Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

"JANGAN SALAH DIAGNOSIS! PERBANDINGAN HAWAR DAUN BAKTERI, HAWAR DAUN JINGGA, DAN KEKURANGAN KALIUN PADA PADI"

Admin distankan | 25 Februari 2026 | 44 kali

Oleh:

I Kade Purnawirawan Putra, S.P/ POPT Pertama Kecamatan Buleleng

Tanaman padi sering mengalami perubahan warna dan kerusakan daun yang sekilas tampak serupa, seperti menguning, mengering, atau muncul bercak kecokelatan hingga jingga. Namun, gejala tersebut belum tentu disebabkan oleh faktor yang sama. Di lapangan, petani kerap kesulitan membedakan antara serangan Hawar Daun Bakteri (HDB), Hawar Daun Jingga (HDJ), dan gangguan fisiologis akibat kekurangan unsur Kalium (K). Padahal, ketepatan diagnosis sangat menentukan keberhasilan pengendalian. Artikel ini membahas perbedaan ketiganya berdasarkan ciri visual, pola serangan, serta uji cepat di lapangan.

Hawar Daun Bakteri disebabkan oleh bakteri Xanthomonas. Gejala awal biasanya dimulai dari ujung daun, ditandai dengan garis atau bercak basah yang kemudian berubah warna menjadi kuning, lalu cokelat, dan akhirnya kering. Penyebarannya relatif cepat dan tidak merata di satu hamparan. Ciri khas HDB adalah adanya lendir (ooze). Untuk memastikan, dapat dilakukan uji cepat di lapangan: daun yang sakit dipotong sekitar 2–3 cm, lalu direndam dalam air bersih selama kurang lebih 10 menit. Jika keluar lendir putih dari potongan daun, maka positif HDB.

Hawar Daun Jingga ditandai dengan perubahan warna daun menjadi jingga atau kemerahan, sering kali muncul dalam bentuk bercak memanjang atau bintik-bintik. Berbeda dengan HDB, gejala HDJ tidak selalu dimulai dari ujung daun, melainkan bisa muncul secara acak. Penyebarannya tergolong sedang dan tidak secepat HDB. Pada uji perendaman air, umumnya tidak ditemukan lendir. HDJ sering dikaitkan dengan kondisi stres tanaman atau infeksi ringan.

Kekurangan kalium bukanlah penyakit, melainkan gangguan fisiologis akibat rendahnya unsur K di dalam tanah. Gejala awal terlihat pada daun tua, terutama pada bagian tepi daun yang menguning. Lama-kelamaan, pinggir daun tampak seperti terbakar (scorch) dan mengering. Pola serangan biasanya seragam dalam satu petak sawah, terutama jika kondisi tanah memang miskin kalium. Tidak ditemukan lendir pada uji air. Pengendaliannya difokuskan pada perbaikan pemupukan, khususnya penambahan pupuk kalium.

Uji Cepat di Lapangan yang bisa dilakukan adalah Petik daun yang menunjukkan gejala, Potong bagian sakit sepanjang 2–3 cm, Rendam dalam air bersih selama ±10 menit. Jika muncul lendir putih, kemungkinan besar itu adalah HDB. Jika tidak ada lendir, maka perlu dilihat pola dan warna gejala untuk menentukan apakah termasuk HDJ atau kekurangan kalium.

 

Membedakan Hawar Daun Bakteri, Hawar Daun Jingga, dan kekurangan Kalium sangat penting agar tindakan pengendalian tepat sasaran. HDB dicirikan oleh adanya lendir dan penyebaran cepat; HDJ ditandai warna jingga atau bercak tanpa lendir; sedangkan kekurangan K terlihat dari tepi daun menguning seperti terbakar dan pola seragam dalam satu petak. Ketepatan identifikasi akan menghindarkan petani dari kesalahan penggunaan pestisida maupun pupuk. Dengan pengamatan cermat dan uji sederhana di lapangan, penanganan dapat dilakukan lebih efektif sehingga produktivitas padi tetap terjaga.