(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

BIOSECURITY PADA BUDIDAYA IKAN: BENTENG PERTAMA SEBELUM PENYAKIT MENYEBAR

Admin distankan | 16 September 2026 | 273 kali

Oleh : Galih Dandung Akbar Gumala, S.Pi

Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Pertama

 

Bayangkan sebuah kolam budidaya dengan ikan yang terlihat sehat. Air tampak jernih, ikan aktif berenang, dan nafsu makan masih baik. Namun beberapa hari kemudian mulai ditemukan satu-dua ikan mati. Jumlahnya bertambah, ikan mulai berenang tidak normal, dan akhirnya kematian terjadi dalam jumlah besar.

Dalam kondisi seperti ini, perhatian biasanya langsung tertuju pada pertanyaan: “Penyakit apa yang menyerang?”

Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: “Bagaimana agen penyakit tersebut bisa masuk ke kolam?”

Di sinilah biosecurity menjadi penting.

Biosecurity bukan sekadar memasang bak desinfeksi di pintu masuk atau menyemprotkan disinfektan ke peralatan. Dalam budidaya ikan, biosecurity merupakan pendekatan untuk mengelola risiko masuk, bertahan, dan menyebarnya agen penyakit melalui ikan, air, manusia, peralatan, lingkungan, maupun aktivitas produksi.

FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) menempatkan biosecurity sebagai bagian penting dari pengelolaan kesehatan ikan, terutama karena intensifikasi produksi dan perpindahan hewan akuatik dapat meningkatkan risiko muncul dan menyebarnya penyakit.

Penyakit tidak selalu datang dari ikan yang terlihat sakit

Salah satu kesalahan dalam memahami biosecurity adalah menganggap bahwa sumber penyakit selalu berupa ikan yang sudah menunjukkan gejala. Padahal, ikan yang tampak sehat belum tentu bebas dari agen penyakit. Demikian pula, air yang terlihat jernih belum tentu bebas dari mikroorganisme patogen.

Dalam sistem budidaya, berbagai komponen saling terhubung. Ikan dapat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Air dapat membawa organisme atau agen penyakit. Peralatan dapat digunakan bergantian. Pekerja dapat berpindah dari satu kolam ke kolam lain.

WOAH (World Organisation for Animal Health) juga menempatkan biosecurity sebagai bagian dari pengelolaan kesehatan hewan akuatik, termasuk upaya mencegah masuk dan menyebarnya penyakit melalui pergerakan hewan, manusia, peralatan, dan lingkungan. Artinya, satu titik lemah dapat menjadi pintu masuk bagi masalah yang lebih besar.

Dari mana patogen bisa masuk?

Secara sederhana, ada beberapa jalur yang perlu diperhatikan dalam suatu unit budidaya.

Ikan baru merupakan salah satu jalur yang penting. Benih atau ikan yang baru datang dapat membawa agen penyakit tanpa menunjukkan tanda klinis yang jelas. Karena itu, mencampurkan ikan baru secara langsung dengan populasi lama dapat meningkatkan risiko introduksi penyakit.

Air juga merupakan jalur penting, terutama pada budidaya yang menggunakan sumber air terbuka. Pengelolaan air bukan hanya persoalan kualitas fisik dan kimia, tetapi juga perlu mempertimbangkan risiko biologisnya.

Kemudian ada peralatan. Jaring, ember, selang, wadah, aerator, dan peralatan lainnya dapat menjadi media perpindahan kontaminan apabila digunakan dari satu unit ke unit lain tanpa pengelolaan yang tepat.

Yang sering dilupakan adalah manusia. Tangan, pakaian, sepatu, maupun peralatan yang dibawa pekerja dapat menjadi bagian dari jalur perpindahan agen penyakit.

Karena itu, biosecurity pada dasarnya bukan hanya persoalan “membersihkan kolam”, tetapi persoalan mengendalikan jalur perpindahan patogen.

Karantina: jangan buru-buru mencampurkan ikan baru

Ketika ikan baru datang, tindakan yang sering dilakukan adalah langsung memasukkannya ke kolam produksi.

Dari perspektif biosecurity, langkah tersebut memiliki risiko.

Karantina memberikan kesempatan untuk melakukan observasi dan pemeriksaan sebelum ikan bergabung dengan populasi utama. Selama periode tersebut, kondisi ikan dapat dipantau, termasuk perilaku, nafsu makan, mortalitas, serta munculnya tanda-tanda klinis.

Karantina juga bukan berarti ikan harus dianggap sakit. Prinsipnya adalah memisahkan risiko sebelum risiko tersebut bercampur dengan populasi yang sudah ada.

WOAH mencantumkan karantina sebagai salah satu tindakan yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko penyakit yang berkaitan dengan perpindahan hewan akuatik.

Air yang baik bukan berarti air bebas patogen

Dalam praktik budidaya, kualitas air sering dinilai berdasarkan parameter seperti suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut, amonia, dan nitrit. Parameter tersebut memang penting. Namun, kualitas air yang baik secara fisik dan kimia tidak otomatis berarti air bebas dari patogen. Ini merupakan perbedaan penting. Pengelolaan kualitas air bertujuan menjaga lingkungan tetap sesuai bagi ikan, sedangkan biosecurity juga mempertimbangkan risiko biologis yang dibawa oleh air. Karena itu, strategi pengelolaan air perlu disesuaikan dengan sistem budidaya dan sumber air. Pada sistem tertentu mungkin diperlukan filtrasi, pengendapan, perlakuan air, atau metode lain untuk mengurangi risiko masuknya agen penyakit. Tidak ada satu metode yang berlaku untuk semua sistem.

Peralatan: kecil bentuknya, besar risikonya

Satu jaring dapat digunakan untuk menangkap ikan yang sehat. Jaring yang sama kemudian digunakan untuk menangkap ikan dari kolam yang mengalami kematian. Jika tidak ada proses pengelolaan yang tepat sebelum digunakan kembali, peralatan tersebut berpotensi menjadi jalur perpindahan kontaminan. Prinsip sederhananya adalah:

Jangan memindahkan peralatan dari unit berisiko tinggi ke unit berisiko rendah tanpa prosedur sanitasi yang sesuai.

Pembersihan dan disinfeksi juga bukan hal yang sama. Pembersihan bertujuan menghilangkan kotoran dan bahan organik, sedangkan disinfeksi ditujukan untuk menurunkan atau menginaktivasi mikroorganisme tertentu. Karena itu, penggunaan disinfektan secara sembarangan bukanlah definisi biosecurity.

Biosecurity bukan berarti semua benda harus disemprot disinfektan

Ada kecenderungan menganggap bahwa semakin banyak disinfektan digunakan, semakin baik biosecurity suatu fasilitas. Logika tersebut tidak selalu benar. Biosecurity seharusnya berbasis risiko. FAO melalui pendekatan Progressive Management Pathway for Aquaculture Biosecurity menekankan pengelolaan biosecurity secara bertahap berdasarkan risiko, kondisi, dan kapasitas sektor budidaya.

Pendekatan tersebut dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana:

Di titik mana jalur tersebut dapat diputus?

Dengan cara berpikir seperti ini, tindakan biosecurity tidak harus selalu mahal. Yang terpenting adalah mengetahui titik kritis yang memiliki risiko paling besar dan memberikan pengendalian yang sesuai.

Ketika satu ikan mulai sakit, jangan menunggu sampai banyak yang mati

Deteksi dini merupakan bagian penting dari pengendalian penyakit. Perubahan perilaku dapat menjadi tanda awal yang perlu diperhatikan. Misalnya, ikan menjadi kurang aktif, kehilangan nafsu makan, berenang tidak normal, menunjukkan perubahan warna, mengalami luka, atau ditemukan peningkatan mortalitas. Namun, satu hal perlu digarisbawahi: gejala klinis saja tidak selalu cukup untuk menentukan penyebab penyakit.

Ikan yang mengalami luka, misalnya, belum tentu mengalami penyakit yang sama. Faktor lingkungan, stres, parasit, bakteri, virus, atau kombinasi beberapa faktor dapat menghasilkan tanda yang serupa. Karena itu, ketika terjadi kejadian penyakit, pengamatan lapangan sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan kualitas air dan, bila diperlukan, pemeriksaan laboratorium. WOAH menekankan pentingnya deteksi dini, pengawasan kesehatan, pengambilan sampel, diagnosis, dan pengendalian penyakit dalam pengelolaan kesehatan hewan akuatik.

Ikan mati bukan sekadar limbah

Ikan mati perlu segera ditangani karena dapat menjadi bagian dari rantai penyebaran agen penyakit. Membiarkan ikan mati tetap berada di dalam kolam dapat meningkatkan paparan populasi terhadap material biologis yang berasal dari ikan tersebut. Cara penanganan selanjutnya harus disesuaikan dengan jenis sistem budidaya dan dugaan penyakit. Hal yang perlu dihindari adalah membuang ikan mati sembarangan ke lingkungan perairan karena tindakan tersebut berpotensi memindahkan agen penyakit ke lokasi lain.

Biosecurity juga berkaitan dengan penggunaan antibiotik

Biosecurity sering dibicarakan dalam konteks pencegahan penyakit, tetapi dampaknya juga berkaitan dengan penggunaan antimikroba. Jika penyakit terus muncul karena pengendalian risikonya buruk, penggunaan obat atau antimikroba dapat menjadi berulang. WOAH menekankan pentingnya penggunaan antimikroba secara bertanggung jawab untuk membantu mengurangi risiko resistensi antimikroba. Dengan kata lain, mencegah penyakit sejak awal dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan kesehatan yang mengurangi kebutuhan pengobatan. Namun, biosecurity bukan berarti antibiotik tidak boleh digunakan. Penggunaan antimikroba tetap harus didasarkan pada kebutuhan, diagnosis yang tepat jika memungkinkan, serta prinsip penggunaan yang bertanggung jawab.

Biosecurity tidak hanya untuk perusahaan besar

Biosecurity sering dianggap membutuhkan fasilitas mahal: laboratorium lengkap, sistem filtrasi kompleks, ruang karantina besar, dan berbagai peralatan khusus. Padahal, prinsip dasarnya dapat diterapkan dalam berbagai skala.

Pada unit kecil, beberapa tindakan sederhana dapat dilakukan, seperti:

  • mengetahui asal ikan yang dibeli;
  • tidak langsung mencampurkan ikan baru;
  • memisahkan ikan yang menunjukkan tanda penyakit;
  • menjaga peralatan tetap bersih;
  • tidak menggunakan peralatan secara sembarangan antarunit;
  • mengelola ikan mati dengan benar;
  • mencatat mortalitas;
  • memantau kualitas air;
  • membatasi keluar-masuk orang dan peralatan;
  • segera mencari bantuan ketika terjadi kematian yang tidak normal.

 

Yang penting bukan sekadar memiliki SOP, tetapi SOP tersebut benar-benar dilakukan secara konsisten. Tidak ada satu tindakan yang mampu memberikan perlindungan mutlak. Kekuatan biosecurity justru berada pada kombinasi beberapa tindakan yang saling memperkuat. FAO menekankan bahwa pengelolaan biosecurity perlu dilakukan melalui pendekatan berbasis risiko pada berbagai tingkat, mulai dari unit budidaya hingga tingkat yang lebih luas.

Biosecurity dimulai sebelum ikan sakit

Kesalahan terbesar dalam menerapkan biosecurity adalah menjadikannya sebagai tindakan darurat setelah terjadi wabah. Biosecurity seharusnya bekerja sebelum penyakit muncul. Ketika ikan baru datang, ketika air pertama kali masuk, ketika pekerja berpindah kolam, ketika jaring digunakan, dan ketika ikan mati ditemukan—semuanya merupakan bagian dari pengelolaan risiko penyakit. Budidaya ikan yang sehat bukan hanya tentang bagaimana mengobati ikan yang sakit, tetapi juga tentang bagaimana mencegah patogen mendapatkan kesempatan untuk masuk dan menyebar.

Referensi

  1. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (2023). The Progressive Management Pathway for Aquaculture Biosecurity (PMP/AB): Guidelines for application. Rome: FAO.
  2. World Organisation for Animal Health (WOAH). (2025). Aquatic Animal Health Code. Paris: WOAH. Edisi yang diperbarui mencakup Chapter 4.1: Biosecurity for aquaculture establishments serta ketentuan mengenai pencegahan dan pengendalian penyakit.
  3. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (2023). Pathway to aquaculture biosecurity: Managing disease risks in the value chain. FAO.
  4. Scarfe, A. D., & Pali?, D. (2020). Aquaculture biosecurity: Practical approach to prevent, control, and eradicate diseases. In Aquaculture Health Management: Design and Operation Approaches (pp. 75–116). Academic Press. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-813359-0.00003-8
  5. World Organisation for Animal Health (WOAH). (2023). WOAH Aquatic Animal Health Code and Manual. WOAH. Pedoman ini mencakup standar untuk pencegahan, deteksi dini, pelaporan, dan pengendalian agen penyakit pada hewan akuatik.