(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Penyakit Mati Pohon pada Manggis: Kenali Penyebab dan Strategi Pengendaliannya

Admin distankan | 18 Mei 2026 | 29 kali

Oleh:

I Wayan Rusman, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda Kecamatan Sawan

Tanaman manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi komoditas ekspor penting Indonesia. Namun dalam budidayanya, tanaman manggis sering menghadapi berbagai kendala, salah satunya gejala mati pohon yang menyebabkan penurunan produktivitas hingga kematian tanaman. Kondisi ini banyak ditemukan pada pertanaman manggis dengan drainase kurang baik, kelembapan tinggi, serta kondisi perakaran yang terganggu.

Gejala dan Penyebab Penyakit

Gejala mati pohon pada manggis sebenarnya dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor lingkungan maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Faktor lingkungan seperti genangan air, drainase buruk, dan kekeringan berkepanjangan dapat menyebabkan stres pada sistem perakaran sehingga tanaman menjadi lemah dan rentan terserang patogen. Selain itu, berdasarkan kondisi di lapangan, kematian tanaman manggis juga diduga kuat disebabkan oleh infeksi jamur patogen tular tanah yang menyerang akar tanaman.

Salah satu jamur yang sering ditemukan pada tanaman manggis dengan gejala mati pohon adalah jamur akar putih Rigidoporus microporus. Serangan jamur ini biasanya berlangsung secara bertahap dan sering tidak disadari pada fase awal. Gejala awal ditandai dengan daun tampak kusam, pertumbuhan tanaman melambat, daun menguning, serta tanaman terlihat layu terutama pada siang hari meskipun kondisi tanah masih cukup lembap. Pada serangan lanjut, akar tanaman mulai membusuk dan muncul benang-benang jamur berwarna putih pada permukaan akar. Kerusakan akar menyebabkan penyerapan air dan unsur hara terganggu sehingga tajuk tanaman meranggas dan akhirnya tanaman mati atau roboh.

Selain jamur akar putih, gejala mati pohon pada manggis juga dapat disebabkan oleh serangan jamur Pythium sp. Patogen ini berkembang baik pada kondisi tanah terlalu lembap dan aerasi buruk. Serangan Pythium umumnya menyerang akar muda dan akar halus tanaman. Akar yang terserang berubah warna menjadi cokelat kehitaman, teksturnya menjadi lembek dan membusuk, serta kulit akar mudah terkelupas. Berbeda dengan serangan jamur akar putih, infeksi Pythium tidak menunjukkan adanya benang jamur putih tebal pada akar. Pada bagian tajuk tanaman, gejala yang terlihat berupa daun layu meskipun tanah masih basah, daun menguning, tanaman tampak mengalami stres air, pertumbuhan terhambat, dan pada serangan berat tanaman dapat mati dengan cepat.

Pengendalian Penyakit

Pengendalian penyakit mati pohon pada manggis perlu dilakukan secara terpadu agar hasil pengendalian lebih efektif. Pada serangan sedang hingga berat, tindakan awal yang dapat dilakukan adalah aplikasi fungisida sistemik melalui pengocoran di sekitar perakaran ataupun melalui infus batang atau akar. Beberapa bahan aktif yang umum digunakan antara lain asam fosfit, propikonazol, dan heksakonazol. Penggunaan fungisida harus mengikuti prinsip enam tepat yaitu tepat jenis, tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara aplikasi, dan tepat mutu bahan agar efektivitas pengendalian dapat optimal.

Selain pengendalian kimia, penggunaan agen pengendali hayati juga menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit akar pada manggis. Salah satu agen hayati yang banyak digunakan adalah Trichoderma sp. Jamur antagonis ini mampu menekan perkembangan jamur patogen penyebab penyakit akar seperti Rigidoporus microporus maupun Pythium sp. Aplikasi Trichoderma sebaiknya dilakukan sekitar 10-14 hari setelah aplikasi fungisida kimia, dengan interval pengocoran sekitar 7-10 hari sekali. Saat ini, pilihan untuk mendapatkan mikroorganisme ini cukup beragam, mulai dari membuat kultur sendiri dengan mencari sumber Trichoderma sp. di perakaran bambu hingga menggunakan produk Trichoderma kemasan yang sudah banyak dijual di pasaran. Karena merupakan mikroorganisme hidup, aplikasinya harus dilakukan secara hati-hati dan tidak dicampur langsung dengan pestisida kimia agar mikroorganisme tetap aktif dan efektif di dalam tanah.

Selain fungisida dan agen hayati, penggunaan bahan ramah lingkungan juga mulai banyak diterapkan dalam pengendalian penyakit tanaman. Salah satunya adalah penggunaan jadam sulfur yang dibuat dari campuran belerang dan soda api. Larutan ini diketahui memiliki sifat antijamur dan cukup banyak digunakan dalam sistem pertanian ramah lingkungan. Selain itu, juga bisa menggunakan JAKABA (Jamur Keberuntungan Abadi) yang dibuat dari fermentasi air cucian beras, bekatul, akar bambu, dan bahan organik lainnya juga mulai banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme menguntungkan di dalam tanah sehingga kesehatan perakaran tanaman menjadi lebih baik.

Keberhasilan pengendalian penyakit mati pohon pada manggis dipengaruhi oleh ketepatan identifikasi penyebab penyakit, kualitas bahan pengendali, dosis dan cara aplikasi, serta kondisi lingkungan kebun. Drainase yang baik menjadi salah satu faktor penting karena sebagian besar patogen akar berkembang optimal pada kondisi tanah terlalu lembap dan sistem aerasi yang buruk. Oleh karena itu, selain melakukan pengendalian terhadap patogen, petani juga perlu menjaga kesehatan tanah dan lingkungan pertanaman agar tanaman manggis tetap tumbuh sehat dan produktif.

Daftar Referensi:

Agrios, G. N. 2005. Plant Pathology. 5th Edition. Elsevier Academic Press.

Semangun, H. 2007. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press.

Watanabe, T. 2010. Pictorial Atlas of Soil and Seed Fungi. CRC Press.