Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi secara cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Dalam rangka mendukung ketahanan pangan masyarakat, dilakukan kegiatan pendampingan akses pangan tingkat rumah tangga di Desa Lemukih dan Desa Menyali. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ketersediaan pangan, pola konsumsi masyarakat, akses terhadap bahan pangan, serta kondisi ekonomi rumah tangga yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari.
Pendampingan dilakukan melalui wawancara langsung kepada masyarakat, pelaku usaha pangan, serta pengamatan terhadap kondisi sarana distribusi dan produksi pangan di wilayah desa.
II. GAMBARAN UMUM WILAYAH
A. Desa Lemukih
Luas wilayah : 3.970 Ha
Luas sawah : 112,233 Ha
Persentase lahan sawah : 2,82%
Produksi padi : 27 ton dari 168 Ha
Jumlah penduduk : 4.504 jiwa
Jumlah KK : 1.425 KK
Mata pencaharian petani : 33,9%
Jumlah pedagang : 5 orang
Toko : 22 unit
Toko besar : 1 unit (Distributor Toko Valentine)
SPPG : 1 unit di Sekumpul
Penggilingan padi : 1 unit namun tidak aktif
Sumber air : mata air desa (air minum desa)
Biaya air : Rp10.000/bulan per warga
Jarak pasar : kurang dari 5 km dari dusun terjauh Poh Banjar
Distribusi gabah : dibawa ke Bebetin dan Menyali Sawan
B. Desa Menyali
Luas wilayah : 427 Ha
Luas sawah : 184,82 Ha
Produksi padi : 867,240 ton dari 120,45 Ha
Jumlah penduduk : 5.449 jiwa
Jumlah KK : 1.632 KK
Mata pencaharian buruh : 14%
Jumlah toko : 64 unit
Toserba : 3 unit (termasuk Toko Artos)
Penggilingan padi : Penggilingan Padi Meme Putu Karone
Sumber air : PAM desa
Sistem pembayaran air : bertingkat sesuai pemakaian
III. HASIL PENDAMPINGAN RUMAH TANGGA
A. Rumah Tangga Desa Lemukih
1. Keluarga Ibu Wayan Remin
Jumlah anggota keluarga : 2 KK / 9 orang
Konsumsi beras : 1 kg/hari
Mata pencaharian : pedagang kecil dan buruh harian
Penghasilan : ± Rp100.000/hari
Pengeluaran makan : ± Rp50.000/hari
Harga beras : Rp15.000/kg
Pola konsumsi :
Sayur Rp2.000
Tempe Rp2.000
Kadang membeli telur 4 butir
Analisis
Pendapatan keluarga tergolong rendah dibanding jumlah anggota keluarga yang cukup besar. Konsumsi lauk masih sederhana dan belum bervariasi sehingga berpotensi mempengaruhi kecukupan gizi keluarga. Ketergantungan pada pedagang keliling menunjukkan akses pangan tersedia namun pilihan pangan terbatas.
2. Keluarga Ibu Made Puja Asrini
Jumlah anggota keluarga : 5 orang
Konsumsi beras : 1,5 kg/hari
Mata pencaharian : pedagang kecil
Penghasilan : ± Rp60.000/hari
Pengeluaran makan : ± Rp35.000/hari
Pengeluaran listrik : Rp16.000/bulan
Pola konsumsi :
Tahu dan tempe Rp2.000
Sayur Rp3.000
Pindang Rp20.000
Analisis
Pendapatan rumah tangga masih terbatas dibanding kebutuhan pangan keluarga. Konsumsi protein hewani masih rendah dan belum rutin. Meskipun demikian, keluarga sudah mengatur pengeluaran dengan baik untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
IV. HASIL PENDAMPINGAN USAHA PANGAN
A. Toko Valentine – Desa Lemukih
Harga beras premium : Rp365.000/25 kg
Pengambilan beras : 1 ton/bulan
Distributor : Toko Rama Dewa Yeh Taluh
Merek beras : Osing
Pengambilan bawang merah : 40 kg/bulan @ Rp32.000/kg
Pengambilan bawang putih : 40 kg/bulan @ Rp35.000/kg
Analisis
Distribusi pangan di Desa Lemukih cukup lancar karena toko mampu mengambil stok rutin setiap bulan. Namun harga beras premium relatif tinggi bagi masyarakat berpenghasilan rendah sehingga sebagian rumah tangga memilih membeli beras eceran harian.
V. HASIL PENDAMPINGAN RUMAH TANGGA DESA MENYALI
1. Keluarga Ibu Ketut Kladi
Jumlah anggota keluarga : 2 orang
Konsumsi beras : 1 kg/hari
Mata pencaharian : buruh harian lepas
Penghasilan : ± Rp120.000/hari
Harga beras : Rp15.000/kg
Pengeluaran lauk : ± Rp30.000/hari
Analisis
Kondisi pangan rumah tangga relatif cukup karena jumlah anggota keluarga sedikit dan pendapatan masih mampu memenuhi kebutuhan harian. Namun ketergantungan pada pekerjaan harian menyebabkan pendapatan tidak stabil.
2. Keluarga Ibu Wayan Saning
Jumlah anggota keluarga : 1 orang
Konsumsi beras : 0,5 kg/hari
Tidak bekerja
Pengeluaran makan : ± Rp30.000/hari
Sumber penghasilan : bantuan dari anak
Analisis
Rumah tangga lansia memiliki ketergantungan ekonomi pada anggota keluarga lain. Akses pangan masih terpenuhi, namun kondisi ini rentan apabila bantuan keluarga berkurang.
VI. HASIL PENDAMPINGAN USAHA PANGAN DESA MENYALI
Toko Artos
Pengambilan beras : 3 ton/bulan
Harga beras lokal Tabanan : Rp356.000/25 kg
Stok tersedia : 2 ton
Minyak goreng Rizki : Rp19.000/800 ml
Minyak Sovia : Rp24.300/liter
Pengambilan minyak Sovia : 10–15 dus/bulan
Kebutuhan minyak Sovia : ±30 dus/bulan
Pengambilan beras Osing : 70 sak berbagai ukuran
Harga Osing : Rp400.000/25 kg
Analisis
Ketersediaan pangan pokok di Desa Menyali tergolong baik dengan stok yang cukup besar. Tingginya permintaan minyak goreng menunjukkan kebutuhan rumah tangga cukup tinggi. Harga beras premium masih menjadi tantangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Akses pangan masyarakat cukup baik karena jarak menuju pasar relatif dekat dan terdapat toko penyedia bahan pangan di masing-masing desa.
Kondisi ekonomi masyarakat masih menjadi faktor utama dalam pemenuhan pangan rumah tangga. Sebagian besar masyarakat membeli bahan pangan secara harian dalam jumlah kecil menyesuaikan pendapatan.
Konsumsi pangan masyarakat masih sederhana, didominasi nasi, sayur, tahu, tempe, dan ikan pindang. Konsumsi protein hewani dan pangan bergizi seimbang masih terbatas.
Produksi pertanian lokal belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pangan desa, terlihat dari gabah yang masih dibawa keluar desa untuk proses penggilingan.
Sarana pengolahan hasil pertanian belum optimal, khususnya penggilingan padi di Lemukih yang tidak aktif sehingga distribusi hasil panen bergantung pada desa lain.
Ketersediaan air bersih cukup baik dan mendukung kebutuhan rumah tangga maupun pertanian masyarakat.
Kegiatan pendampingan akses pangan tingkat rumah tangga di Desa Lemukih dan Desa Menyali menunjukkan bahwa ketersediaan pangan masyarakat secara umum cukup terpenuhi, didukung oleh keberadaan toko pangan, akses pasar yang dekat, dan sumber air yang memadai. Namun demikian, keterbatasan pendapatan masyarakat menyebabkan pola konsumsi pangan masih sederhana dan belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang.
Perlu adanya dukungan berkelanjutan melalui penguatan ekonomi rumah tangga, optimalisasi produksi pangan lokal, pengaktifan sarana penggilingan padi, serta edukasi konsumsi pangan bergizi agar ketahanan pangan masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.
Demikian laporan kegiatan pendampingan akses pangan tingkat rumah tangga ini sebagai bahan informasi dan evaluasi dalam mendukung program ketahanan pangan masyarakat desa.
“Bersama Mewujudkan Ketahanan Pangan untuk Keluarga Sehat dan Desa Sejahtera.”