Oleh:
I Kade Purnawirawan Putra, S.P. (Pengendali OPT Ahli Pertama Kec. Buleleng)
Dalam budidaya padi, tanaman sering mengalami berbagai gangguan, salah satunya adalah gangguan fisiologis yang bukan disebabkan oleh hama atau penyakit, melainkan oleh kondisi lingkungan dan tanah yang tidak mendukung. Gangguan fisiologis ini dapat muncul dalam bentuk pertumbuhan yang terhambat, daun menguning, akar tidak berkembang dengan baik, serta penyerapan unsur hara yang terganggu. Salah satu penyebab utama gangguan fisiologis pada tanaman padi adalah kondisi tanah yang tidak seimbang, seperti terjadinya keasaman berlebih atau yang sering disebut petani sebagai “asam-asaman”. Kondisi ini juga ditemukan pada sistem persawahan di Subak Kubu Gembong Desa Tukadmungga Kec. Buleleng, di mana pengelolaan lahan dan jerami yang kurang optimal, khususnya akibat pengolahan tanah yang dilakukan hanya satu kali, menyebabkan jerami tidak terurai dengan sempurna dan memicu terbentuknya kondisi tanah yang asam.
Pada Subak Kubu Gembong, praktik pengolahan lahan satu kali masih umum dilakukan oleh petani dengan tujuan efisiensi waktu dan biaya. Namun, praktik ini memiliki konsekuensi terhadap proses penguraian bahan organik, terutama jerami sisa panen Jerami yang tidak tercampur secara merata dengan tanah akan sulit terurai secara optimal. Selain itu, waktu jeda antara pengolahan lahan dan penanaman yang relatif singkat menyebabkan jerami belum mengalami dekomposisi sempurna sebelum tanaman padi ditanam.
Kondisi lahan sawah yang tergenang air di wilayah Subak
Kubu Gembong juga memperkuat terjadinya proses anaerob, yaitu kondisi minim
oksigen di dalam tanah. Dalam keadaan ini, jerami tidak mengalami pembusukan
sempurna, melainkan mengalami fermentasi yang menghasilkan senyawa asam organik
seperti asam asetat, asam butirat, dan asam laktat. Akumulasi senyawa-senyawa
tersebut menyebabkan penurunan pH tanah sehingga memicu kondisi asam-asaman yang
berdampak langsung pada lingkungan perakaran tanaman padi.
Dampak dari kondisi tersebut terlihat pada pertumbuhan
tanaman padi di Subak Kubu Gembong yang menunjukkan gejala gangguan fisiologis,
seperti pertumbuhan yang tidak seragam, daun menguning, serta perkembangan akar
yang terhambat. Selain itu, kondisi tanah yang terlalu asam menyebabkan
terganggunya penyerapan unsur hara oleh tanaman, bahkan dalam beberapa kasus
dapat menimbulkan zat beracun yang merugikan tanaman. Apabila kondisi ini terus
berlanjut tanpa penanganan yang tepat, maka dapat menyebabkan penurunan
produktivitas hasil panen.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan upaya
perbaikan dalam pengelolaan lahan dan jerami di Subak Kubu Gembong. Jerami
sebaiknya dicacah dan disebarkan secara merata agar lebih mudah terurai.
Pengolahan tanah dianjurkan dilakukan lebih dari satu kali untuk memastikan
jerami tercampur dengan baik ke dalam tanah. Selain itu, pemberian waktu jeda
sekitar dua hingga tiga minggu sebelum penanaman sangat penting agar proses
dekomposisi dapat berlangsung optimal. Penggunaan dekomposer atau
mikroorganisme pengurai juga dapat mempercepat proses penguraian jerami, dan
jika kondisi tanah sudah terlanjur asam, maka pemberian kapur atau dolomit
dapat dilakukan untuk menetralkan pH tanah, serta pengelolaan air perlu
diperhatikan agar tanah tidak selalu tergenang dan tetap mendapat oksigen.
Salah satu aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu
mengatasi gangguan fisiologis akibat kondisi asam-asaman pada tanaman padi di Subak
Kubu Gembong adalah penggunaan asam amino. Asam amino berfungsi sebagai
biostimulan yang membantu tanaman mengurangi stres akibat kondisi tanah yang
kurang optimal, terutama pada lahan yang mengalami keasaman, serta dapat
mempercepat pemulihan metabolisme tanaman, merangsang pertumbuhan akar, dan
memperbaiki penyerapan unsur hara sehingga tanaman lebih cepat pulih dan mampu
beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang tidak stabil. Dengan demikian,
penggunaan asam amino menjadi salah satu strategi pendukung untuk mengurangi
dampak gangguan fisiologis akibat asam-asaman, meskipun tetap perlu diimbangi
dengan perbaikan pengelolaan jerami, pengolahan tanah yang tepat, serta
pengaturan air agar hasilnya lebih maksimal.