Oleh:
I Wayan
Rusman, S.P.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda Kecamatan Sawan
Tanaman manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan
salah satu komoditas hortikultura unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi
dan menjadi komoditas ekspor penting Indonesia. Namun dalam budidayanya,
tanaman manggis sering menghadapi berbagai kendala, salah satunya gejala mati
pohon yang menyebabkan penurunan produktivitas hingga kematian tanaman. Kondisi
ini banyak ditemukan pada pertanaman manggis dengan drainase kurang baik,
kelembapan tinggi, serta kondisi perakaran yang terganggu.
Gejala
dan Penyebab Penyakit
Gejala mati pohon pada manggis sebenarnya dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, baik faktor lingkungan maupun serangan organisme
pengganggu tanaman (OPT). Faktor lingkungan seperti genangan air, drainase
buruk, dan kekeringan berkepanjangan dapat menyebabkan stres pada sistem perakaran
sehingga tanaman menjadi lemah dan rentan terserang patogen. Selain itu,
berdasarkan kondisi di lapangan, kematian tanaman manggis juga diduga kuat
disebabkan oleh infeksi jamur patogen tular tanah yang menyerang akar tanaman.
Salah satu jamur yang sering ditemukan pada tanaman manggis
dengan gejala mati pohon adalah jamur akar putih Rigidoporus microporus.
Serangan jamur ini biasanya berlangsung secara bertahap dan sering tidak
disadari pada fase awal. Gejala awal ditandai dengan daun tampak kusam, pertumbuhan
tanaman melambat, daun menguning, serta tanaman terlihat layu terutama pada
siang hari meskipun kondisi tanah masih cukup lembap. Pada serangan lanjut,
akar tanaman mulai membusuk dan muncul benang-benang jamur berwarna putih pada
permukaan akar. Kerusakan akar menyebabkan penyerapan air dan unsur hara
terganggu sehingga tajuk tanaman meranggas dan akhirnya tanaman mati atau
roboh.
Selain jamur akar putih, gejala mati pohon pada manggis juga
dapat disebabkan oleh serangan jamur Pythium sp. Patogen ini
berkembang baik pada kondisi tanah terlalu lembap dan aerasi buruk. Serangan Pythium
umumnya menyerang akar muda dan akar halus tanaman. Akar yang terserang berubah
warna menjadi cokelat kehitaman, teksturnya menjadi lembek dan membusuk, serta
kulit akar mudah terkelupas. Berbeda dengan serangan jamur akar putih, infeksi Pythium
tidak menunjukkan adanya benang jamur putih tebal pada akar. Pada bagian tajuk
tanaman, gejala yang terlihat berupa daun layu meskipun tanah masih basah, daun
menguning, tanaman tampak mengalami stres air, pertumbuhan terhambat, dan pada
serangan berat tanaman dapat mati dengan cepat.
Pengendalian
Penyakit
Pengendalian penyakit mati pohon pada manggis perlu dilakukan
secara terpadu agar hasil pengendalian lebih efektif. Pada serangan sedang
hingga berat, tindakan awal yang dapat dilakukan adalah aplikasi fungisida
sistemik melalui pengocoran di sekitar perakaran ataupun melalui infus batang
atau akar. Beberapa bahan aktif yang umum digunakan antara lain asam fosfit,
propikonazol, dan heksakonazol. Penggunaan fungisida harus mengikuti prinsip
enam tepat yaitu tepat jenis, tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu, tepat
cara aplikasi, dan tepat mutu bahan agar efektivitas pengendalian dapat
optimal.
Selain pengendalian kimia, penggunaan agen pengendali hayati
juga menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit akar pada manggis.
Salah satu agen hayati yang banyak digunakan adalah Trichoderma sp.
Jamur antagonis ini mampu menekan perkembangan jamur patogen penyebab penyakit
akar seperti Rigidoporus microporus maupun Pythium sp.
Aplikasi Trichoderma sebaiknya dilakukan sekitar 10-14 hari setelah aplikasi
fungisida kimia, dengan interval pengocoran sekitar 7-10 hari sekali. Saat ini,
pilihan untuk mendapatkan mikroorganisme ini cukup beragam, mulai dari membuat
kultur sendiri dengan mencari sumber Trichoderma sp. di perakaran bambu
hingga menggunakan produk Trichoderma kemasan yang sudah banyak dijual di
pasaran. Karena merupakan mikroorganisme hidup, aplikasinya harus dilakukan
secara hati-hati dan tidak dicampur langsung dengan pestisida kimia agar
mikroorganisme tetap aktif dan efektif di dalam tanah.
Selain fungisida dan agen hayati, penggunaan bahan ramah
lingkungan juga mulai banyak diterapkan dalam pengendalian penyakit tanaman.
Salah satunya adalah penggunaan jadam sulfur yang dibuat dari campuran belerang
dan soda api. Larutan ini diketahui memiliki sifat antijamur dan cukup banyak
digunakan dalam sistem pertanian ramah lingkungan. Selain itu, juga bisa
menggunakan JAKABA (Jamur Keberuntungan Abadi) yang dibuat dari fermentasi air
cucian beras, bekatul, akar bambu, dan bahan organik lainnya juga mulai banyak
dimanfaatkan untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme menguntungkan di dalam
tanah sehingga kesehatan perakaran tanaman menjadi lebih baik.
Keberhasilan pengendalian penyakit mati pohon pada manggis dipengaruhi oleh ketepatan identifikasi penyebab penyakit, kualitas bahan pengendali, dosis dan cara aplikasi, serta kondisi lingkungan kebun. Drainase yang baik menjadi salah satu faktor penting karena sebagian besar patogen akar berkembang optimal pada kondisi tanah terlalu lembap dan sistem aerasi yang buruk. Oleh karena itu, selain melakukan pengendalian terhadap patogen, petani juga perlu menjaga kesehatan tanah dan lingkungan pertanaman agar tanaman manggis tetap tumbuh sehat dan produktif.
Agrios, G. N. 2005. Plant
Pathology. 5th Edition. Elsevier Academic Press.
Semangun, H. 2007. Penyakit-Penyakit
Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Watanabe, T. 2010. Pictorial
Atlas of Soil and Seed Fungi. CRC Press.