(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

MENGENAL Bacillus thuringiensis (Bt) SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI

Admin distankan | 01 Juli 2026 | 35 kali

Oleh: Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama

pada Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Banjar


Bacillus thuringiensis ditemukan pertama kali pada tahun 1911 sebagai patogen pada ngengat (flour moth) dari Provinsi Thuringia, Jerman. Bakteri ini digunakan sebagai produk insektisida komersial pertama kali pada tahun 1938 di Prancis dan kemudian di Amerika Serikat pada tahun 1950. Berbagai macam spesies B. thuringiensis (Bt) telah diisolasi dari serangga golongan Coleoptera, Diptera dan Lepidoptera, baik yang sudah mati maupun dalam kondisi sekarat. Bangkai serangga sering mengandung spora dan Insecticidal Crystal Protein (ICP) Bt dalam jumlah besar. Bakteri ini berasal dari genus Bacillus yang hidup di tanah perakaran tanaman atau rizosfer. Bacillus dapat mengeluarkan senyawa antimikroba yang terdiri dari basitrasin, basilin, basilomisin, difisidin, oksidifisidin, lesitinase maupun subtilisin. Selain itu, juga menghasilkan senyawa fengymycin yang diketahui sebagai antifungal dan banyak senyawa peptid antibiotik lainnya yang diproduksi oleh Bacillus sp.

Bt memiliki sel vegetatif berbentuk batang dan memiliki flagella. Spora Bt berbentuk oval, letaknya subterminal serta berwarna hijau kebiruan. Spora mengandung asam dipikolinik dan terbentuk dengan cepat pada suhu 35 derajat sampai dengan 37 derajat Celcius. Suhu optimum untuk pertumbuhan Bt berkisar antara 10 derajat sampai dengan 50 derajat Celcius. Ciri khas yang terdapat pada Bt adalah kemampuannya membentuk kristal (parasporal body) bersamaan dengan pembentukan spora, yaitu pada waktu sel mengalami sporulasi. Kristal tersebut merupakan komplek protein yang mengandung toksin yang terbentuk di dalam sel 2 hingga 3 jam setelah akhir fase eksponesial dan baru keluar dari sel pada waktu sel mengalami autolisis setelah sporulasi sempurna. Pada lingkungan dengan kondisi yang baik dan nutrisi yang cukup, spora bakteri ini dapat terus hidup dan melanjutkan pertumbuhan vegetatifnya.

Bt merupakan bakteri gram positif yang hidup di tanah dan secara alami menghasilkan protein kristal (Cry dan Cyt) yang bersifat racun bagi serangga tertentu, terutama larva ngengat, kupu-kupu dan kumbang. Bt menghasilkan kristal protein yang disebut delta-endotoksin. Bakteri ini bekerja sebagai insektisida hayati dengan cara menginfeksi sistem pencernaan serangga target, menyebabkan kematian dalam beberapa hari tanpa membahayakan manusia, hewan atau serangga menguntungkan. Mekanisme kerja Bt sebagai insektisida hayati sangat spesifik dan efektif, dimana prosesnya dimulai ketika spora bakteri atau protein kristal tertelan oleh larva serangga target.

Terdapat berbagai strain atau subspesies Bt yang masing-masing menghasilkan protein kristal berbeda dengan target hama spesifik. Pemilihan strain yang tepat sangat penting untuk efektivitas pengendalian hama.

a.      Bt kurstaki (Btk): yaitu strain paling umum, efektif terhadap larva ngengat dan kupu-kupu (Lepidoptera) seperti ulat grayak, ulat daun dan penggerek batang.

b.      Bt israelensis (Bti): yaitu strain yang dikenal untuk mengendalikan nyamuk dan lalat hitam (Diptera) dengan merusak usus larva di air.

c.      Bt tenebrionis (Btt): yaitu strain dengan target utama adalah kumbang (Coleoptera) seperti kumbang Colorado pada kentang.

d.      Bt aizawai: yaitu strain yang memiliki kemiripan dengan Btk tetapi lebih efektif pada beberapa spesies ulat tertentu seperti ulat tentara.

Di Indonesia, strain Bt kurstaki banyak digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai dan sayuran. Penggunaan strain yang sesuai dengan hama target meningkatkan efisiensi dan mengurangi kebutuhan aplikasi berulang. Aplikasi pada sore hari untuk menghindari sinar UV langsung yang dapat mengurangi efektivitas Bt, dimana dapat diulangi setiap 5 hingga 7 hari apabila populasi hama tinggi. Umumnya, dosis 1 sampai 2 liter per hektar dicampur dengan air secukupnya untuk penyemprotan merata.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Kumar, V. 2026. Bacillus thuringiensis (Bt): Complete Guide to Structure, Mechanism, Uses & Applications. Diakses pada laman https://microbiologynotes.org/bacillus-thuringiensis-bt-structure-mechanism-uses

 

Listanto, E., Sutrisno, S. Brotonegoro, B. Santoso, B. Soegiarto, dan M.S. Sudjono. Deteksi Isolat Bacillus thuringiensis Indonesia yang Mengandung Gen Cry IAa, IAb, dan IAc dengan PCR. Prosiding Seminar Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia. hlmn 398-409.

 

Soesanto, L. 2008. Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada