(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Gumitir: Tanaman Serbaguna di Sekitar Kita

Admin distankan | 24 September 2026 | 787 kali

Disusun oleh:

Pande Made Giopany, S.P.

POPT Ahli Pertama Kecamatan Kubutambahan

 

Tagetes erecta L. atau marigold merupakan tanaman berbunga dari famili Asteraceace yang di Bali lebih dikenal dengan nama gumitir. Tanaman ini mempunyai bunga berwarna kuning hingga jingga cerah serta relatif mudah dibudidayakan pada berbagai kondisi lingkungan. Selain memiliki nilai estetika dan ekonomi sebagai bunga potong maupun sarana upacara keagamaan, gumitir juga termasuk tanaman serbaguna yang dapat dimanfaatkan dalam bidang pertanian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bagian bunga, daun, batang, hingga akar tanaman gumitir memiliki potensi dalam mendukung pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Adapun manfaat tanaman gumitir dalam bidang pertanian antara lain:

1.    Tanaman refugia

Refugia merupakan tanaman yang sengaja ditanam di sekitar atau di dalam areal budidaya untuk menyediakan tempat berlindung, sumber pakan, serta habitat alternatif bagi berbagai organisme bermanfaat. Bunga gumitir yang berwarna cerah serta menyediakan sumber makanan bagi serangga dewasa dapat meningkatkan keberadaan musuh alami yang memiliki peran penting dalam menjaga populasi hama agar tidak berkembang hingga mencapai tingkat yang merugikan.

2.    Menekan nematoda parasit tanaman di dalam tanah

Tanaman dari genus Tagetes menghasilkan kelompok senyawa tiofen, termasuk ?-terthienyl, yang memiliki aktivitas biologis terhadap nematoda. Beberapa penelitian melaporkan bahwa akar gumitir memiliki kandungan dan keragaman tiofen yang jauh lebih tinggi dibandingkan bagian tanaman lainnya. Senyawa ?-terthienyl juga diketahui mempunyai aktivitas nematisida, antara lain dengan memengaruhi perkembangan dan kelangsungan hidup nematoda parasit tanaman. Penanaman gumitir dalam sistem rotasi, tanaman sela, maupun sebagai tanaman pendamping berpotensi menjadi salah satu komponen pengelolaan nematoda yang lebih ramah lingkungan.

3.    Bahan pestisida nabati

Tanaman gumitir memiliki potensi sebagai bahan pestisida nabati karena menghasilkan berbagai senyawa metabolit sekunder. Tanaman ini diketahui mengandung kelompok senyawa seperti flavonoid, terpenoid, minyak atsiri serta senyawa turunan tiofen yang mempunyai aktivitas biologis. Senyawa-senyawa tersebut dapat memengaruhi aktivitas makan, perkembangan maupun kelangsungan hidup organisme sasaran sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan pengendali hama alami. Berbagai penelitian terhadap ekstrak gumitir juga menunjukkan adanya aktivitas insektisida, antifeedant, dan aktivitas biologis lainnya terhadap OPT.

Pemanfaatan gumitir sebagai pestisida nabati tidak terbatas pada bagian bunga. Daun, batang, akar, hingga keseluruhan tanaman juga mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi digunakan dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan. Kandungan dan komposisi senyawa aktif dapat berbeda pada setiap bagian tanaman sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan OPT sasaran. Daun dan bunga lebih mudah dimanfaatkan sebagai bahan ekstrak untuk pengendalian hama pada bagian tanaman di atas permukaan tanah, sedangkan akar dan biomassa tanaman dapat dimanfaatkan untuk membantu menekan organisme pengganggu yang hidup di dalam tanah.

Pestisida nabati dari gumitir dapat dibuat menggunakan daun dan bunga segar. Sekitar 1 kg bahan dicacah atau ditumbuk, kemudian direndam dalam 10 liter air selama 12–24 jam di tempat teduh. Setelah itu, larutan disaring menggunakan kain halus dan dapat ditambahkan 5-10 ml deterjen sebagai perekat dan perata. Larutan kemudian dapat langsung digunakan untuk menyemprot tanaman, terutama pada bagian yang banyak ditemukan hama. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.

Selain daun dan bunga, bagian batang dan akar gumitir juga dapat dimanfaatkan. Untuk sasaran organisme pengganggu di dalam tanah, terutama nematoda, seluruh bagian tanaman dapat dihancurkan dan direndam dalam air. Salah satu formulasi yang pernah digunakan dalam penelitian adalah sekitar 1 kg bahan tanaman dalam 5 liter air yang direndam selama satu malam, kemudian disaring. Larutan hasil ekstraksi dapat diaplikasikan dengan cara disiramkan di sekitar daerah perakaran tanaman.

Pestisida nabati gumitir sebaiknya dibuat sesuai kebutuhan dan digunakan dalam keadaan relatif segar. Sebelum diaplikasikan pada areal yang luas, larutan perlu diuji terlebih dahulu pada beberapa tanaman untuk memastikan tidak menimbulkan gejala fitotoksik seperti bercak, daun terbakar, atau kelayuan. Penggunaannya juga perlu dipadukan dengan teknik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) lainnya karena efektivitas pestisida nabati dapat dipengaruhi oleh konsentrasi, jenis tanaman, organisme sasaran, kondisi lingkungan, serta bagian gumitir yang digunakan.

Sumber Pustaka


Raihandhany, R., & Hanifah, D. S. (2025). Penelahaan pemanfaatan Tagetes erecta L. (Marigold) secara tradisional dalam bidang pertanian dan obat-obatan Indonesia. Berkala Ilmiah Biologi, 16(3):176 – 188. DOI:  10.22146/bib.v16i3.20103

Sahara, E. (2022). Review: Potensi tanaman marigold (Tagetes erecta) sebagai fitoremediator. Jurnal Kimia (Journal Chemistry), 16(1). DOI: https://doi.org/10.24843/JCHEM.2022.v16.i01.p14