Oleh: Shierly P. V.
Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Banjar
Bacillus thuringiensis ditemukan pertama kali pada tahun 1911 sebagai patogen pada ngengat (flour moth) dari Provinsi Thuringia, Jerman. Bakteri ini digunakan sebagai produk
insektisida komersial pertama kali pada tahun 1938 di Prancis dan kemudian di Amerika Serikat pada tahun 1950. Berbagai macam spesies B. thuringiensis
(Bt) telah diisolasi dari serangga golongan Coleoptera, Diptera dan
Lepidoptera, baik yang sudah mati maupun dalam kondisi sekarat. Bangkai
serangga sering mengandung spora dan Insecticidal Crystal Protein (ICP)
Bt dalam jumlah besar. Bakteri ini berasal dari genus Bacillus yang hidup
di tanah perakaran tanaman atau rizosfer. Bacillus dapat mengeluarkan senyawa
antimikroba yang terdiri dari basitrasin, basilin, basilomisin, difisidin,
oksidifisidin, lesitinase maupun subtilisin. Selain itu, juga menghasilkan
senyawa fengymycin yang diketahui sebagai antifungal dan banyak senyawa peptid
antibiotik lainnya yang diproduksi oleh Bacillus sp.
Bt memiliki sel vegetatif berbentuk batang dan memiliki flagella. Spora
Bt berbentuk oval, letaknya subterminal serta berwarna hijau kebiruan. Spora
mengandung asam dipikolinik dan terbentuk dengan cepat pada suhu 35 derajat
sampai dengan 37 derajat Celcius. Suhu optimum untuk pertumbuhan Bt berkisar antara
10 derajat sampai dengan 50 derajat Celcius. Ciri khas yang terdapat pada Bt
adalah kemampuannya membentuk kristal (parasporal body) bersamaan dengan
pembentukan spora, yaitu pada waktu sel mengalami sporulasi. Kristal tersebut
merupakan komplek protein yang mengandung toksin yang terbentuk di dalam sel 2
hingga 3 jam setelah akhir fase eksponesial dan baru keluar dari sel pada waktu
sel mengalami autolisis setelah sporulasi sempurna. Pada lingkungan dengan
kondisi yang baik dan nutrisi yang cukup, spora bakteri ini dapat terus hidup
dan melanjutkan pertumbuhan vegetatifnya.
Bt merupakan bakteri gram positif yang hidup di tanah dan secara alami
menghasilkan protein kristal (Cry dan Cyt) yang bersifat racun bagi serangga
tertentu, terutama larva ngengat, kupu-kupu dan kumbang. Bt menghasilkan
kristal protein yang disebut delta-endotoksin. Bakteri ini bekerja sebagai
insektisida hayati dengan cara menginfeksi sistem pencernaan serangga target,
menyebabkan kematian dalam beberapa hari tanpa membahayakan manusia, hewan atau
serangga menguntungkan. Mekanisme kerja Bt sebagai insektisida hayati sangat
spesifik dan efektif, dimana prosesnya dimulai ketika spora bakteri atau
protein kristal tertelan oleh larva serangga target.
Terdapat berbagai strain atau
subspesies Bt yang masing-masing menghasilkan protein kristal berbeda dengan
target hama spesifik. Pemilihan strain yang tepat sangat penting untuk
efektivitas pengendalian hama.
a.
Bt kurstaki (Btk): yaitu strain paling umum,
efektif terhadap larva ngengat dan kupu-kupu (Lepidoptera) seperti ulat grayak,
ulat daun dan penggerek batang.
b.
Bt israelensis (Bti): yaitu strain yang dikenal
untuk mengendalikan nyamuk dan lalat hitam (Diptera) dengan merusak usus larva
di air.
c.
Bt tenebrionis (Btt): yaitu strain dengan target
utama adalah kumbang (Coleoptera) seperti kumbang Colorado pada kentang.
d.
Bt aizawai: yaitu strain yang memiliki kemiripan
dengan Btk tetapi lebih efektif pada beberapa spesies ulat tertentu seperti
ulat tentara.
Di Indonesia, strain Bt kurstaki
banyak digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman pangan seperti padi,
jagung, kedelai dan sayuran. Penggunaan strain yang sesuai dengan hama target
meningkatkan efisiensi dan mengurangi kebutuhan aplikasi berulang. Aplikasi pada sore hari untuk menghindari
sinar UV langsung yang dapat mengurangi efektivitas Bt, dimana dapat diulangi
setiap 5 hingga 7 hari apabila populasi hama tinggi. Umumnya, dosis 1 sampai 2
liter per hektar dicampur dengan air secukupnya untuk penyemprotan merata.
DAFTAR PUSTAKA
Kumar, V. 2026. Bacillus
thuringiensis (Bt): Complete Guide to Structure, Mechanism, Uses &
Applications. Diakses pada laman https://microbiologynotes.org/bacillus-thuringiensis-bt-structure-mechanism-uses
Listanto, E., Sutrisno, S. Brotonegoro, B.
Santoso, B. Soegiarto, dan M.S. Sudjono. Deteksi Isolat Bacillus
thuringiensis Indonesia yang Mengandung Gen Cry IAa, IAb, dan IAc dengan
PCR. Prosiding Seminar Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia. hlmn
398-409.
Soesanto, L. 2008. Pengantar Pengendalian Hayati
Penyakit Tanaman. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada