(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Pengelolaan Jerami yang Tidak Tepat: Pemicu Gangguan Fisiologis "Asem-Aseman" pada Tanaman Padi

Admin distankan | 29 Juni 2026 | 28 kali

Oleh: I Wayan Rusman, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda

Kecamatan Sawan


Pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi (Oryza sativa L.) sangat dipengaruhi oleh kondisi kesuburan tanah. Salah satu gangguan yang sering dijumpai petani pada musim tanam kedua (MT II) adalah gangguan fisiologis yang dikenal oleh petani sebagai “asem-aseman”. Kondisi ini ditandai dengan akar yang berwarna cokelat kemerahan, berkurangnya jumlah anakan, pertumbuhan tanaman terhambat, daun menguning kemerahan, kemudian mengering hingga menyebabkan kematian rumpun. Gejala umumnya muncul pada umur 10 - 20 hari setelah pindah tanam, terutama pada lahan yang memiliki pH rendah dan pengelolaan jerami yang kurang tepat.

 

Pengaruh Tanah Masam terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi

Tanah masam (pH <5,5) menyebabkan berkurangnya ketersediaan unsur hara penting seperti fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg), serta meningkatkan kelarutan unsur yang bersifat toksik bagi tanaman. Kondisi tersebut menghambat pertumbuhan akar dan menurunkan kemampuan tanaman dalam menyerap air serta unsur hara (Dobermann & Fairhurst, 2000). Akibatnya, tanaman menjadi lebih rentan terhadap cekaman lingkungan maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Kasus asem-aseman banyak ditemukan pada musim tanam kedua karena waktu antara panen, pengolahan tanah, dan penanaman kembali sering kali sangat singkat. Dekomposisi bahan organik prinsipnya adalah menurunkan C/N rasio (perbandingan karbon dengan nitrogen) pada angka yang ideal yaitu 12 – 15, dimana angka tersebut mendekati C/N rasio tanah yang cukup dengan bahan organik dan layak ditanami. Bahan-bahan organik yang masih segar mempunyai C/N rasio yang masih tinggi (tergantung bahannya).  Jerami dan batang padi mempunyai C/N rasio 50 – 70. Untuk menurunkan menjadi 12 perlu waktu pengomposan berbulan-bulan jika secara alamiah, atau berminggu-minggu jika dengan bantuan mikroba pengurai (dekomposer). Suasana yang dibutuhkan untuk proses dekomposisi ini adalah aerob atau memerlukan oksigen cukup. (Brady & Weil, 2016).

Pembenaman jerami segar pada kondisi minim oksigen memicu dekomposisi secara anaerob oleh mikroorganisme tanah. Proses ini menghasilkan senyawa seperti amonia (NH3), metana (CH4), dan hidrogen sulfida (H2S) yang bersifat toksik bagi akar tanaman (Ponnamperuma, 1972). Kerusakan akar menyebabkan penyerapan unsur hara terganggu sehingga daun menguning, anakan berkurang, dan tanaman dapat mati secara bertahap.

Gejala sering kali semakin parah setelah dilakukan pemupukan susulan, terutama menggunakan urea. Penambahan nitrogen dapat meningkatkan aktivitas mikroba anaerob dan pembentukan amonia di sekitar perakaran. Akar yang rusak biasanya tampak berwarna kecokelatan seperti karat, licin saat diraba, dan kulit akar mudah mengelupas. Kondisi ini mengakibatkan suplai nutrisi ke bagian atas tanaman terputus sehingga daun dan batang cepat mengering.

 

Upaya Pencegahan dan Penanganan

Pencegahan merupakan langkah terbaik dalam mengendalikan gangguan fisiologis akibat tanah masam dan dekomposisi anaerobik. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Memotong habis sisa jerami setelah panen dan membiarkannya mengering sebelum dibenamkan ke dalam tanah.
  2. Memberikan waktu yang cukup bagi proses dekomposisi alami atau menggunakan dekomposer untuk mempercepat pengomposan jerami.
  3. Melakukan fermentasi jerami sebelum dikembalikan ke lahan.
  4. Mengaplikasikan dolomit pada lahan yang memiliki pH rendah untuk meningkatkan pH tanah serta menambah unsur Ca dan Mg.

Apabila gejala asem-aseman telah muncul pada tanaman padi, beberapa tindakan yang dianjurkan adalah menunda pemupukan urea, menerapkan sistem pengairan berselang (alternate wetting and drying), mengaplikasikan asam humat untuk memperbaiki kondisi tanah dan merangsang pertumbuhan akar, serta memberikan pupuk daun guna membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman selama fungsi akar belum pulih.

Daftar Pustaka

Brady, N.C., & Weil, R.R. (2016). The Nature and Properties of Soils. Pearson Education.

Dobermann, A., & Fairhurst, T.H. (2000). Rice: Nutrient Disorders and Nutrient Management. International Rice Research Institute (IRRI).

Ponnamperuma, F.N. (1972). The Chemistry of Submerged Soils. Advances in Agronomy, 24, 29–96.