MENGENAL PENYAKIT SIGATOKA PADA TANAMAN
PISANG
Oleh: Shierly P. V.
Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Banjar
Gambar (a)
gejala penyakit, (b) koloni pada media PDA (Sumber: Oliveira et al., 2022),
(c) Konidia
(Sumber: Henuk et al., 2020)
Tanaman
pisang merupakan salah satu tanaman hortikultura yang mempunyai keunggulan
dapat beradaptasi luas dalam kondisi lahan dan musim kering, sehingga sangat
strategis untuk peningkatan ketahanan pangan suatu daerah. Produksi pisang di
Indonesia sendiri cukup besar, bahkan Indonesia termasuk penghasil pisang
terbesar di Asia. Adapun sentra produksi pisang di Indonesia antara lain: Jawa
Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera
Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan NTB. Produksi
pisang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Meningkatnya permintaan buah
pisang untuk kebutuhan lokal maupun untuk ekspor, diikuti dengan meningkatnya
kebutuhan akan bibit pisang yang berkualitas.
Salah satu
penyebab fluktuasi laju pertumbuhan produksi pisang adalah serangan Organisme
Pengganggu Tumbuhan (OPT). Penyakit sigatoka merupakan satu diantara OPT lain
yang menyerang tanaman pisang akibat serangan cendawan Mycosphaerella sp. Gejala
penyakit sigatoka ditunjukkan dengan adanya bintik-bintik memanjang berwarna
kuning pucat/hijau kecoklatan yang terletak sejajar dengan tulang daun.
Bintik-bintik ini kemudian berkembang menjadi bercak coklat tua-hitam yang
berbentuk bulat panjang. Pada daun tua, pusat bercak akan mengering, warnanya
menjadi kelabu muda dengan tepi yang berwarna coklat gelap dan dikelilingi oleh
halo berwarna kuning cerah. Bercak ini makin lama akan membesar atau memanjang
dan akhirnya seluruh permukaan daun dapat terinfeksi. Gejala pertama penyakit
bercak daun Mycosphaerella adalah
pada daun ke-3 dan ke-4 dari puncak, ditandai dengan bintik memanjang, berwarna
kuning pucat atau hijau kecoklatan, panjangnya 1-2 mm atau lebih, arahnya
sejajar dengan tulang daun dan berbentuk tidak teratur. Sebagian bintik
tersebut berkembang menjadi bercak berwarna coklat tua sampai hitam, berbentuk jorong
atau bulat panjang, panjangnya 1 cm atau lebih dan lebarnya lebih kurang
sepertiga dari panjangnya. Munculnya gejala bercak garis khas infeksi pada daun
pisang diproduksi ketika sumber inokulum konidia lepas oleh percikan hujan,
konidia jatuh ke bawah bagian dalam silinder daun menghubungi titik yang lebih
rendah dari silinder menghasilkan garis infeksi. Pengendapan askospora oleh arus
angin umumnya pada ujung terminal daun ini mengakibatkan infeksi ujung daun
yang khas.
Secara
morfologi cendawan Mycosphaerella sp. berbentuk tabung, bersekat,
memiliki ujung tumpul atau membulat hijau kehitaman. Jamur Mycosphaerella sp.
memiliki ciri khas yaitu koloni dengan bagian tengah yang terangkat, berwarna
abu-abu muda, merah muda, atau hijau muda dan memiliki konidia. Konidium Mycosphaerella sp. berbentuk tabung atau berbentuk gada terbalik, lurus,
melengkung atau bengkok, ujungnya tumpul atau membulat serta bersekat 3-5 atau
lebih. Hifa Mycosphaerella sp. bercabang, bersekat dan hialin.
Suhu optimal untuk perkecambahan konidia adalah antara 25-29 derajat Celcius
dan untuk askospora, 25-26 derajat Celcius selama sekitar lima hari sebelum
menembus daun melalui stoma. Setelah masuk daun hifa akan berinvasi membentuk
vesikel dan hifa tumbuh melalui lapisan mesofil.
Penyakit
sigatoka menyebabkan penurunan kecepatan fotosintesis dan transpirasi. Selain
itu menurunkan kandungan klorofil, sukrosa, pati dan gula pada daun pisang yang
dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Penyakit
ini dapat menimbulkan daun lebih cepat kering yang menyebabkan terganggunya
proses fotosintesis sehingga bisa menghambat proses pengisian buah serta
pembentukan anakan.
Perkembangan
penyakit sigatoka dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain jenis pisang, umur
tanaman, faktor iklim dan lain-lain. Triwidodo et al. (2020) menyatakan bahwa
rata-rata semua varietas pisang dengan umur sedang dan tua tidak memberikan
pengaruh terhadap tingkat keparahan penyakit bercak sigatoka sedangkan umur
tanaman muda memberikan pengaruh terhadap rendahnya tingkat keparahan penyakit
ini. Hal ini mengindikasikan bahwa akumulasi patogen sejak tanaman berumur muda
akan mempengaruhi keparahan penyakit pada tanaman tua. Proses perkembangan
penyakit bercak sigatoka akan meningkat seiring dengan umur daun jika terdapat
inokulasi yang tinggi dan cuaca yang mendukung. Beberapa jenis pisang seperti
jenis pisang Ambon, Telor, Barangan dan Emas merupakan jenis pisang yang rentan
terkena penyakit black sigatoka.
Serangan yang parah dapat menyebabkan daun kelihatan seperti terbakar,
sedangkan jenis Cavendish sangat peka terhadap penyakit sigatoka. Sehingga
dalam areal luas (perkebunan) penyakit ini potensial akan menjadi kendala utama
produksi apabila tidak dikendalikan dengan seksama.
Faktor iklim,
suhu serta kelembaban lingkungan mempengaruhi penyebaran penyakit sigatoka.
Penyebaran penyakit melalui spora yang terbawa angin dan aliran air hujan serta
alat-alat pertanian. Selain itu penyebaran dibantu oleh keadaan lingkungan yang
lembab dan pola tanam yang kurang baik. Faktor iklim terutama curah hujan,
embun dan suhu berpengaruh terhadap produksi dan gerakan serta penyebaran
inokulum (sumber) penyakit. Patogen Mycosphaerella
sp. berkembang baik pada
musim hujan, kelembaban tinggi dan suhu 25-29 derajat Celcius.
Pengendalian
penyakit sigatoka dapat dilakukan dengan cara menjaga kesuburan tanah. Penyakit
sigatoka sering terjadi pada lahan yang kurang subur, sehingga pemberian pupuk
terutama pupuk organik sangat diperlukan. Daun-daun yang menunjukkan gejala
sigatoka dapat menjadi sumber inokulum patogen penyebab penyakit ini. Oleh
karena itu, salah satu cara pengendalian penyakit sigatoka pada tanaman pisang
adalah dengan membakar daun yang sakit. Selain itu, penggunaan biofungisida
berbahan Trichoderma sp. berpotensi menghambat penyakit. Pengendalian penyakit
ini dapat juga dilakukan dengan menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb,
calixin, khlorothalonil, propikonazol, fenbukonazol, propineb atau azoxistrobin.
DAFTAR PUSTAKA
Batara, P. A. 2022. Reaksi Ketahanan Empat
Varietas Tanaman Pisang terhadap Mycosphaerella
Fijiensis Penyebab Penyakit Bercak Sigatoka Hitam. Skripsi. Fakultas
Pertanian. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Hartati, S., R. Meliansyah, L. T. Puspasari
dan E. Suminar. 2024. Pengenalan Penyakit pada Tanaman Pisang (Musa paradisiaca) dan Pengendaliannya di
Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Agrimasta 1(2): 56 – 64.
Henuk J. B. D., Kadja D. H., dan Mau Y. S.
2020. Inventory and identification of banana cultivar and diseases caused by
bacterial and fungal pathogens in West Timor, East Nusa Tenggara Province,
Indonesia. Intl. Jour. of Trop. Drylands 4(1):10–16. Diakses pada laman https://doi.
org/10.13057/tropdrylands/t040103
Kharisma, A. I., D. Indratmi dan A. Ikhwan.
2024. The effect of some biological fungicides and liquid organic fertilizers
on Sigatoka disease on ‘Mas’ banana plants (Musa
acuminata Colla). Jour.Trop. Crop Science and Tech. 6(2):110-121.