Oleh
I Wayan
Sudiarta, S.P.
Pengendali
Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Pertama
Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Seririt
Seorang
petani atas nama Md Kaler, anggota Subak Pohasem, Desa Mayong, Kecamatan
Seririt dengan luas garapan tanaman padi ±50 are varietas Inpari 32, melaporkan
kepada petugas POPT terkait kondisi pertanaman padinya yang mengalami rebah di
beberapa petakan. Tanaman saat ini berada pada fase pengisian bulir hingga
menjelang masak susu. Rebahnya tanaman terlihat cukup merata pada bagian
tertentu lahan, sehingga petani merasa khawatir akan berdampak pada penurunan
produksi dan kualitas gabah. Beliau menanyakan apakah kondisi tersebut
disebabkan oleh serangan hama dan penyakit atau karena faktor fisiologis
tanaman.
Berdasarkan
hasil pengamatan lapangan, rebah pada tanaman padi secara umum dapat disebabkan
oleh dua faktor utama, yaitu rebah fisiologis dan rebah akibat serangan
hama/penyakit.
Rebah
fisiologis biasanya terjadi karena faktor non-patogen, seperti pemupukan
nitrogen yang berlebihan sehingga pertumbuhan tanaman terlalu subur, batang
menjadi tinggi namun kurang kokoh. Selain itu, jarak tanam yang terlalu rapat
dapat menyebabkan tanaman tumbuh meninggi untuk berebut cahaya sehingga batang
menjadi lemah. Faktor perakaran yang kurang kuat akibat kondisi tanah yang
terlalu gembur atau tergenang dalam waktu lama juga dapat memicu tanaman mudah
roboh. Kondisi cuaca seperti hujan lebat disertai angin kencang juga menjadi
faktor pemicu utama rebah fisiologis, terutama pada fase pengisian bulir ketika
malai sudah berisi dan bobot tanaman semakin berat. Pada kasus rebah
fisiologis, umumnya batang tidak menunjukkan gejala pembusukan atau kerusakan
jaringan, melainkan hanya patah atau miring dari pangkal akibat tidak mampu
menopang beban.
Sementara
itu, rebah akibat hama dan penyakit umumnya ditandai dengan adanya gejala
spesifik pada batang atau pangkal tanaman. Serangan penggerek batang dapat
menyebabkan batang menjadi rapuh karena bagian dalamnya rusak atau berlubang.
Penyakit busuk batang atau hawar pelepah dapat menyebabkan jaringan batang
melemah akibat infeksi jamur, sehingga batang mudah patah dan tanaman roboh.
Pada kondisi ini biasanya ditemukan perubahan warna pada pangkal batang,
jaringan membusuk, atau adanya miselium/jamur pada pelepah. Rebah karena
serangan OPT biasanya terjadi tidak merata dan disertai gejala lain seperti
daun menguning, malai hampa, atau anakan mati.
Melalui
kegiatan pengamatan tersebut, petugas POPT memberikan penjelasan kepada petani
mengenai perbedaan ciri-ciri rebah fisiologis dan rebah akibat hama penyakit,
sekaligus memberikan saran teknis ke depan seperti pemupukan berimbang,
pengaturan jarak tanam, penggunaan varietas tahan rebah, serta pengendalian OPT
secara tepat sesuai prinsip PHT. Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan
petani dapat lebih memahami penyebab rebah dan mampu melakukan tindakan
pencegahan pada musim tanam berikutnya guna meminimalkan risiko kerugian hasil.
Pustaka
Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan. 2018. Teknologi Budidaya Padi Sawah. Jakarta:
Kementerian Pertanian
Kementerian
Pertanian Republik Indonesia. 2015. Pedoman Pengamatan dan Pelaporan
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Padi. Jakarta: Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan.