Oleh :
I Gede Sila Adnyana,
S.P.
( POPT Ahli Pertama
di Kecamatan Tejakula )
Tanaman
ubi kayu merupakan salah satu komoditas pangan penting di Indonesia yang
memiliki peranan strategis sebagai sumber karbohidrat, bahan baku industri,
maupun pakan ternak. Tanaman ini memiliki kemampuan beradaptasi cukup baik pada
berbagai kondisi lahan, termasuk lahan kering dan tadah hujan. Selain itu, ubi
kayu juga dikenal memiliki daya tahan yang relatif tinggi dibandingkan tanaman
pangan lainnya. Namun demikian, dalam proses budidayanya tanaman ubi kayu tetap
menghadapi berbagai ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat
menurunkan produktivitas dan kualitas hasil panen apabila tidak dilakukan
pengendalian secara tepat.
Salah
satu OPT penting yang sering ditemukan pada pertanaman ubi kayu adalah hama
tungau merah. Berdasarkan informasi teknis perlindungan tanaman dari
Kementerian Pertanian, hama ini menjadi salah satu faktor pembatas produksi
terutama pada musim kemarau atau kondisi cuaca panas dengan kelembapan rendah.
Serangan tungau merah umumnya meningkat pada pertanaman yang kurang
terpelihara, tanaman mengalami kekeringan, serta penggunaan pestisida yang
tidak bijaksana sehingga menyebabkan musuh alami berkurang. Apabila populasinya
tinggi, hama ini mampu menyebabkan kerusakan daun cukup berat dan menghambat
pertumbuhan tanaman.
Hama
tungau merah pada ubi kayu umumnya berasal dari jenis Tetranychus spp. dengan
ukuran tubuh sangat kecil sehingga sulit diamati secara langsung tanpa bantuan
alat pembesar. Tubuh tungau berwarna merah hingga merah kecokelatan, berbentuk
oval, dan hidup berkoloni pada permukaan bawah daun. Hama ini aktif mengisap
cairan sel tanaman menggunakan alat mulut tipe penusuk-pengisap. Pada kondisi
populasi tinggi, permukaan bawah daun sering tampak dipenuhi koloni tungau
disertai benang-benang halus menyerupai jaring laba-laba.
Siklus
hidup tungau merah berlangsung relatif singkat sehingga populasinya dapat
berkembang dengan cepat. Telur diletakkan pada permukaan bawah daun dan akan
menetas menjadi larva dalam beberapa hari tergantung kondisi lingkungan.
Setelah itu berkembang menjadi nimfa dan kemudian dewasa. Pada suhu panas dan
kondisi kering, perkembangan tungau berlangsung lebih cepat sehingga dalam
waktu singkat dapat terjadi ledakan populasi di lapangan. Oleh sebab itu,
pemantauan rutin pada musim kemarau sangat penting dilakukan guna mendeteksi
serangan sejak dini.
Gejala
awal serangan tungau merah biasanya ditandai munculnya bercak-bercak kecil
berwarna kuning pucat pada permukaan daun akibat aktivitas pengisapan cairan
sel. Seiring meningkatnya populasi, daun berubah menjadi kekuningan, kusam,
kemudian mengering. Pada serangan berat, daun dapat menggulung, rontok lebih
awal, dan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Kerusakan daun yang cukup
parah akan mengurangi kemampuan fotosintesis tanaman sehingga pembentukan umbi
tidak optimal dan hasil produksi menurun.
Serangan
tungau merah umumnya lebih dominan terjadi pada daun-daun tua bagian bawah,
kemudian menyebar ke bagian atas tanaman apabila tidak segera dikendalikan.
Kondisi pertanaman yang terlalu rapat, gulma tidak terkendali, serta kurangnya
sanitasi kebun dapat mendukung perkembangan populasi hama ini. Selain itu,
pemupukan nitrogen berlebihan tanpa diimbangi unsur hara lainnya juga dapat
menyebabkan tanaman lebih rentan terhadap serangan tungau merah.
Upaya
pengendalian tungau merah pada tanaman ubi kayu perlu dilakukan secara terpadu
dengan mengutamakan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Langkah awal yang
penting dilakukan adalah menjaga kondisi pertanaman tetap sehat melalui
pengolahan tanah yang baik, penggunaan varietas toleran, pemupukan berimbang,
dan pengaturan jarak tanam yang sesuai. Sanitasi kebun dengan membersihkan
gulma dan bagian tanaman yang terserang juga perlu dilakukan guna mengurangi
sumber perkembangan populasi tungau di lapangan.
Selain
pengendalian secara kultur teknis, pemanfaatan pestisida nabati juga dapat
menjadi alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Pestisida nabati
berbahan dasar tumbuhan seperti daun mimba, bawang putih, serai wangi, daun
pepaya, maupun tembakau diketahui memiliki kandungan senyawa aktif yang dapat
menekan perkembangan tungau merah. Larutan pestisida nabati umumnya bekerja
sebagai penolak, penghambat makan, maupun mengganggu perkembangan hama.
Aplikasi dilakukan dengan penyemprotan merata terutama pada bagian bawah daun
secara rutin sejak gejala awal serangan mulai terlihat.
Pembuatan
pestisida nabati dapat dilakukan secara sederhana oleh petani dengan
memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan. Sebagai contoh,
ekstrak daun mimba dan bawang putih dapat dihaluskan, dicampur air, kemudian
disaring sebelum diaplikasikan ke pertanaman. Penggunaan pestisida nabati
secara berkala dapat membantu menekan populasi tungau sekaligus lebih aman
terhadap musuh alami dan lingkungan sekitar. Namun demikian, aplikasinya perlu
dilakukan lebih rutin dibandingkan pestisida kimia karena daya kerjanya relatif
lebih singkat.
Apabila populasi tungau merah telah melebihi ambang pengendalian, penggunaan akarisida kimia dapat dilakukan secara bijaksana sesuai rekomendasi Kementerian Pertanian. Penggunaan pestisida harus memperhatikan dosis, waktu aplikasi, serta bahan aktif yang sesuai agar efektif menekan populasi hama dan tidak menimbulkan resistensi. Penyemprotan sebaiknya diarahkan pada bagian bawah daun karena lokasi tersebut merupakan tempat utama tungau berkembang. Melalui penerapan pengendalian terpadu yang memadukan kultur teknis, pemanfaatan musuh alami, penggunaan pestisida nabati, dan pestisida kimia secara tepat, serangan tungau merah pada tanaman ubi kayu diharapkan dapat ditekan sehingga produktivitas tanaman tetap optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Jayanti, Y. W., Efri, E., &
Sudarsono, H. (2022). Pengaruh klon terhadap intensitas hama dan penyakit
penting pada tanaman ubi kayu (Manihot
esculenta Crantz.) di Lampung Tengah. Jurnal Agrotek Tropika, 10(2), 195–202.
Wardani, N., dan Purwanta, M. 2018.
“Efektivitas Pestisida Nabati terhadap Perkembangan Tungau Merah pada Tanaman
Pangan.” Jurnal Proteksi Tanaman Indonesia, 22(1): 33–40.
Widodo, S., dan Suharto. 2019.
“Pemanfaatan Ekstrak Daun Mimba sebagai Pestisida Nabati dalam Pengendalian
Hama Tungau.” Jurnal Agroteknologi Tropika, 7(3): 215–222.
Yuliadhi, K.A., dan Supartha, I.W.
2012. “Perkembangan Populasi Tungau Merah (Tetranychus spp.) pada
Kondisi Musim Kering.” E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika, 1(1): 11–18.