Pada Senin, 11 Mei 2026, dilakukan pembinaan terhadap Pokdakan Mina Sari, Desa Sinabun yang masih aktif melakukan kegiatan budidaya pembesaran ikan nila dengan 20 anggota aktif. Kelompok ini mengelola 10 kolam berbahan terpal dengan diameter 3 meter, namun menghadapi berbagai kendala yang menghambat produktivitas seperti kurangnya ketersediaan air terutama saat musim kemarau, mahalnya harga pakan, dan pertumbuhan ikan yang lambat yang tidak sesuai dengan harapan.
Dari hasil pengecekan kualitas air didapatkan suhu 26,5–28,45°C yang sangat baik untuk ikan nila, pH 5,93–6,68 yang tergolong terlalu asam karena idealnya berada di kisaran 6,5–8,5, kadar oksigen terlarut (DO) 2,53–4,71 mg/L yang masih rendah karena ikan nila membutuhkan minimal 5 mg/L untuk pertumbuhan optimal, serta TDS 245–274 mg/L yang masih dalam batas normal. Kondisi pH yang asam dan kadar oksigen yang rendah inilah yang dapat menjadi penyebab utama pertumbuhan ikan nila yang lambat sehingga memerlukan penanganan segera.
Dari sisi manajemen budidaya, dinas memberikan beberapa saran penting kepada Pokdakan Mina Sari untuk meningkatkan kualitas pemeliharaan ikan nila. Pertama, diperlukan penerapan grading atau pemisahan ikan berdasarkan ukuran agar pemeliharaan lebih terkontrol dan pertumbuhan ikan menjadi lebih seragam tanpa adanya persaingan makanan yang tidak merata. Kedua, perlu dilakukan penggantian air secara rutin untuk memperoleh air baru dengan kualitas lebih baik sekaligus meningkatkan kadar oksigen terlarut yang selama ini masih rendah. Ketiga, ukuran pelet harus diganti karena yang saat ini digunakan terlalu besar untuk ikan berukuran kecil, sehingga sulit dikonsumsi dan nutrisi tidak terserap optimal.
Selain pakan buatan, kelompok juga dapat memanfaatkan pakan alami seperti azoella dan dedaunan yang kaya nutrisi dan lebih ekonomis. Kelompok telah mengembangkan budidaya maggot yang bisa menjadi pakan alternatif bernilai tinggi bagi ikan nila, mengurangi ketergantungan pada pakan buatan yang harganya semakin mahal. Untuk mengatasi kekurangan oksigen secara sederhana dan praktis, dapat digunakan teknik percikan air dari saluran pemasukan sehingga terjadi pergerakan air yang berfungsi sebagai pemasok oksigen alami ke dalam kolam tanpa perlu investasi alat aerasi yang mahal.
Sementara itu, untuk calon penerima bantuan tematik bioflok telah teridentifikasi lokasi yang siap dengan lahan yang tersedia, akses listrik yang memadai, dan akses air yang cukup untuk mendukung kegiatan budidaya di masa mendatang, meskipun masih memerlukan pembersihan lahan sebelum kegiatan dimulai setelah dinyatakan lulus mendapatkan bantuan. Lokasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan dengan sistem bioflok yang lebih efisien dan berkelanjutan karena fondasi infrastrukturnya sudah kuat, sehingga dengan perbaikan manajemen yang tepat pada Pokdakan Mina Sari dan pemanfaatan bantuan tematik bioflok, kelompok ini dapat meningkatkan produktivitas budidaya ikan nila secara signifikan menuju usaha perikanan yang lebih modern dan menguntungkan.