Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

MALAI BERAT DAN HUJAN DERAS, PADI INPARI 32 DI SUBAK POHASEM MENGALAMI REBAH

Admin distankan | 25 Februari 2026 | 36 kali

Oleh

I Wayan Sudiarta, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Pertama

Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Seririt


Seorang petani atas nama Md Kaler, anggota Subak Pohasem, Desa Mayong, Kecamatan Seririt dengan luas garapan tanaman padi ±50 are varietas Inpari 32, melaporkan kepada petugas POPT terkait kondisi pertanaman padinya yang mengalami rebah di beberapa petakan. Tanaman saat ini berada pada fase pengisian bulir hingga menjelang masak susu. Rebahnya tanaman terlihat cukup merata pada bagian tertentu lahan, sehingga petani merasa khawatir akan berdampak pada penurunan produksi dan kualitas gabah. Beliau menanyakan apakah kondisi tersebut disebabkan oleh serangan hama dan penyakit atau karena faktor fisiologis tanaman.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, rebah pada tanaman padi secara umum dapat disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu rebah fisiologis dan rebah akibat serangan hama/penyakit.

Rebah fisiologis biasanya terjadi karena faktor non-patogen, seperti pemupukan nitrogen yang berlebihan sehingga pertumbuhan tanaman terlalu subur, batang menjadi tinggi namun kurang kokoh. Selain itu, jarak tanam yang terlalu rapat dapat menyebabkan tanaman tumbuh meninggi untuk berebut cahaya sehingga batang menjadi lemah. Faktor perakaran yang kurang kuat akibat kondisi tanah yang terlalu gembur atau tergenang dalam waktu lama juga dapat memicu tanaman mudah roboh. Kondisi cuaca seperti hujan lebat disertai angin kencang juga menjadi faktor pemicu utama rebah fisiologis, terutama pada fase pengisian bulir ketika malai sudah berisi dan bobot tanaman semakin berat. Pada kasus rebah fisiologis, umumnya batang tidak menunjukkan gejala pembusukan atau kerusakan jaringan, melainkan hanya patah atau miring dari pangkal akibat tidak mampu menopang beban.

Sementara itu, rebah akibat hama dan penyakit umumnya ditandai dengan adanya gejala spesifik pada batang atau pangkal tanaman. Serangan penggerek batang dapat menyebabkan batang menjadi rapuh karena bagian dalamnya rusak atau berlubang. Penyakit busuk batang atau hawar pelepah dapat menyebabkan jaringan batang melemah akibat infeksi jamur, sehingga batang mudah patah dan tanaman roboh. Pada kondisi ini biasanya ditemukan perubahan warna pada pangkal batang, jaringan membusuk, atau adanya miselium/jamur pada pelepah. Rebah karena serangan OPT biasanya terjadi tidak merata dan disertai gejala lain seperti daun menguning, malai hampa, atau anakan mati.

Melalui kegiatan pengamatan tersebut, petugas POPT memberikan penjelasan kepada petani mengenai perbedaan ciri-ciri rebah fisiologis dan rebah akibat hama penyakit, sekaligus memberikan saran teknis ke depan seperti pemupukan berimbang, pengaturan jarak tanam, penggunaan varietas tahan rebah, serta pengendalian OPT secara tepat sesuai prinsip PHT. Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan petani dapat lebih memahami penyebab rebah dan mampu melakukan tindakan pencegahan pada musim tanam berikutnya guna meminimalkan risiko kerugian hasil.

 

Pustaka

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2018. Teknologi Budidaya Padi Sawah. Jakarta: Kementerian Pertanian

 

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2015. Pedoman Pengamatan dan Pelaporan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Padi. Jakarta: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.