Oleh: I Wayan Rusman, S.P.
Pengendali Organisme Pengganggu
Tumbuhan Ahli Muda
Kecamatan Sawan
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman
padi (Oryza sativa L.) sangat dipengaruhi oleh kondisi kesuburan tanah.
Salah satu gangguan yang sering dijumpai petani pada musim tanam kedua (MT II)
adalah gangguan fisiologis yang dikenal oleh petani sebagai “asem-aseman”.
Kondisi ini ditandai dengan akar yang berwarna cokelat kemerahan, berkurangnya
jumlah anakan, pertumbuhan tanaman terhambat, daun menguning kemerahan,
kemudian mengering hingga menyebabkan kematian rumpun. Gejala umumnya muncul
pada umur 10 - 20 hari setelah pindah tanam, terutama pada lahan yang memiliki
pH rendah dan pengelolaan jerami yang kurang tepat.
Pengaruh Tanah Masam terhadap
Pertumbuhan Tanaman Padi
Tanah masam (pH <5,5)
menyebabkan berkurangnya ketersediaan unsur hara penting seperti fosfor (P),
kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg), serta meningkatkan kelarutan
unsur yang bersifat toksik bagi tanaman. Kondisi tersebut menghambat
pertumbuhan akar dan menurunkan kemampuan tanaman dalam menyerap air serta
unsur hara (Dobermann & Fairhurst, 2000). Akibatnya, tanaman menjadi lebih
rentan terhadap cekaman lingkungan maupun serangan organisme pengganggu tanaman
(OPT).
Kasus asem-aseman banyak
ditemukan pada musim tanam kedua karena waktu antara panen, pengolahan tanah,
dan penanaman kembali sering kali sangat singkat. Dekomposisi bahan organik prinsipnya
adalah menurunkan C/N rasio (perbandingan karbon dengan nitrogen) pada angka
yang ideal yaitu 12 – 15, dimana angka tersebut mendekati C/N rasio tanah yang
cukup dengan bahan organik dan layak ditanami. Bahan-bahan organik yang masih
segar mempunyai C/N rasio yang masih tinggi (tergantung bahannya). Jerami
dan batang padi mempunyai C/N rasio 50 – 70. Untuk menurunkan menjadi 12 perlu
waktu pengomposan berbulan-bulan jika secara alamiah, atau berminggu-minggu
jika dengan bantuan mikroba pengurai (dekomposer). Suasana yang dibutuhkan
untuk proses dekomposisi ini adalah aerob atau memerlukan oksigen cukup. (Brady
& Weil, 2016).
Pembenaman jerami segar pada
kondisi minim oksigen memicu dekomposisi secara anaerob oleh mikroorganisme
tanah. Proses ini menghasilkan senyawa seperti amonia (NH3), metana
(CH4), dan hidrogen sulfida (H2S) yang bersifat toksik
bagi akar tanaman (Ponnamperuma, 1972). Kerusakan akar menyebabkan penyerapan
unsur hara terganggu sehingga daun menguning, anakan berkurang, dan tanaman
dapat mati secara bertahap.
Gejala sering kali semakin parah
setelah dilakukan pemupukan susulan, terutama menggunakan urea. Penambahan
nitrogen dapat meningkatkan aktivitas mikroba anaerob dan pembentukan amonia di
sekitar perakaran. Akar yang rusak biasanya tampak berwarna kecokelatan seperti
karat, licin saat diraba, dan kulit akar mudah mengelupas. Kondisi ini
mengakibatkan suplai nutrisi ke bagian atas tanaman terputus sehingga daun dan
batang cepat mengering.
Upaya Pencegahan dan Penanganan
Pencegahan merupakan langkah
terbaik dalam mengendalikan gangguan fisiologis akibat tanah masam dan
dekomposisi anaerobik. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Apabila gejala asem-aseman telah
muncul pada tanaman padi, beberapa tindakan yang dianjurkan adalah menunda
pemupukan urea, menerapkan sistem pengairan berselang (alternate wetting and
drying), mengaplikasikan asam humat untuk memperbaiki kondisi tanah dan
merangsang pertumbuhan akar, serta memberikan pupuk daun guna membantu
pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman selama fungsi akar belum pulih.
Daftar Pustaka
Brady,
N.C., & Weil, R.R. (2016). The Nature and Properties of Soils.
Pearson Education.
Dobermann,
A., & Fairhurst, T.H. (2000). Rice: Nutrient Disorders and Nutrient
Management. International Rice Research Institute (IRRI).
Ponnamperuma,
F.N. (1972). The Chemistry of Submerged Soils. Advances in Agronomy, 24,
29–96.