Oleh:
Pande Made Giopany, S.P.
POPT Ahli Pertama – Kecamatan Kubutambahan
Nitrogen merupakan unsur yang paling
melimpah di atmosfer bumi. Sekitar 78% komposisi udara tersusun atas gas
nitrogen (N2), sedangkan sisanya terdiri atas oksigen, argon, karbon dioksida,
dan gas-gas lainnya. Besarnya kandungan nitrogen di atmosfer menunjukkan bahwa
unsur ini sebenarnya tersedia dalam jumlah yang sangat melimpah di alam. Namun
demikian, keberlimpahan tersebut tidak secara langsung memberikan manfaat bagi
tanaman. Hal ini disebabkan nitrogen di atmosfer berada dalam bentuk gas
dinitrogen (N2) memiliki ikatan yang kuat, bersifat sangat stabil dan sulit
bereaksi dengan senyawa lain. Akibatnya, sebagian besar tanaman tidak memiliki
kemampuan untuk memanfaatkan nitrogen atmosfer secara langsung sebagai sumber
hara.
Dalam bidang pertanian, nitrogen
merupakan salah satu unsur hara makro esensial yang paling menentukan
pertumbuhan tanaman. Nitrogen berfungsi sebagai penyusun utama asam amino,
protein, enzim, asam nukleat (DNA dan RNA), serta klorofil yang berperan dalam
proses fotosintesis. Tanaman yang memperoleh nitrogen dalam jumlah cukup
umumnya memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih baik, ditandai dengan daun
berwarna hijau, pembentukan tunas yang optimal, serta peningkatan hasil panen.
Sebaliknya, kekurangan nitrogen menyebabkan daun mengalami klorosis
(menguning), pertumbuhan menjadi kerdil, serta penurunan produktivitas tanaman.
Oleh karena itu, ketersediaan nitrogen di dalam tanah menjadi salah satu faktor
pembatas utama dalam budidaya berbagai komoditas pertanian.
Meskipun atmosfer menyimpan cadangan
nitrogen yang sangat besar, tanaman tetap bergantung pada proses fiksasi
nitrogen agar unsur tersebut dapat dimanfaatkan. Fiksasi nitrogen merupakan
proses perubahan nitrogen bebas (N2) menjadi amonia (NH3) yang selanjutnya
diubah menjadi ion amonium (NH4+) dan nitrat (NO3-), yaitu bentuk nitrogen yang
dapat diserap oleh akar tanaman. Proses ini dapat terjadi secara abiotik
melalui sambaran petir maupun secara biologis oleh mikroorganisme penambat
nitrogen. Di antara berbagai mikroorganisme tersebut, bakteri Rhizobium merupakan
salah satu yang memiliki peranan paling penting dalam sistem pertanian,
khususnya pada tanaman leguminosa.
Rhizobium hidup secara simbiosis mutualisme
dengan tanaman dari famili Leguminosae, seperti kedelai, kacang tanah, kacang
hijau, kacang panjang, lamtoro, dan berbagai jenis kacang-kacangan lainnya. Rhizobium menginfeksi rambut akar tanaman dan
merangsang terbentuknya bintil akar (nodul). Di dalam nodul tersebut, bakteri
memperoleh sumber energi berupa karbohidrat hasil fotosintesis tanaman. Sebagai
imbalannya, Rhizobium mengubah nitrogen atmosfer menjadi amonia yang
kemudian dimanfaatkan tanaman sebagai sumber nitrogen.
Keberadaan
Rhizobium memberikan manfaat yang sangat besar dalam bidang pertanian.
Melalui proses fiksasi nitrogen biologis, tanaman mampu memperoleh sebagian
besar kebutuhan nitrogennya tanpa bergantung sepenuhnya pada pupuk nitrogen
sintetis. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, tetapi
juga mampu menekan biaya produksi serta mengurangi dampak pencemaran lingkungan
akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Selain itu, nitrogen hasil
fiksasi yang tertinggal di dalam tanah setelah panen dapat dimanfaatkan oleh
tanaman berikutnya sehingga turut meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
Oleh karena itu, tanaman leguminosa sering dimanfaatkan sebagai tanaman rotasi
maupun tanaman penutup tanah (cover crop).