(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

STRATEGI ADAPTASI DAN MITIGASI KEKERINGAN MELALUI PEMBANGUNAN EMBUNG

Admin distankan | 18 September 2026 | 1196 kali

Oleh: Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama

pada Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Banjar

Fenomena perubahan iklim yang terjadi saat kini sangat dirasakan pada sektor pertanian karena perubahan tersebut berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas tanaman. Selain itu berpengaruh terhadap kondisi infrastruktur pendukung pertanian, infrastruktur jaringan irigasi hingga luas tanam dan panen. Kondisi kelangkaan air pada musim kemarau sangat berpengaruh terhadap usaha pertanian. Untuk itu upaya konservasi air melalui pemanenan air hujan dan aliran permukaan untuk dimanfaatkan pada saat terjadi krisis air, terutama masa musim kemarau sebagai bentuk adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Kegiatan adaptasi melalui pengembangan embung dekat kawasan pertanian merupakan upaya konservasi air yang tepat guna, murah dan spesifik lokasi, serta dapat mengatur ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air di tingkat usaha tani. Pola konservasi air yang sederhana tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan petani yaitu menampung air limpasan atau dari mata air, dan atau meninggikan muka air dalam skala mikro. Pola pemanenan melalui embung pertanian diarahkan untuk menambah ketersediaan air untuk pertanian serta dapat memperlambat laju aliran dengan meresapkan air ke dalam tanah. Embung merupakan cekungan yang dalam di suatu daerah perbukitan. Embung adalah bendungan buatan yang dibuat dengan tujuan menampung air hujan dan mengalirkannya ke daerah yang membutuhkan. Embung biasanya dibuat oleh pemerintah atau masyarakat untuk mengatasi masalah ketidakcukupan air. Air embung berasal dari limpasan air hujan yang jatuh di daerah tangkapan. Ukuran embung di klasifikasikan sangat keci, sedang, besar dan sangat besar. Berdasarkan lama embung menampung air, diklasifikasikan menjadi embung dengan tampungan sebentar (kemampuan menyimpan air antara 0-2 bulan), embung denga tampungan menengah (kemampuan menyimpan air antara 3-5 bulan), dan embung dengan tampungan panjang/lestari (kemampuan menyimpan air antara 6-8 bulan).

Tujuan pembuatan embung antara lain: 1). menyediakan air untuk pengairan tanaman di musim kemarau. 2). meningkatkan produktivitas lahan, masa pola tanam dan pendapatan petani di lahan tadah hujan. 3). mengaktifkan tenaga kerja petani pada musim kemarau sehingga mengurangi urbanisasi dari desa ke kota. 4). mencegah/mengurangi luapan air di musim hujan dan menekan resiko banjir.

Terdapat beberapa jenis embung yang sering ditemukan di Indonesia, antara lain: a) embung penimbunan yaitu jenis embung yang dibuat dengan cara menimbun bagian-bagian sungai atau lembah untuk menampung air, b) embung resapan yaitu jenis embung yang dibuat dengan cara memanfaatkan lahan yang ada untuk menampung air, c) embung pemberian air yaitu jenis embung yang digunakan untuk mengalirkan air ke daerah yang membutuhkan, seperti irigasi sawah atau perkebunan. Jenis-jenis embung tersebut memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda-beda.

Untuk menjamin fungsi dan keamanannya, desain rencana pengambangan embung mempunyai beberapa bagian yang perlu dipertimbangkan meliputi hal-hal seperti: 1). tubuh embung berfungsi untuk menutup lembah atau cekungan, sehingga air dapat tertampung di sebelah hulunya. 2). kolam embung berfungsi untuk menampung air hujan yang masuk. 3). bangunan sadap berfungsi untuk mengeluarkan air di kolam bila diperlukan. 4). bangunan pelimpah berfungsi untuk mengalirkan air banjir dari kolam ke lembah dan untuk mengamankan tubuh embung terhadap peluapan. 5). kolam jebakan air berfungsi untuk menangkap air yang tersisa pada musim kemarau, agar air terkumpl pada kolam embung. 6). kolam jebakan lumpur digunakan untuk menangkap sedimentasi yang masuk ke kolam embung, agar efektifitas embung tetap terjaga. 7). jaringan irigasi atau distribusi dapat berupa rangkaian saluran terbuka atau pipa yang berfungsi membawa air dari kolam embung ke daerah irigasi atau ke bak penampung air harian yang terletak dekat pemukiman (apabila hal ini memungkinkan) secara gravitasi dan bertekanan dengan cara pemberian air tidak kontinu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian. 2018. Pedoman Teknis Pengembangan Embung Pertanian Direktorat Irigasi Pertanian. Diakses pada laman http://psp.pertanian.go.id/storage/694/Pedoman_ Teknis_Embung_Pertanian_2018.pdf

 

Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian. 2015. Pedoman Teknis Pengembangan Embung/Dam Parit. Diakses pada laman http://psp.pertanian.go.id/storage/181/Pedoman_Teknis_Embung_FINAL2.pdf