(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Pupuk Memberi Makan Tanaman, Tetapi Dolomit Memperbaiki Rumah Tempat Tanaman Tumbuh. Tanah Yang Sehat Adalah Kunci Panen Yang Berkelanjutan

Admin distankan | 15 Juni 2026 | 18 kali

I Wayan Sudiarta, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Pertama

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Seririt


Di tengah berbagai upaya peningkatan produksi padi, penggunaan dolomit atau kapur pertanian sebenarnya telah lama dikenal sebagai salah satu teknologi sederhana yang mampu memperbaiki kesuburan tanah. Dolomit berfungsi menaikkan pH tanah yang asam, meningkatkan ketersediaan unsur hara, serta menambah kandungan kalsium dan magnesium yang dibutuhkan tanaman. Namun, kenyataannya masih banyak petani penggarap, termasuk di wilayah Kecamatan Seririt, yang enggan menggunakan dolomit pada lahan sawah mereka.

 

Salah satu alasan utama adalah manfaat dolomit tidak dapat dilihat secara langsung seperti halnya pupuk kimia. Ketika petani memberikan pupuk urea atau NPK, perubahan warna daun dan pertumbuhan tanaman dapat terlihat dalam waktu singkat. Sebaliknya, efek dolomit bekerja secara bertahap melalui perbaikan kondisi tanah. Karena hasilnya tidak instan, sebagian petani menganggap penggunaan dolomit kurang penting atau tidak memberikan keuntungan yang nyata.

 

Faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan. Sebagian besar petani penggarap lebih fokus pada biaya yang harus dikeluarkan setiap musim tanam. Mereka cenderung mengutamakan pembelian benih, pupuk, dan pestisida yang dianggap langsung mempengaruhi hasil panen. Sementara itu, dolomit sering dipandang sebagai biaya tambahan yang dapat ditunda, terutama ketika harga gabah tidak stabil atau pendapatan petani sedang menurun.

 

Selain itu, status sebagai petani penggarap turut memengaruhi keputusan penggunaan dolomit. Banyak petani yang menggarap lahan milik orang lain merasa kurang termotivasi untuk melakukan investasi jangka panjang terhadap kesuburan tanah. Mereka lebih berorientasi pada hasil panen musim berjalan dibandingkan memperbaiki kondisi tanah untuk beberapa musim ke depan. Akibatnya, tindakan perbaikan tanah seperti pengapuran sering kali tidak menjadi prioritas.

 

Kurangnya informasi dan pendampingan teknis juga menjadi penyebab. Tidak semua petani memahami bahwa penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa diimbangi perbaikan kondisi tanah dapat menyebabkan pH tanah semakin menurun. Pada tanah yang terlalu asam, unsur hara yang diberikan melalui pemupukan menjadi kurang efektif diserap oleh tanaman. Kondisi ini menyebabkan biaya pemupukan meningkat, tetapi hasil yang diperoleh tidak sebanding.

 

Meskipun demikian, di Kecamatan Seririt mulai muncul kelompok petani yang memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap pentingnya menjaga kesehatan tanah. Petani-petani ini memahami bahwa tanah merupakan aset utama dalam usaha tani. Mereka mulai melakukan pengujian pH tanah, menggunakan dolomit secara berkala, serta menerapkan pemupukan berimbang. Hasilnya, pertumbuhan tanaman menjadi lebih seragam, akar berkembang lebih baik, penyerapan pupuk lebih optimal, dan produktivitas padi cenderung meningkat.

 

Pengalaman petani yang telah menggunakan dolomit menunjukkan bahwa manfaat terbesar bukan hanya pada peningkatan hasil panen, tetapi juga pada efisiensi penggunaan pupuk. Dengan kondisi pH tanah yang lebih ideal, unsur hara lebih mudah tersedia bagi tanaman sehingga kebutuhan pupuk dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dalam jangka panjang, penggunaan dolomit juga membantu menjaga struktur tanah tetap baik dan mencegah penurunan kesuburan lahan.

 

Oleh karena itu, diperlukan peran aktif penyuluh pertanian, petugas POPT, pemerintah daerah, serta pengurus subak untuk terus memberikan edukasi mengenai pentingnya pengapuran lahan sawah. Kesadaran bahwa dolomit bukan sekadar bahan tambahan, melainkan investasi untuk kesehatan tanah dan keberlanjutan produksi pertanian, perlu terus ditanamkan kepada para petani. Semakin banyak petani yang memahami manfaat dolomit, maka semakin besar pula peluang untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus menjaga kesuburan lahan sawah bagi generasi mendatang.

.

 

Daftar Pustaka

Balai Penelitian Tanah. 2015. Petunjuk Teknis Pengelolaan Tanah Masam untuk Pertanian. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2021. Pedoman Budidaya Padi yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP) Tanaman Padi. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.