(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Efektivitas Daun Sirsak Sebagai Pestisida Nabati Terhadap Serangan Hama Tanaman

Admin distankan | 26 Agustus 2026 | 653 kali

Oleh :

Rafika Ardiani, S.P /POPT Ahli Pertama Balai Pertanian Kecamatan Gerokgak

 

Pengendalian hama merupakan salah satu aspek penting yang dilakukan dalam upaya meningkatkan produktivitas hasil tanaman. Permasalahn yang sering dihadapu oleh petani dalam kegiatan budidaya pertanian adalah seranagan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama dan penyakit yang perlu dikendalikan. Serangan ini hampir selalu terjadi di setiap musim tanam sehihngga mendorong petani untuk menggunakan pestisida kimia sintetik sebagai cara utama pengendalian. Kesalahan dalam penggunaan pestisida juga dapat menimbulkan berbagai risiko, baik bagi kesehatan pengguna maupun lingkungan. Pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia. Pemanfaatan pestisida nabati bisa dijadikan salah satu cara untuk mengendalikan hama yang tidak merusak ekosistem (Septian et al., 2021). Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai bahan pestisida nabati adalah sirsak (Annona muricata L.). Daun sirsak diketahui mengandung berbagai senyawa kimia seperti flavonoid, saponin, tanin, glikosida, annonain, serta senyawa bioaktif lainnya yang berperan sebagai antifeedant yaitu senyawa organik yang dihasilkan tanaman untuk menghambat serangan serangga dan hewan herbivora serta berfungsi sebagai racun kontak dan racun perut bagi berbagai jenis hama tanaman. Kandungan senyawa seperti flavonoid, saponin, dan steroid pada daun sirsak, dengan konsentrasi tinggi dapat menimbulkan efek racun perut yang efektif dalam mengendalikan serangan hama (Maulida, 2022).

Berikut merupakan beberapa hasil studi kasus ataupun hasil penelitian yang menguji efektivitas daun sirsak sebagai pengendalian hama :

1. Berdasarkan penelitian Darlis et. al (2024), pemberian pestisida nabati berupa ekstrak daun sirsak  terhadap hama kutu daun juga memberikan hasil kematian hama lebih cepat. Pemberian konsentrasi ekstrak daun sirsak sebanyak 30 gram/liter menghasilkan waktu awal kematian tercepat, yaitu 2,5 jam, dengan lethal time (LT) sebesar 8,5 jam, serta mampu menyebabkan mortalitas hama kutu putih sebanyak 90%.

2. Berdasarkan penelitian Herdiyanti et.al (2019), pada tanaman cabai rawit menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata antara tiap perlakuan yang berarti ekstrak daun sirsak berpengaruh signifikan terhadap tingkat mortalitas hama kutu putih. Konsentrasi paling efektif terdapat pada perlakuan 10% dan 12%, dengan tingkat kematian hama tertinggi dan tidak menunjukkan perbedaan nyata antara keduannya.

3. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Debora Zega et.al (2024) menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak terbukti efektif dalam mengendalikan hama pada tanaman terong. Penggunaan ekstrak daun sirsak dengan konsentrasi 30% memberikan pengendalian hama yang optimal dengan penurunan populasi hama hingga 70%.

4. Berdasarkan penelitian Amalia et.al (2022) menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak berpengaruh nyata terhadap mortalitas dan intensitas serangan ulat grayak Spodoptera frugiperda pada tanaman jgung. Ekstrak daun sirsak mulai dari konsentrasi 100 g/l mampu memberikan pengaruh nyata terhadap intensitas serangan dan mortalitas Spodoptera frugiperda.

Berdasarkan hasil berbagai penelitian tersebut dapat diketahui bahwa daun sirsak memiliki potensi besar sebagai bahan pestisida nabati. Bagian daun dimanfaatkan karena mengandung senyawa aktif yang berfungsi sebagai insektisida, larvasida, repelen (penolak serangga), dan atifeedant (penghambat aktivitas makan hama ), dengan mekanisme kerja melalui racun kontak serta racun perut.

Daun sirsak memiliki kandungan senyawa acetogenin seperti bulatacin, squamocin, dan acimicin yang berfungsi sebagai rcun kontak dan racun perut. Senyawa ini termasuk dlam metabolisme sekunder yang berperan sebagai mekanisme pertahana alami tanaman. Kandungan tersebut menjadi bahan aktif utama dalam pestisida nabati karena memiliki sifat khas, seperti rasa pahit akibat adanya terpen dan alkaloid, serta aroma menyengat dan rasa pedas yang dapat menolak atau mengusir hama. Pestisida nabati yang berasal dari senyawa ini bekerja dengan cara merusak atau menghambat perkembangan hama, mulai dari fase telur, larva, hingga proses pergntian kulit, serta dapat menekan pertumbuhan petogen (Rahmawati, et.al, 2019). 

Sumber :

Amalia, R., Sugiarto, S., & Surjana, T. (2022). Pengaruh Esktrak Daun Sirsak (Anonna Muricata L.) Terhadap Mortalitas Dan Intensitas Serangan Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) Pada Tanaman Jagung (Zea mays L.).Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan,8(9),176-186. https://doi.org/10.5281/zenodo.664423

Darlis, V. V., Bakara, J. P., Mardhiansyah, M., & Pebriandi. (2024). Pemanfaatan Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata) sebagai Pestisida Nabati Terhadap Pengendalian Hama Kutu Putih (Paracoccus marginatus) pada Pembibitan Akasia (Acacia crassicarpa). Journal of Tropical Silviculture.

Debora Zega, N., Kaskar, E., Lase, J., Hura, K., Gulo, M., Agroteknologi, ), Sains, F., & Teknologi, D. (2024). EFEKTIVITAS PESTISIDA ALAMI BERBAHAN DASAR DAUN SIRSAK PADA HAMA TANAMAN TERUNG. PENARIK: Jurnal Ilmu Pertanian Dan Perikanan, 01, 241–247.

Rahmawati, R., Syarief, M., Jumiatun, F., & Djenal, F. (2019). Potensi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata) Pada Pengendalian Hama Penghisap Polong (Riptortus linearis) Tanaman Kedelai. Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences, 3(1), 22–29.  https://doi.org/10.25047/agriprima.v3i1.130.