(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Waspada Hama Tungau Merah Pada Tanaman Ubi Kayu

Admin distankan | 18 Mei 2026 | 38 kali

Oleh :

I Gede Sila Adnyana, S.P.

( POPT Ahli Pertama di Kecamatan Tejakula )

Tanaman ubi kayu merupakan salah satu komoditas pangan penting di Indonesia yang memiliki peranan strategis sebagai sumber karbohidrat, bahan baku industri, maupun pakan ternak. Tanaman ini memiliki kemampuan beradaptasi cukup baik pada berbagai kondisi lahan, termasuk lahan kering dan tadah hujan. Selain itu, ubi kayu juga dikenal memiliki daya tahan yang relatif tinggi dibandingkan tanaman pangan lainnya. Namun demikian, dalam proses budidayanya tanaman ubi kayu tetap menghadapi berbagai ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hasil panen apabila tidak dilakukan pengendalian secara tepat.

Salah satu OPT penting yang sering ditemukan pada pertanaman ubi kayu adalah hama tungau merah. Berdasarkan informasi teknis perlindungan tanaman dari Kementerian Pertanian, hama ini menjadi salah satu faktor pembatas produksi terutama pada musim kemarau atau kondisi cuaca panas dengan kelembapan rendah. Serangan tungau merah umumnya meningkat pada pertanaman yang kurang terpelihara, tanaman mengalami kekeringan, serta penggunaan pestisida yang tidak bijaksana sehingga menyebabkan musuh alami berkurang. Apabila populasinya tinggi, hama ini mampu menyebabkan kerusakan daun cukup berat dan menghambat pertumbuhan tanaman.

Hama tungau merah pada ubi kayu umumnya berasal dari jenis Tetranychus spp. dengan ukuran tubuh sangat kecil sehingga sulit diamati secara langsung tanpa bantuan alat pembesar. Tubuh tungau berwarna merah hingga merah kecokelatan, berbentuk oval, dan hidup berkoloni pada permukaan bawah daun. Hama ini aktif mengisap cairan sel tanaman menggunakan alat mulut tipe penusuk-pengisap. Pada kondisi populasi tinggi, permukaan bawah daun sering tampak dipenuhi koloni tungau disertai benang-benang halus menyerupai jaring laba-laba.

Siklus hidup tungau merah berlangsung relatif singkat sehingga populasinya dapat berkembang dengan cepat. Telur diletakkan pada permukaan bawah daun dan akan menetas menjadi larva dalam beberapa hari tergantung kondisi lingkungan. Setelah itu berkembang menjadi nimfa dan kemudian dewasa. Pada suhu panas dan kondisi kering, perkembangan tungau berlangsung lebih cepat sehingga dalam waktu singkat dapat terjadi ledakan populasi di lapangan. Oleh sebab itu, pemantauan rutin pada musim kemarau sangat penting dilakukan guna mendeteksi serangan sejak dini.

Gejala awal serangan tungau merah biasanya ditandai munculnya bercak-bercak kecil berwarna kuning pucat pada permukaan daun akibat aktivitas pengisapan cairan sel. Seiring meningkatnya populasi, daun berubah menjadi kekuningan, kusam, kemudian mengering. Pada serangan berat, daun dapat menggulung, rontok lebih awal, dan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Kerusakan daun yang cukup parah akan mengurangi kemampuan fotosintesis tanaman sehingga pembentukan umbi tidak optimal dan hasil produksi menurun.

Serangan tungau merah umumnya lebih dominan terjadi pada daun-daun tua bagian bawah, kemudian menyebar ke bagian atas tanaman apabila tidak segera dikendalikan. Kondisi pertanaman yang terlalu rapat, gulma tidak terkendali, serta kurangnya sanitasi kebun dapat mendukung perkembangan populasi hama ini. Selain itu, pemupukan nitrogen berlebihan tanpa diimbangi unsur hara lainnya juga dapat menyebabkan tanaman lebih rentan terhadap serangan tungau merah.

Upaya pengendalian tungau merah pada tanaman ubi kayu perlu dilakukan secara terpadu dengan mengutamakan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Langkah awal yang penting dilakukan adalah menjaga kondisi pertanaman tetap sehat melalui pengolahan tanah yang baik, penggunaan varietas toleran, pemupukan berimbang, dan pengaturan jarak tanam yang sesuai. Sanitasi kebun dengan membersihkan gulma dan bagian tanaman yang terserang juga perlu dilakukan guna mengurangi sumber perkembangan populasi tungau di lapangan.

Selain pengendalian secara kultur teknis, pemanfaatan pestisida nabati juga dapat menjadi alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Pestisida nabati berbahan dasar tumbuhan seperti daun mimba, bawang putih, serai wangi, daun pepaya, maupun tembakau diketahui memiliki kandungan senyawa aktif yang dapat menekan perkembangan tungau merah. Larutan pestisida nabati umumnya bekerja sebagai penolak, penghambat makan, maupun mengganggu perkembangan hama. Aplikasi dilakukan dengan penyemprotan merata terutama pada bagian bawah daun secara rutin sejak gejala awal serangan mulai terlihat.

Pembuatan pestisida nabati dapat dilakukan secara sederhana oleh petani dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan. Sebagai contoh, ekstrak daun mimba dan bawang putih dapat dihaluskan, dicampur air, kemudian disaring sebelum diaplikasikan ke pertanaman. Penggunaan pestisida nabati secara berkala dapat membantu menekan populasi tungau sekaligus lebih aman terhadap musuh alami dan lingkungan sekitar. Namun demikian, aplikasinya perlu dilakukan lebih rutin dibandingkan pestisida kimia karena daya kerjanya relatif lebih singkat.

Apabila populasi tungau merah telah melebihi ambang pengendalian, penggunaan akarisida kimia dapat dilakukan secara bijaksana sesuai rekomendasi Kementerian Pertanian. Penggunaan pestisida harus memperhatikan dosis, waktu aplikasi, serta bahan aktif yang sesuai agar efektif menekan populasi hama dan tidak menimbulkan resistensi. Penyemprotan sebaiknya diarahkan pada bagian bawah daun karena lokasi tersebut merupakan tempat utama tungau berkembang. Melalui penerapan pengendalian terpadu yang memadukan kultur teknis, pemanfaatan musuh alami, penggunaan pestisida nabati, dan pestisida kimia secara tepat, serangan tungau merah pada tanaman ubi kayu diharapkan dapat ditekan sehingga produktivitas tanaman tetap optimal. 

DAFTAR PUSTAKA

Jayanti, Y. W., Efri, E., & Sudarsono, H. (2022). Pengaruh klon terhadap intensitas hama dan penyakit penting pada tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) di Lampung Tengah. Jurnal Agrotek Tropika, 10(2), 195–202.

Wardani, N., dan Purwanta, M. 2018. “Efektivitas Pestisida Nabati terhadap Perkembangan Tungau Merah pada Tanaman Pangan.” Jurnal Proteksi Tanaman Indonesia, 22(1): 33–40.

Widodo, S., dan Suharto. 2019. “Pemanfaatan Ekstrak Daun Mimba sebagai Pestisida Nabati dalam Pengendalian Hama Tungau.” Jurnal Agroteknologi Tropika, 7(3): 215–222.

Yuliadhi, K.A., dan Supartha, I.W. 2012. “Perkembangan Populasi Tungau Merah (Tetranychus spp.) pada Kondisi Musim Kering.” E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika, 1(1): 11–18.