan akumulasi tembaga di dalam tanah. Pada kondisi tertentu, akumulasi ini dapat memengaruhi keseimbangan mikroorganisme tanah dan kesuburan lahan. JADAM Sulfur tidak mengandung tembaga sehingga sebagian petani memilihnya sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap fungisida berbahan tembaga. Banyak petani yang menerapkan metode pertanian memilih JADAM Sulfur karena selaras dengan prinsip penggunaan input yang sederhana, murah, dan dapat diproduksi sendiri. Dengan demikian, biaya produksi dapat ditekan tanpa sepenuhnya bergantung pada produk komersial. Popularitas JADAM Sulfur di kalangan petani durian didorong oleh beberapa keunggulan, seperti biaya yang lebih ekonomis, kemudahan pembuatan, daya lekat yang baik, serta kemudahan aplikasi. Di sisi lain, bubur Bordo tetap merupakan fungisida protektif yang telah lama digunakan dan masih memiliki peran penting dalam pengelolaan penyakit tanaman.

Daftar Pustaka :

Pemerintah Desa Mulyodadi. (2026). Jadam Sulfur: Murah, Alami, dan Ampuh! Untuk Pertanian Berkelanjutan. Diakses dari Website Resmi Mulyodadi.