(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

MENGENAL FORMULASI PESTISIDA SEBAGAI KUNCI EFEKTIVITAS DAN KEAMANAN DALAM PENGENDALIAN OPT

Admin distankan | 15 Juni 2026 | 16 kali

Oleh:

Pande Made Giopany, S.P.

POPT-Ahli Pertama di Kecamatan Kubutambahan

 

Pestisida merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang memiliki peranan penting dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Menurut Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pendaftaran Pestisida, pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk berbagai keperlua pengendalian OPT atau meningkatkan pertumbuhan pada tanaman. Setiap pestisida yang beredar dan digunakan di Indonesia wajib didaftarkan serta memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan efektivitas, termasuk aspek formulasinya.

Formulasi pestisida adalah campuran bahan aktif dengan bahan tambahan (adjuvant) dengan kadar dan bentuk tertentu yang mempunyai daya kerja sebagai pestisida sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Bahan tambahan tersebut dapat berupa pelarut, pengemulsi, surfaktan, perekat, bahan pembasah, bahan pembawa, maupun bahan penstabil. Formulasi dibuat bertujuan untuk mempermudah penyimpanan, transportasi, serta aplikasi di lapangan, sehingga pengendalian OPT dapat dilakukan secara efektif, aman, dan ekonomis. Selain itu, formulasi juga dapat meningkatkan kinerja pestisida, berperan dalam mempermudah penangan dan mengurangi risiko terhadap pengguna maupun lingkungan.

Jenis – jenis Formulasi Pestisida

Terdapat berbagai jenis formulasi pestisida yang disesuaikan dengan sifat bahan aktif dan tujuan penggunaannya. Adapun jenis – jenis formulasi pestisida tersebut antara lain:

A.            Formulasi Cair

1.             Emulsifiable Concentrate (EC)

EC merupakan formulasi cair pekat yang mengandung bahan aktif, pelarut organik, dan emulsifier. Ketika dicampur dengan air akan membentuk emulsi (butiran benda cair yang melayang di dalam media cair lain). EC umumnya digunakan dengan cara disemprot dan banyak digunakan karena mudah diaplikasikan dan memiliki daya sebar yang baik pada permukaan tanaman.

2.             Soluble Concentrate in Water (SCW) atau Water Soluble Concentrate (WSC)

Formulasi ini mirip dengan EC, namun karena menggunakan sistem solvent berbasis air maka konsentrat ini jika dicampur air tidak membentuk emulsi, melainkan membentuk larutan homogen.

3.             Aqueous Solution (AS) atau Aqueous Concentrate (AC)

AS dan AC merupakan pekatan yang dapat dilarutkan dalam air. Pestisida yang diformulasikan dalam bentuk ini umumnya berupa pestisida berbahan aktif dalam bentuk garam yang memiliki kelarutan tinggi dalam air.

4.             Soluble Liquid (SL)

Formulasi cair yang seluruh kkomponennya larut sempurna dalam air. Setelah dicampur air akan membentuk larutan homogen sehingga mudah diaplikasikan.

5.             Ultra Low Volume (ULV)

Merupakan formulasi khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah, yaitu semprot antara 1-5 liter/hekatr. Formulasi ini umumnya berbasis minyak karena untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah digunakan butiran semprot yang sangat halus.

B.            Formulasi Padat

1.             Wettable Powder (WP)

Formulasi berupa tepung yang tidak larut tetapi dapat tersuspensi dalam air. Formulasi WP bersama EC merupakan formulasi klasik yang masih banyak digunakan hingga saat ini

2.             Soluble Powder (SP)

Formulasi ini merupakan formulasi berbentuk tepung yang jika dicampur air akan membentuk larutan homogen.

3.             Granule (G)

Formulasi ini berbentuk butiran yang umumnya merupakan sediaan siap pakai dengan konsentrasi rendah. Pestisida dengan bentuk butiran umumnya digunakan dengan cara ditaburkan di lapangan. Dapat digunakan bersamaan dengan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada fase awal.

4.             Water Dispersible Granule (WG atau WDG)

Merupakan formulasi berbentuk butiran namun penggunaannya harus diencerkan terlebih dahulu dengan air dan digunakan secara disemprotkan.

5.             Soluble Granule (SG)

Formulasi SG mirip dengan WG yang harus diencerkan dalam air dan digunakan dengan cara disemprotkan. Perbedaan antara formulasi ini, jika SG dicampur air maka akan membentuk larutan sempurna.

6.             Dust (D)

Formulasi ini berupa tepung halus yang digunakan langsung tanpa pencampuran dengan air. Formulasi ini memiliki konsentrasi rendah dan digunakan dengan cara dihembuskan. Meskipun dinilai praktis, penggunaan pestisida dengan formulasi D kini semakin berkurang karena mudahnya terbawa angin dan berisiko terhirup oleh pengguna.

7.             Seed Dressing (SD) atau Seed Treatment (ST)

SD dan ST adalah formulasi khusus berbentuk tepung atau cairan yang digunakan dalam perawat benih tanaman.

8.             Bait (B) atau Ready Mix Bait (RB atau RMB)

Formulasi dalam bentuk umpan ini merupakan yang paling banyak digunakan dalam formulasi rodentisida. RB atau RMB merupakan umpan siap pakai (sudah dicampur pakan, misalnya beras), sedangkan B harus dicampur sendiri oleh pemakainya.

Formulasi pestisida merupakan komponen yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu produk pestisida. Adanya formulasi tidak hanya berfungsi sebagai media pembawa bahan aktif, tetapi juga berperan dalam meningkatkan stabilitas, kemudahan aplikasi, daya sebar, daya lekat, serta efektivitas pengendalian OPT. Beragam jenis formulasi telah dikembangkan untuk menyesuaikan karakteristik bahan aktif, sasaran pengendalian, kondisi lingkungan, dan kebutuhan pengguna. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, formulasi pestisida terus mengalami inovasi menuju produk yang lebih efektif, aman bagi pengguna, dan ramah terhadap lingkungan.

Sumber Pustaka :

Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pendaftaran Pestisida

Djojosumarto, Panut. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta: Kanisius

Grewal, P.S.2005. Formulations and Quality control of entomopathogenic nematodes. Department of entomology, Ohio-state-university Wooster.

Mishra, M.K., Shailendra, K.M., Lakshmi, P., and Arun, K. 2023. Pesticides and Their Formulations. Banda University of Agriculture and Technology

R. Mesnage, B. Bernay, G.E. S´eralini. 2013. Ethoxylated adjuvants of glyphosate-based herbicides are active principles of human cell toxicity, Toxicology. 313: 122–128, https://doi.org/10.1016/j.tox.2012.09.006.