Oleh: Shierly P. V.
Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Banjar
Fenomena perubahan iklim yang terjadi saat kini sangat dirasakan pada sektor
pertanian karena perubahan tersebut berpengaruh terhadap produksi dan
produktivitas tanaman. Selain itu berpengaruh terhadap kondisi infrastruktur
pendukung pertanian, infrastruktur jaringan irigasi hingga luas tanam dan
panen. Kondisi kelangkaan air pada musim kemarau sangat berpengaruh terhadap
usaha pertanian. Untuk itu upaya konservasi air melalui pemanenan air hujan dan
aliran permukaan untuk dimanfaatkan pada saat terjadi krisis air, terutama masa
musim kemarau sebagai bentuk adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
Kegiatan adaptasi melalui pengembangan embung dekat kawasan pertanian
merupakan upaya konservasi air yang tepat guna, murah dan spesifik lokasi,
serta dapat mengatur ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air di tingkat
usaha tani. Pola konservasi air yang sederhana tersebut dapat dilaksanakan
sesuai dengan kemampuan petani yaitu menampung air limpasan atau dari mata air,
dan atau meninggikan muka air dalam skala mikro. Pola pemanenan melalui embung
pertanian diarahkan untuk menambah ketersediaan air untuk pertanian serta dapat
memperlambat laju aliran dengan meresapkan air ke dalam tanah. Embung merupakan
cekungan yang dalam di suatu daerah perbukitan. Embung adalah bendungan buatan
yang dibuat dengan tujuan menampung air hujan dan mengalirkannya ke daerah yang
membutuhkan. Embung biasanya dibuat oleh pemerintah atau masyarakat untuk
mengatasi masalah ketidakcukupan air. Air embung berasal dari limpasan air
hujan yang jatuh di daerah tangkapan. Ukuran embung di klasifikasikan sangat
keci, sedang, besar dan sangat besar. Berdasarkan lama embung menampung air,
diklasifikasikan menjadi embung dengan tampungan sebentar (kemampuan menyimpan
air antara 0-2 bulan), embung denga tampungan menengah (kemampuan menyimpan air
antara 3-5 bulan), dan embung dengan tampungan panjang/lestari (kemampuan
menyimpan air antara 6-8 bulan).
Tujuan pembuatan embung antara
lain: 1). menyediakan air untuk pengairan tanaman di musim kemarau. 2).
meningkatkan produktivitas lahan, masa pola tanam dan pendapatan petani di
lahan tadah hujan. 3). mengaktifkan tenaga kerja petani pada musim kemarau
sehingga mengurangi urbanisasi dari desa ke kota. 4). mencegah/mengurangi
luapan air di musim hujan dan menekan resiko banjir.
Terdapat beberapa jenis embung
yang sering ditemukan di Indonesia, antara lain: a) embung penimbunan yaitu
jenis embung yang dibuat dengan cara menimbun bagian-bagian sungai atau lembah
untuk menampung air, b) embung resapan yaitu jenis embung yang dibuat dengan
cara memanfaatkan lahan yang ada untuk menampung air, c) embung pemberian air
yaitu jenis embung yang digunakan untuk mengalirkan air ke daerah yang
membutuhkan, seperti irigasi sawah atau perkebunan. Jenis-jenis embung tersebut memiliki fungsi
dan manfaat yang berbeda-beda.
Untuk menjamin fungsi dan keamanannya, desain rencana pengambangan
embung mempunyai beberapa bagian yang perlu dipertimbangkan meliputi hal-hal
seperti: 1). tubuh embung berfungsi untuk menutup lembah atau cekungan,
sehingga air dapat tertampung di sebelah hulunya. 2). kolam embung berfungsi
untuk menampung air hujan yang masuk. 3). bangunan sadap berfungsi untuk
mengeluarkan air di kolam bila diperlukan. 4). bangunan pelimpah berfungsi
untuk mengalirkan air banjir dari kolam ke lembah dan untuk mengamankan tubuh embung
terhadap peluapan. 5). kolam jebakan air berfungsi untuk menangkap air yang
tersisa pada musim kemarau, agar air terkumpl pada kolam embung. 6). kolam
jebakan lumpur digunakan untuk menangkap sedimentasi yang masuk ke kolam
embung, agar efektifitas embung tetap terjaga. 7). jaringan irigasi atau
distribusi dapat berupa rangkaian saluran terbuka atau pipa yang berfungsi
membawa air dari kolam embung ke daerah irigasi atau ke bak penampung air
harian yang terletak dekat pemukiman (apabila hal ini memungkinkan) secara
gravitasi dan bertekanan dengan cara pemberian air tidak kontinu.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana
Pertanian Kementerian Pertanian. 2018. Pedoman Teknis Pengembangan Embung
Pertanian Direktorat Irigasi Pertanian. Diakses pada laman http://psp.pertanian.go.id/storage/694/Pedoman_
Teknis_Embung_Pertanian_2018.pdf
Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian. 2015. Pedoman Teknis Pengembangan Embung/Dam Parit. Diakses pada laman http://psp.pertanian.go.id/storage/181/Pedoman_Teknis_Embung_FINAL2.pdf