Oleh :
Rafika Ardiani, S.P /POPT Ahli Pertama Balai Pertanian
Kecamatan Gerokgak
Pengendalian hama merupakan salah satu aspek penting yang
dilakukan dalam upaya meningkatkan produktivitas hasil tanaman. Permasalahn
yang sering dihadapu oleh petani dalam kegiatan budidaya pertanian adalah
seranagan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama dan penyakit yang
perlu dikendalikan. Serangan ini hampir selalu terjadi di setiap musim tanam
sehihngga mendorong petani untuk menggunakan pestisida kimia sintetik sebagai
cara utama pengendalian. Kesalahan dalam penggunaan pestisida juga dapat
menimbulkan berbagai risiko, baik bagi kesehatan pengguna maupun lingkungan.
Pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan dapat menjadi salah satu
alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia. Pemanfaatan pestisida
nabati bisa dijadikan salah satu cara untuk mengendalikan hama yang tidak
merusak ekosistem (Septian et al., 2021). Salah satu tanaman yang berpotensi
sebagai bahan pestisida nabati adalah sirsak (Annona muricata L.). Daun
sirsak diketahui mengandung berbagai senyawa kimia seperti flavonoid, saponin,
tanin, glikosida, annonain, serta senyawa bioaktif lainnya yang berperan
sebagai antifeedant yaitu senyawa organik yang dihasilkan tanaman untuk
menghambat serangan serangga dan hewan herbivora serta berfungsi sebagai racun
kontak dan racun perut bagi berbagai jenis hama tanaman. Kandungan senyawa
seperti flavonoid, saponin, dan steroid pada daun sirsak, dengan konsentrasi
tinggi dapat menimbulkan efek racun perut yang efektif dalam mengendalikan
serangan hama (Maulida, 2022).
Berikut merupakan beberapa hasil studi kasus ataupun hasil
penelitian yang menguji efektivitas daun sirsak sebagai pengendalian hama :
1. Berdasarkan penelitian Darlis et.
al (2024), pemberian pestisida nabati berupa ekstrak daun sirsak terhadap hama kutu daun juga memberikan hasil
kematian hama lebih cepat. Pemberian konsentrasi ekstrak daun sirsak sebanyak
30 gram/liter menghasilkan waktu awal kematian tercepat, yaitu 2,5 jam, dengan
lethal time (LT) sebesar 8,5 jam, serta mampu menyebabkan mortalitas hama kutu
putih sebanyak 90%.
2. Berdasarkan penelitian Herdiyanti
et.al (2019), pada tanaman cabai rawit menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
nyata antara tiap perlakuan yang berarti ekstrak daun sirsak berpengaruh
signifikan terhadap tingkat mortalitas hama kutu putih. Konsentrasi paling
efektif terdapat pada perlakuan 10% dan 12%, dengan tingkat kematian hama
tertinggi dan tidak menunjukkan perbedaan nyata antara keduannya.
3. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Debora Zega et.al (2024) menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak
terbukti efektif dalam mengendalikan hama pada tanaman terong. Penggunaan
ekstrak daun sirsak dengan konsentrasi 30% memberikan pengendalian hama yang
optimal dengan penurunan populasi hama hingga 70%.
4. Berdasarkan penelitian Amalia
et.al (2022) menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak berpengaruh nyata terhadap
mortalitas dan intensitas serangan ulat grayak Spodoptera frugiperda
pada tanaman jgung. Ekstrak daun sirsak mulai dari konsentrasi 100 g/l mampu
memberikan pengaruh nyata terhadap intensitas serangan dan mortalitas Spodoptera
frugiperda.
Berdasarkan hasil berbagai penelitian
tersebut dapat diketahui bahwa daun sirsak memiliki potensi besar sebagai bahan
pestisida nabati. Bagian daun dimanfaatkan karena mengandung senyawa aktif yang
berfungsi sebagai insektisida, larvasida, repelen (penolak serangga), dan
atifeedant (penghambat aktivitas makan hama ), dengan mekanisme kerja melalui
racun kontak serta racun perut.
Daun sirsak memiliki kandungan senyawa acetogenin seperti bulatacin, squamocin, dan acimicin yang berfungsi sebagai rcun kontak dan racun perut. Senyawa ini termasuk dlam metabolisme sekunder yang berperan sebagai mekanisme pertahana alami tanaman. Kandungan tersebut menjadi bahan aktif utama dalam pestisida nabati karena memiliki sifat khas, seperti rasa pahit akibat adanya terpen dan alkaloid, serta aroma menyengat dan rasa pedas yang dapat menolak atau mengusir hama. Pestisida nabati yang berasal dari senyawa ini bekerja dengan cara merusak atau menghambat perkembangan hama, mulai dari fase telur, larva, hingga proses pergntian kulit, serta dapat menekan pertumbuhan petogen (Rahmawati, et.al, 2019).
Sumber :
Amalia, R., Sugiarto, S., &
Surjana, T. (2022). Pengaruh Esktrak Daun Sirsak (Anonna Muricata L.) Terhadap
Mortalitas Dan Intensitas Serangan Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith)
Pada Tanaman Jagung (Zea mays L.).Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan,8(9),176-186.
https://doi.org/10.5281/zenodo.664423
Darlis, V. V., Bakara, J. P.,
Mardhiansyah, M., & Pebriandi. (2024). Pemanfaatan Ekstrak Daun Sirsak
(Annona muricata) sebagai Pestisida Nabati Terhadap Pengendalian Hama Kutu
Putih (Paracoccus marginatus) pada Pembibitan Akasia (Acacia crassicarpa).
Journal of Tropical Silviculture.
Debora Zega, N., Kaskar, E., Lase,
J., Hura, K., Gulo, M., Agroteknologi, ), Sains, F., & Teknologi, D.
(2024). EFEKTIVITAS PESTISIDA ALAMI BERBAHAN DASAR DAUN SIRSAK PADA HAMA
TANAMAN TERUNG. PENARIK: Jurnal Ilmu Pertanian Dan Perikanan, 01, 241–247.
Rahmawati, R., Syarief, M., Jumiatun,
F., & Djenal, F. (2019). Potensi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata) Pada
Pengendalian Hama Penghisap Polong (Riptortus linearis) Tanaman Kedelai.
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences, 3(1), 22–29. https://doi.org/10.25047/agriprima.v3i1.130.