(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Pestisida Nabati Solusi Alami Kendalikan Kutu Putih pada Jambu Mete

Admin distankan | 14 Agustus 2026 | 578 kali

Oleh :

I Gede Sila Adnyana, S.P.

( POPT Ahli Pertama Kecamatan Tejakula )

Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang banyak dibudidayakan di wilayah dengan kondisi lahan kering, termasuk beberapa wilayah di Kabupaten Buleleng. Selain menghasilkan biji mete sebagai produk utama, tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat karena dapat tumbuh pada kondisi agroekosistem yang relatif beragam. Dalam kegiatan budidayanya, keberadaan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) perlu mendapatkan perhatian karena serangan hama dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi pembentukan bunga dan buah, serta menurunkan hasil produksi. Salah satu hama yang perlu diwaspadai adalah kutu putih dari genus Planococcus sp. yang umumnya ditemukan pada bagian tanaman yang masih muda.

Pestisida nabati merupakan bahan pengendali OPT yang berasal dari tumbuhan dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu komponen dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Bahan tumbuhan tertentu diketahui mengandung senyawa yang dapat mengganggu aktivitas makan, pertumbuhan, perkembangan, maupun keberadaan serangga pada tanaman. Penggunaan pestisida nabati di tingkat petani juga dapat menjadi alternatif dalam pengelolaan OPT, terutama ketika populasi hama masih rendah sampai sedang. Namun, efektivitas pestisida nabati sangat dipengaruhi oleh jenis bahan, konsentrasi, cara ekstraksi, umur bahan, kondisi lingkungan, serta ketepatan waktu aplikasi. Oleh karena itu, penggunaannya tetap perlu didasarkan pada hasil pengamatan lapangan dan dilakukan secara tepat.

Planococcus sp. merupakan kelompok kutu putih yang memiliki tubuh relatif kecil, berbentuk oval, dan biasanya dilapisi lapisan lilin berwarna putih. Hama ini dapat ditemukan pada pucuk, tangkai daun, tulang daun, ranting muda, bunga, maupun bagian tanaman lainnya. Kutu putih memperoleh makanan dengan cara menusukkan alat mulutnya dan mengisap cairan tanaman. Keberadaan hama dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan bagian tanaman yang terserang mengalami pertumbuhan kurang optimal, daun menguning atau mengerut, serta pucuk dan jaringan muda mengalami gangguan pertumbuhan. Kutu putih juga menghasilkan embun madu yang dapat menjadi media tumbuh cendawan jelaga sehingga permukaan daun tampak tertutup lapisan hitam dan proses fotosintesis tanaman dapat terganggu.

Salah satu bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan pestisida nabati adalah daun mimba (Azadirachta indica). Daun mimba mengandung senyawa bioaktif, terutama kelompok limonoid yang berhubungan dengan aktivitas penghambatan makan dan pertumbuhan serangga. Bahan kedua adalah daun pepaya (Carica papaya) yang secara tradisional banyak dimanfaatkan sebagai bahan pestisida nabati karena mengandung senyawa metabolit sekunder, termasuk papain dan berbagai senyawa lainnya. Bahan ketiga berupa kulit bawang putih (Allium sativum) yang mengandung senyawa sulfur dan komponen lain yang memiliki aroma kuat serta berpotensi memberikan efek pengganggu terhadap hama. Kombinasi ketiga bahan tersebut dapat digunakan sebagai bahan ekstrak nabati untuk membantu menekan keberadaan Planococcus sp. pada tanaman jambu mete.

Bahan yang diperlukan untuk membuat ekstrak pestisida nabati yaitu 200 gram daun mimba segar, 200 gram daun pepaya segar, 100 gram kulit bawang putih, dan 10 liter air bersih. Untuk membantu proses pembasahan dan penyebaran larutan pada permukaan tanaman dapat ditambahkan sekitar 10 ml sabun cair atau surfaktan atau perekat-perata yang sesuai untuk aplikasi tanaman pada saat larutan akan digunakan. Daun mimba dan daun pepaya sebaiknya dipilih yang masih segar dan tidak terserang penyakit, sedangkan kulit bawang putih yang digunakan harus bebas dari jamur dan bahan pembusuk. Peralatan yang diperlukan antara lain ember atau wadah plastik, pisau atau alat pencacah, blender atau alat penumbuk, kain penyaring, gelas ukur, dan wadah tertutup.

Cara pembuatannya dimulai dengan mencuci daun mimba, daun pepaya, dan kulit bawang putih menggunakan air bersih untuk menghilangkan kotoran yang menempel. Selanjutnya, daun mimba dan daun pepaya dicacah menjadi bagian yang lebih kecil, kemudian bersama kulit bawang putih ditumbuk atau diblender hingga menjadi bahan yang lebih halus. Bahan yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam wadah, kemudian ditambahkan 10 liter air bersih dan diaduk hingga tercampur merata. Wadah ditutup dan campuran didiamkan selama kurang lebih 24 jam agar senyawa dari bahan tanaman dapat terekstraksi ke dalam air. Setelah proses tersebut selesai, larutan disaring menggunakan kain halus untuk memisahkan ampas sehingga tidak menyumbat saringan alat semprot.

Larutan hasil penyaringan dapat digunakan sebagai larutan stok pestisida nabati. Untuk aplikasi di lapangan, dosis awal yang dapat digunakan adalah 1 liter larutan stok untuk setiap 10 liter air, atau konsentrasi sekitar 10%. Apabila populasi Planococcus sp. relatif tinggi dan hasil pengamatan menunjukkan pengendalian belum memadai, konsentrasi dapat dinaikkan secara bertahap sampai 2 liter larutan stok per 10 liter air atau sekitar 20%, dengan terlebih dahulu melakukan pengujian pada sebagian kecil tanaman untuk melihat kemungkinan terjadinya fitotoksisitas. Sebaiknya tidak langsung menggunakan konsentrasi tinggi pada seluruh pertanaman karena setiap bahan tanaman dan kondisi jambu mete dapat memberikan respons yang berbeda.

Aplikasi dilakukan menggunakan alat semprot dengan sasaran utama bagian tanaman yang terdapat Planococcus sp., terutama pucuk, tangkai daun, bagian bawah daun, ranting muda, serta bagian tanaman lain yang terlindung dan menjadi tempat berkumpulnya kutu putih. Penyemprotan dilakukan secara merata hingga permukaan tanaman menjadi basah, tetapi tidak sampai larutan menetes secara berlebihan. Waktu aplikasi yang dianjurkan adalah pagi atau sore hari ketika kondisi cuaca tidak terlalu panas dan tidak sedang terjadi hujan. Sebelum aplikasi pada areal yang luas, petani disarankan melakukan uji coba pada beberapa tanaman terlebih dahulu untuk memastikan tidak terjadi gejala terbakar, bercak, atau kerusakan pada daun akibat larutan.

Pengendalian Planococcus sp. dengan pestisida nabati sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan keberadaan satu atau dua ekor kutu putih, tetapi didahului dengan pengamatan populasi dan tingkat serangan di lapangan. Apabila ditemukan koloni pada bagian tanaman yang terserang, bagian tersebut dapat dibersihkan secara mekanis dan tanaman dipelihara dengan baik melalui pemangkasan bagian yang terlalu rimbun, sanitasi kebun, serta pengelolaan gulma yang menjadi tempat berlindung OPT. Penyemprotan pestisida nabati dapat dilakukan kembali berdasarkan hasil pengamatan, misalnya dengan interval sekitar 5–7 hari apabila populasi masih ditemukan dan kondisi tanaman memungkinkan. Penggunaan pestisida kimiawi sebaiknya menjadi pilihan terakhir apabila populasi hama terus meningkat dan tindakan pengendalian lainnya tidak mampu menekan serangan, dengan tetap menggunakan pestisida yang telah terdaftar dan mengikuti label.

Berdasarkan pengamatan sebagai bagian dari kegiatan perlindungan tanaman, kombinasi ekstrak daun mimba, daun pepaya, dan kulit bawang putih dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pengendali nabati untuk membantu menekan Planococcus sp. pada tanaman jambu mete, terutama pada tingkat serangan awal sampai sedang. Keberhasilan pengendalian tidak hanya ditentukan oleh konsentrasi larutan, tetapi juga oleh ketepatan identifikasi hama, waktu aplikasi, sasaran penyemprotan, kondisi tanaman, dan frekuensi pengamatan. Petani dianjurkan melakukan monitoring secara rutin dan mencatat perkembangan populasi sebelum dan sesudah aplikasi sehingga efektivitas perlakuan dapat diketahui. Penggunaan pestisida nabati hendaknya ditempatkan sebagai salah satu bagian dari strategi PHT dengan mengutamakan pengamatan, sanitasi kebun, pengendalian mekanis, pemeliharaan tanaman, pemanfaatan musuh alami, serta penggunaan pestisida secara tepat apabila memang diperlukan..

DAFTAR PUSTAKA

Rizky, R., Jalaluddin, Ishak, Nurlaila, R., & Hakim, L. (2022). Pembuatan pestisida nabati dari bawang putih dengan penambahan sabun cuci piring. Chemical Engineering Journal Storage (CEJS), 2(1).

Hasfita, F., Nasrul, Z. A., & Lafyati. (2018). Pemanfaatan daun pepaya (Carica papaya) untuk pembuatan pestisida nabati. Jurnal Teknologi Kimia Unimal, 1(2).

Odafferi, A., Giunti, G., Urbaneja, A., Laudani, F., Latella, I., Pérez-Hedo, M., Ricupero, M., Palmeri, V., & Campolo, O. (2025). High-energy emulsification of Allium sativum essential oil boosts insecticidal activity against Planococcus citri with no risk to honeybees. Journal of Pest Science, 98, 337–348.