Beranda/Artikel/Hawar Pelepah Padi: Ancaman Tersembunyi yang Menurunkan Hasil Panen
Hawar Pelepah Padi: Ancaman Tersembunyi yang Menurunkan Hasil Panen
Admin distankan | 25 Maret 2026 | 380 kali
Oleh
: I Kade Purnawirawan Putra, S.P. (Pengendali OPT Ahli Pertama Kec. Buleleng)
Penyakit hawar pelepah pada tanaman padi
merupakan salah satu penyakit penting yang banyak ditemukan di daerah tropis,
termasuk Indonesia. Penyakit ini dikenal dengan istilah sheath blight dan
disebabkan oleh jamur patogen Rhizoctonia solani.
Keberadaan penyakit ini sering menjadi masalah serius dalam budidaya padi
karena dapat menurunkan hasil panen secara signifikan, terutama pada kondisi
lingkungan yang mendukung perkembangan patogen. Gejala penyakit hawar pelepah umumnya mulai
terlihat pada fase vegetatif hingga generatif tanaman padi. Awalnya, muncul
bercak berbentuk oval atau elips pada pelepah daun dengan warna hijau
keabu-abuan. Seiring waktu, bercak tersebut berubah menjadi cokelat dan meluas
hingga menyatu, menyebabkan jaringan pelepah mengering. Pada serangan yang
berat, infeksi dapat menjalar ke daun bahkan hingga ke malai, sehingga
mengganggu proses pengisian bulir padi. Tanaman
yang terserang parah juga sering mengalami rebah (lodging) karena jaringan yang melemah. Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang hidup di dalam tanah dan
sisa-sisa tanaman, terutama dalam bentuk struktur tahan yang disebut sklerotia.
Sklerotia ini mampu bertahan dalam waktu lama dan akan berkecambah ketika
kondisi lingkungan mendukung, seperti kelembapan tinggi dan suhu hangat.
Infeksi biasanya dimulai dari bagian pelepah yang dekat dengan permukaan tanah
atau air, kemudian menyebar melalui kontak antar tanaman atau percikan air.
Oleh karena itu, kondisi sawah yang lembap dan rapat sangat mendukung
penyebaran penyakit ini. Beberapa faktor lingkungan dan teknik budidaya sangat
mempengaruhi tingkat serangan hawar pelepah. Kelembapan udara yang tinggi, suhu
antara 25 hingga 32°C, serta jarak tanam yang terlalu rapat menjadi kondisi
ideal bagi perkembangan penyakit. Selain itu, penggunaan pupuk nitrogen yang
berlebihan juga dapat meningkatkan kerentanan tanaman terhadap infeksi.
Varietas padi yang tidak tahan serta pengelolaan air yang kurang tepat, seperti
genangan air yang terlalu tinggi, juga memperparah serangan penyakit ini. Dampak ekonomi dari penyakit hawar pelepah cukup besar, terutama
jika serangan terjadi secara luas dan tidak terkendali. Kehilangan hasil panen dapat
mencapai 20 hingga 50 persen pada kondisi serangan berat. Selain itu, kualitas
gabah yang dihasilkan juga menurun, sehingga berpengaruh pada nilai jual.
Petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengendalian penyakit, baik
melalui penggunaan fungisida maupun metode lainnya. Pengendalian penyakit hawar pelepah
sebaiknya dilakukan secara terpadu melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu
(PHT). Secara kultur teknis, petani dapat mengatur jarak tanam agar tidak
terlalu rapat, mengurangi penggunaan pupuk nitrogen, serta mengelola air sawah
dengan baik. Penggunaan varietas tahan juga sangat dianjurkan jika tersedia.
Selain itu, pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan agen
antagonis seperti Trichoderma spp. yang mampu menekan pertumbuhan
jamur patogen di dalam tanah. Pengendalian kimia juga dapat dilakukan jika
serangan sudah cukup parah, dengan menggunakan fungisida berbahan aktif seperti
validamycin, hexaconazole, atau azoxystrobin. Namun, penggunaannya harus
dilakukan secara bijak sesuai dosis dan waktu aplikasi yang tepat agar tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun resistensi patogen. Oleh
karena itu, penggunaan fungisida sebaiknya menjadi pilihan terakhir setelah
metode lain diterapkan. Upaya pencegahan juga sangat penting dalam mengurangi
risiko serangan penyakit hawar pelepah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan
antara lain membersihkan sisa jerami yang terinfeksi, melakukan rotasi tanaman
dengan komoditas selain padi, menggunakan benih yang sehat, serta melakukan
pemantauan rutin di lapangan. Dengan langkah-langkah
tersebut, potensi serangan penyakit dapat ditekan sejak awal. Secara keseluruhan, penyakit hawar pelepah merupakan ancaman serius
bagi produksi padi yang tidak boleh diabaikan. Pemahaman yang baik mengenai
penyebab, gejala, serta faktor yang mempengaruhi perkembangannya akan membantu
petani dalam melakukan pengendalian secara efektif. Pendekatan terpadu yang
menggabungkan teknik budidaya, pengendalian hayati, dan kimia menjadi kunci
utama dalam menjaga produktivitas tanaman padi dan meminimalkan kerugian akibat
penyakit ini.