(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Pangan Kuat, Keluarga Sehat, Desa Mandiri dan Sejahtera

Admin distankan | 07 Mei 2026 | 20 kali

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi secara cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Dalam rangka mendukung ketahanan pangan masyarakat, dilakukan kegiatan pendampingan akses pangan tingkat rumah tangga di Desa Lemukih dan Desa Menyali. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ketersediaan pangan, pola konsumsi masyarakat, akses terhadap bahan pangan, serta kondisi ekonomi rumah tangga yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari.

Pendampingan dilakukan melalui wawancara langsung kepada masyarakat, pelaku usaha pangan, serta pengamatan terhadap kondisi sarana distribusi dan produksi pangan di wilayah desa.

II. GAMBARAN UMUM WILAYAH

A. Desa Lemukih

Luas wilayah : 3.970 Ha

Luas sawah : 112,233 Ha

Persentase lahan sawah : 2,82%

Produksi padi : 27 ton dari 168 Ha

Jumlah penduduk : 4.504 jiwa

Jumlah KK : 1.425 KK

Mata pencaharian petani : 33,9%

Jumlah pedagang : 5 orang

Toko : 22 unit

Toko besar : 1 unit (Distributor Toko Valentine)

SPPG : 1 unit di Sekumpul

Penggilingan padi : 1 unit namun tidak aktif

Sumber air : mata air desa (air minum desa)

Biaya air : Rp10.000/bulan per warga

Jarak pasar : kurang dari 5 km dari dusun terjauh Poh Banjar

Distribusi gabah : dibawa ke Bebetin dan Menyali Sawan

B. Desa Menyali

Luas wilayah : 427 Ha

Luas sawah : 184,82 Ha

Produksi padi : 867,240 ton dari 120,45 Ha

Jumlah penduduk : 5.449 jiwa

Jumlah KK : 1.632 KK

Mata pencaharian buruh : 14%

Jumlah toko : 64 unit

Toserba : 3 unit (termasuk Toko Artos)

Penggilingan padi : Penggilingan Padi Meme Putu Karone

Sumber air : PAM desa

Sistem pembayaran air : bertingkat sesuai pemakaian

III. HASIL PENDAMPINGAN RUMAH TANGGA

A. Rumah Tangga Desa Lemukih

1. Keluarga Ibu Wayan Remin

Jumlah anggota keluarga : 2 KK / 9 orang

Konsumsi beras : 1 kg/hari

Mata pencaharian : pedagang kecil dan buruh harian

Penghasilan : ± Rp100.000/hari

Pengeluaran makan : ± Rp50.000/hari

Harga beras : Rp15.000/kg

Pola konsumsi :

Sayur Rp2.000

Tempe Rp2.000

Kadang membeli telur 4 butir

Analisis

Pendapatan keluarga tergolong rendah dibanding jumlah anggota keluarga yang cukup besar. Konsumsi lauk masih sederhana dan belum bervariasi sehingga berpotensi mempengaruhi kecukupan gizi keluarga. Ketergantungan pada pedagang keliling menunjukkan akses pangan tersedia namun pilihan pangan terbatas.

2. Keluarga Ibu Made Puja Asrini

Jumlah anggota keluarga : 5 orang

Konsumsi beras : 1,5 kg/hari

Mata pencaharian : pedagang kecil

Penghasilan : ± Rp60.000/hari

Pengeluaran makan : ± Rp35.000/hari

Pengeluaran listrik : Rp16.000/bulan

Pola konsumsi :

Tahu dan tempe Rp2.000

Sayur Rp3.000

Pindang Rp20.000

Analisis

Pendapatan rumah tangga masih terbatas dibanding kebutuhan pangan keluarga. Konsumsi protein hewani masih rendah dan belum rutin. Meskipun demikian, keluarga sudah mengatur pengeluaran dengan baik untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

IV. HASIL PENDAMPINGAN USAHA PANGAN

A. Toko Valentine – Desa Lemukih

Harga beras premium : Rp365.000/25 kg

Pengambilan beras : 1 ton/bulan

Distributor : Toko Rama Dewa Yeh Taluh

Merek beras : Osing

Pengambilan bawang merah : 40 kg/bulan @ Rp32.000/kg

Pengambilan bawang putih : 40 kg/bulan @ Rp35.000/kg

Analisis

Distribusi pangan di Desa Lemukih cukup lancar karena toko mampu mengambil stok rutin setiap bulan. Namun harga beras premium relatif tinggi bagi masyarakat berpenghasilan rendah sehingga sebagian rumah tangga memilih membeli beras eceran harian.

V. HASIL PENDAMPINGAN RUMAH TANGGA DESA MENYALI

1. Keluarga Ibu Ketut Kladi

Jumlah anggota keluarga : 2 orang

Konsumsi beras : 1 kg/hari

Mata pencaharian : buruh harian lepas

Penghasilan : ± Rp120.000/hari

Harga beras : Rp15.000/kg

Pengeluaran lauk : ± Rp30.000/hari

Analisis

Kondisi pangan rumah tangga relatif cukup karena jumlah anggota keluarga sedikit dan pendapatan masih mampu memenuhi kebutuhan harian. Namun ketergantungan pada pekerjaan harian menyebabkan pendapatan tidak stabil.

2. Keluarga Ibu Wayan Saning

Jumlah anggota keluarga : 1 orang

Konsumsi beras : 0,5 kg/hari

Tidak bekerja

Pengeluaran makan : ± Rp30.000/hari

Sumber penghasilan : bantuan dari anak

Analisis

Rumah tangga lansia memiliki ketergantungan ekonomi pada anggota keluarga lain. Akses pangan masih terpenuhi, namun kondisi ini rentan apabila bantuan keluarga berkurang.

VI. HASIL PENDAMPINGAN USAHA PANGAN DESA MENYALI

Toko Artos

Pengambilan beras : 3 ton/bulan

Harga beras lokal Tabanan : Rp356.000/25 kg

Stok tersedia : 2 ton

Minyak goreng Rizki : Rp19.000/800 ml

Minyak Sovia : Rp24.300/liter

Pengambilan minyak Sovia : 10–15 dus/bulan

Kebutuhan minyak Sovia : ±30 dus/bulan

Pengambilan beras Osing : 70 sak berbagai ukuran

Harga Osing : Rp400.000/25 kg

Analisis

Ketersediaan pangan pokok di Desa Menyali tergolong baik dengan stok yang cukup besar. Tingginya permintaan minyak goreng menunjukkan kebutuhan rumah tangga cukup tinggi. Harga beras premium masih menjadi tantangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Akses pangan masyarakat cukup baik karena jarak menuju pasar relatif dekat dan terdapat toko penyedia bahan pangan di masing-masing desa.

Kondisi ekonomi masyarakat masih menjadi faktor utama dalam pemenuhan pangan rumah tangga. Sebagian besar masyarakat membeli bahan pangan secara harian dalam jumlah kecil menyesuaikan pendapatan.

Konsumsi pangan masyarakat masih sederhana, didominasi nasi, sayur, tahu, tempe, dan ikan pindang. Konsumsi protein hewani dan pangan bergizi seimbang masih terbatas.

Produksi pertanian lokal belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pangan desa, terlihat dari gabah yang masih dibawa keluar desa untuk proses penggilingan.

Sarana pengolahan hasil pertanian belum optimal, khususnya penggilingan padi di Lemukih yang tidak aktif sehingga distribusi hasil panen bergantung pada desa lain.

Ketersediaan air bersih cukup baik dan mendukung kebutuhan rumah tangga maupun pertanian masyarakat.

Kegiatan pendampingan akses pangan tingkat rumah tangga di Desa Lemukih dan Desa Menyali menunjukkan bahwa ketersediaan pangan masyarakat secara umum cukup terpenuhi, didukung oleh keberadaan toko pangan, akses pasar yang dekat, dan sumber air yang memadai. Namun demikian, keterbatasan pendapatan masyarakat menyebabkan pola konsumsi pangan masih sederhana dan belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang.

Perlu adanya dukungan berkelanjutan melalui penguatan ekonomi rumah tangga, optimalisasi produksi pangan lokal, pengaktifan sarana penggilingan padi, serta edukasi konsumsi pangan bergizi agar ketahanan pangan masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.

Demikian laporan kegiatan pendampingan akses pangan tingkat rumah tangga ini sebagai bahan informasi dan evaluasi dalam mendukung program ketahanan pangan masyarakat desa.

“Bersama Mewujudkan Ketahanan Pangan untuk Keluarga Sehat dan Desa Sejahtera.”