(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Hawar Pelepah Padi: Ancaman Tersembunyi yang Menurunkan Hasil Panen

Admin distankan | 25 Maret 2026 | 380 kali

Oleh : I Kade Purnawirawan Putra, S.P. (Pengendali OPT Ahli Pertama Kec. Buleleng)

Penyakit hawar pelepah pada tanaman padi merupakan salah satu penyakit penting yang banyak ditemukan di daerah tropis, termasuk Indonesia. Penyakit ini dikenal dengan istilah sheath blight dan disebabkan oleh jamur patogen Rhizoctonia solani. Keberadaan penyakit ini sering menjadi masalah serius dalam budidaya padi karena dapat menurunkan hasil panen secara signifikan, terutama pada kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan patogen.
Gejala penyakit hawar pelepah umumnya mulai terlihat pada fase vegetatif hingga generatif tanaman padi. Awalnya, muncul bercak berbentuk oval atau elips pada pelepah daun dengan warna hijau keabu-abuan. Seiring waktu, bercak tersebut berubah menjadi cokelat dan meluas hingga menyatu, menyebabkan jaringan pelepah mengering. Pada serangan yang berat, infeksi dapat menjalar ke daun bahkan hingga ke malai, sehingga mengganggu proses pengisian bulir padi. Tanaman yang terserang parah juga sering mengalami rebah (lodging) karena jaringan yang melemah.
Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang hidup di dalam tanah dan sisa-sisa tanaman, terutama dalam bentuk struktur tahan yang disebut sklerotia. Sklerotia ini mampu bertahan dalam waktu lama dan akan berkecambah ketika kondisi lingkungan mendukung, seperti kelembapan tinggi dan suhu hangat. Infeksi biasanya dimulai dari bagian pelepah yang dekat dengan permukaan tanah atau air, kemudian menyebar melalui kontak antar tanaman atau percikan air. Oleh karena itu, kondisi sawah yang lembap dan rapat sangat mendukung penyebaran penyakit ini. Beberapa faktor lingkungan dan teknik budidaya sangat mempengaruhi tingkat serangan hawar pelepah. Kelembapan udara yang tinggi, suhu antara 25 hingga 32°C, serta jarak tanam yang terlalu rapat menjadi kondisi ideal bagi perkembangan penyakit. Selain itu, penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan juga dapat meningkatkan kerentanan tanaman terhadap infeksi. Varietas padi yang tidak tahan serta pengelolaan air yang kurang tepat, seperti genangan air yang terlalu tinggi, juga memperparah serangan penyakit ini.
Dampak ekonomi dari penyakit hawar pelepah cukup besar, terutama jika serangan terjadi secara luas dan tidak terkendali. Kehilangan hasil panen dapat mencapai 20 hingga 50 persen pada kondisi serangan berat. Selain itu, kualitas gabah yang dihasilkan juga menurun, sehingga berpengaruh pada nilai jual. Petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengendalian penyakit, baik melalui penggunaan fungisida maupun metode lainnya.
Pengendalian penyakit hawar pelepah sebaiknya dilakukan secara terpadu melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Secara kultur teknis, petani dapat mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat, mengurangi penggunaan pupuk nitrogen, serta mengelola air sawah dengan baik. Penggunaan varietas tahan juga sangat dianjurkan jika tersedia. Selain itu, pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan agen antagonis seperti Trichoderma spp. yang mampu menekan pertumbuhan jamur patogen di dalam tanah. Pengendalian kimia juga dapat dilakukan jika serangan sudah cukup parah, dengan menggunakan fungisida berbahan aktif seperti validamycin, hexaconazole, atau azoxystrobin. Namun, penggunaannya harus dilakukan secara bijak sesuai dosis dan waktu aplikasi yang tepat agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun resistensi patogen. Oleh karena itu, penggunaan fungisida sebaiknya menjadi pilihan terakhir setelah metode lain diterapkan. Upaya pencegahan juga sangat penting dalam mengurangi risiko serangan penyakit hawar pelepah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain membersihkan sisa jerami yang terinfeksi, melakukan rotasi tanaman dengan komoditas selain padi, menggunakan benih yang sehat, serta melakukan pemantauan rutin di lapangan. Dengan langkah-langkah tersebut, potensi serangan penyakit dapat ditekan sejak awal.
Secara keseluruhan, penyakit hawar pelepah merupakan ancaman serius bagi produksi padi yang tidak boleh diabaikan. Pemahaman yang baik mengenai penyebab, gejala, serta faktor yang mempengaruhi perkembangannya akan membantu petani dalam melakukan pengendalian secara efektif. Pendekatan terpadu yang menggabungkan teknik budidaya, pengendalian hayati, dan kimia menjadi kunci utama dalam menjaga produktivitas tanaman padi dan meminimalkan kerugian akibat penyakit ini.