(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

MENGENAL PENYAKIT SIGATOKA PADA TANAMAN PISANG

Admin distankan | 25 Mei 2026 | 402 kali

MENGENAL PENYAKIT SIGATOKA PADA TANAMAN PISANG

Oleh: Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama

pada Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Banjar


Gambar (a) gejala penyakit, (b) koloni pada media PDA (Sumber: Oliveira et al., 2022),

(c) Konidia (Sumber: Henuk et al., 2020)

 

Tanaman pisang merupakan salah satu tanaman hortikultura yang mempunyai keunggulan dapat beradaptasi luas dalam kondisi lahan dan musim kering, sehingga sangat strategis untuk peningkatan ketahanan pangan suatu daerah. Produksi pisang di Indonesia sendiri cukup besar, bahkan Indonesia termasuk penghasil pisang terbesar di Asia. Adapun sentra produksi pisang di Indonesia antara lain: Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan NTB. Produksi pisang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Meningkatnya permintaan buah pisang untuk kebutuhan lokal maupun untuk ekspor, diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan bibit pisang yang berkualitas.

Salah satu penyebab fluktuasi laju pertumbuhan produksi pisang adalah serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Penyakit sigatoka merupakan satu diantara OPT lain yang menyerang tanaman pisang akibat serangan cendawan Mycosphaerella sp. Gejala penyakit sigatoka ditunjukkan dengan adanya bintik-bintik memanjang berwarna kuning pucat/hijau kecoklatan yang terletak sejajar dengan tulang daun. Bintik-bintik ini kemudian berkembang menjadi bercak coklat tua-hitam yang berbentuk bulat panjang. Pada daun tua, pusat bercak akan mengering, warnanya menjadi kelabu muda dengan tepi yang berwarna coklat gelap dan dikelilingi oleh halo berwarna kuning cerah. Bercak ini makin lama akan membesar atau memanjang dan akhirnya seluruh permukaan daun dapat terinfeksi. Gejala pertama penyakit bercak daun Mycosphaerella adalah pada daun ke-3 dan ke-4 dari puncak, ditandai dengan bintik memanjang, berwarna kuning pucat atau hijau kecoklatan, panjangnya 1-2 mm atau lebih, arahnya sejajar dengan tulang daun dan berbentuk tidak teratur. Sebagian bintik tersebut berkembang menjadi bercak berwarna coklat tua sampai hitam, berbentuk jorong atau bulat panjang, panjangnya 1 cm atau lebih dan lebarnya lebih kurang sepertiga dari panjangnya. Munculnya gejala bercak garis khas infeksi pada daun pisang diproduksi ketika sumber inokulum konidia lepas oleh percikan hujan, konidia jatuh ke bawah bagian dalam silinder daun menghubungi titik yang lebih rendah dari silinder menghasilkan garis infeksi. Pengendapan askospora oleh arus angin umumnya pada ujung terminal daun ini mengakibatkan infeksi ujung daun yang khas.

Secara morfologi cendawan Mycosphaerella sp. berbentuk tabung, bersekat, memiliki ujung tumpul atau membulat hijau kehitaman. Jamur Mycosphaerella sp. memiliki ciri khas yaitu koloni dengan bagian tengah yang terangkat, berwarna abu-abu muda, merah muda, atau hijau muda dan memiliki konidia. Konidium Mycosphaerella sp. berbentuk tabung atau berbentuk gada terbalik, lurus, melengkung atau bengkok, ujungnya tumpul atau membulat serta bersekat 3-5 atau lebih. Hifa Mycosphaerella sp. bercabang, bersekat dan hialin. Suhu optimal untuk perkecambahan konidia adalah antara 25-29 derajat Celcius dan untuk askospora, 25-26 derajat Celcius selama sekitar lima hari sebelum menembus daun melalui stoma. Setelah masuk daun hifa akan berinvasi membentuk vesikel dan hifa tumbuh melalui lapisan mesofil.

Penyakit sigatoka menyebabkan penurunan kecepatan fotosintesis dan transpirasi. Selain itu menurunkan kandungan klorofil, sukrosa, pati dan gula pada daun pisang yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Penyakit ini dapat menimbulkan daun lebih cepat kering yang menyebabkan terganggunya proses fotosintesis sehingga bisa menghambat proses pengisian buah serta pembentukan anakan.

Perkembangan penyakit sigatoka dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain jenis pisang, umur tanaman, faktor iklim dan lain-lain. Triwidodo et al. (2020) menyatakan bahwa rata-rata semua varietas pisang dengan umur sedang dan tua tidak memberikan pengaruh terhadap tingkat keparahan penyakit bercak sigatoka sedangkan umur tanaman muda memberikan pengaruh terhadap rendahnya tingkat keparahan penyakit ini. Hal ini mengindikasikan bahwa akumulasi patogen sejak tanaman berumur muda akan mempengaruhi keparahan penyakit pada tanaman tua. Proses perkembangan penyakit bercak sigatoka akan meningkat seiring dengan umur daun jika terdapat inokulasi yang tinggi dan cuaca yang mendukung. Beberapa jenis pisang seperti jenis pisang Ambon, Telor, Barangan dan Emas merupakan jenis pisang yang rentan terkena penyakit black sigatoka. Serangan yang parah dapat menyebabkan daun kelihatan seperti terbakar, sedangkan jenis Cavendish sangat peka terhadap penyakit sigatoka. Sehingga dalam areal luas (perkebunan) penyakit ini potensial akan menjadi kendala utama produksi apabila tidak dikendalikan dengan seksama.

Faktor iklim, suhu serta kelembaban lingkungan mempengaruhi penyebaran penyakit sigatoka. Penyebaran penyakit melalui spora yang terbawa angin dan aliran air hujan serta alat-alat pertanian. Selain itu penyebaran dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab dan pola tanam yang kurang baik. Faktor iklim terutama curah hujan, embun dan suhu berpengaruh terhadap produksi dan gerakan serta penyebaran inokulum (sumber) penyakit. Patogen Mycosphaerella sp. berkembang baik pada musim hujan, kelembaban tinggi dan suhu 25-29 derajat Celcius.

Pengendalian penyakit sigatoka dapat dilakukan dengan cara menjaga kesuburan tanah. Penyakit sigatoka sering terjadi pada lahan yang kurang subur, sehingga pemberian pupuk terutama pupuk organik sangat diperlukan. Daun-daun yang menunjukkan gejala sigatoka dapat menjadi sumber inokulum patogen penyebab penyakit ini. Oleh karena itu, salah satu cara pengendalian penyakit sigatoka pada tanaman pisang adalah dengan membakar daun yang sakit. Selain itu, penggunaan biofungisida berbahan Trichoderma sp. berpotensi menghambat penyakit. Pengendalian penyakit ini dapat juga dilakukan dengan menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb, calixin, khlorothalonil, propikonazol, fenbukonazol, propineb atau azoxistrobin.

 

DAFTAR PUSTAKA

Batara, P. A. 2022. Reaksi Ketahanan Empat Varietas Tanaman Pisang terhadap Mycosphaerella Fijiensis Penyebab Penyakit Bercak Sigatoka Hitam. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Hartati, S., R. Meliansyah, L. T. Puspasari dan E. Suminar. 2024. Pengenalan Penyakit pada Tanaman Pisang (Musa paradisiaca) dan Pengendaliannya di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.  Agrimasta 1(2): 56 – 64.

Henuk J. B. D., Kadja D. H., dan Mau Y. S. 2020. Inventory and identification of banana cultivar and diseases caused by bacterial and fungal pathogens in West Timor, East Nusa Tenggara Province, Indonesia. Intl. Jour. of Trop. Drylands 4(1):10–16. Diakses pada laman https://doi. org/10.13057/tropdrylands/t040103

Kharisma, A. I., D. Indratmi dan A. Ikhwan. 2024. The effect of some biological fungicides and liquid organic fertilizers on Sigatoka disease on ‘Mas’ banana plants (Musa acuminata Colla). Jour.Trop. Crop Science and Tech. 6(2):110-121.

Oliveira, Tamiris Y. K., Tatiane C., Silva, Silvino I., Moreira, Felix S., Christiano J., Maria C. G., Gasparoto, Bart A., Fraaije and Paulo C.C. 2022. Evidence of resistance to QoI fungicides in contemporary populations of Mycosphaerella fijiensis, M. musicola and M. thailandica from banana plantations in Southeastern Brazil. Agronomy, 12(12): 29-52. Diakses pada laman https://doi.org/10. 3390/agronomy12122952