(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Penyakit JAP (Jamur Akar Putih) Pada Tanaman Jambu Mente

Admin distankan | 29 Juni 2026 | 74 kali

Oleh :

I Gede Sila Adnyana, S.P.

( POPT Ahli Pertama Kecamatan Tejakula )

Jambu mente (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi di Indonesia, termasuk di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Selain menghasilkan biji mente yang bernilai jual tinggi, tanaman ini juga dimanfaatkan buah semunya sebagai bahan pangan maupun olahan. Jambu mente dikenal mampu tumbuh pada lahan kering dengan curah hujan yang relatif rendah, sehingga menjadi salah satu tanaman yang sesuai dikembangkan pada wilayah beriklim kering seperti sebagian besar kawasan Tejakula. Namun demikian, produktivitas tanaman dapat mengalami penurunan akibat serangan berbagai organisme pengganggu tumbuhan (OPT), salah satunya adalah penyakit Jamur Akar Putih (JAP).

Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tahunan yang disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus (sinonim Rigidoporus lignosus). Patogen ini menyerang sistem perakaran sehingga mengganggu penyerapan air dan unsur hara. Apabila tidak segera ditangani, infeksi dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, kematian cabang, hingga kematian seluruh tanaman. Penyakit ini sering ditemukan pada lahan yang sebelumnya ditanami tanaman berkayu atau masih menyisakan tunggul dan akar tanaman lama yang menjadi sumber inokulum.

Jamur penyebab JAP berkembang melalui miselium yang hidup di dalam tanah dan pada sisa-sisa akar tanaman. Miselium berwarna putih membentuk anyaman menyerupai benang yang kemudian menjalar dari akar tanaman sakit menuju akar tanaman sehat. Penularan umumnya terjadi melalui kontak langsung antarakar atau melalui sisa akar yang masih tertinggal di dalam tanah. Oleh karena itu, penyakit ini sering menyebar secara bertahap mengikuti arah pertumbuhan akar di dalam kebun.

Siklus hidup jamur diawali ketika miselium bertahan pada akar atau tunggul tanaman yang telah mati. Dalam kondisi tanah yang lembap dan memiliki banyak bahan organik, jamur terus berkembang membentuk jaringan miselium yang aktif. Miselium kemudian menginfeksi akar tanaman sehat melalui luka atau bagian akar yang masih muda. Setelah berhasil masuk, jamur berkembang di jaringan kayu akar dan merusak pembuluh pengangkut air serta hara. Seiring waktu, infeksi semakin meluas menuju pangkal batang sehingga menyebabkan tanaman mengalami gangguan fisiologis yang semakin berat.

Gejala awal serangan umumnya sulit diamati karena perkembangan penyakit berlangsung di dalam tanah. Tanaman yang terserang mulai menunjukkan pertumbuhan yang terhambat, daun tampak menguning, ukuran daun menjadi lebih kecil, kemudian mengalami layu terutama pada siang hari meskipun kondisi tanah masih cukup lembap. Pada fase ini, petani sering mengira tanaman hanya mengalami kekurangan air sehingga penanganannya menjadi terlambat.

Seiring meningkatnya tingkat serangan, daun mulai berguguran, ranting mengering secara bertahap, dan tajuk tanaman tampak jarang. Bila pangkal batang digali, akar yang terserang terlihat membusuk dan tertutup lapisan miselium putih yang melekat kuat pada permukaan akar. Pada stadium lanjut, akar berubah warna menjadi cokelat kehitaman, kehilangan fungsi, dan akhirnya mati sehingga tanaman roboh atau mengering seluruhnya.

Pada kondisi lingkungan yang mendukung, jamur dapat membentuk tubuh buah berwarna jingga hingga cokelat muda pada pangkal batang atau sisa tunggul tanaman. Munculnya tubuh buah tersebut menunjukkan bahwa infeksi telah berlangsung cukup lama dan menjadi indikasi adanya sumber penyebaran penyakit di sekitar pertanaman. Oleh sebab itu, keberadaan tunggul dan akar tanaman sakit perlu mendapat perhatian dalam kegiatan sanitasi kebun.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa serangan JAP lebih mudah berkembang pada kebun yang memiliki drainase kurang baik, banyak ditumbuhi gulma berkayu, serta masih menyisakan akar tanaman lama di dalam tanah. Tanaman yang mengalami cekaman akibat kekeringan, kekurangan unsur hara, maupun kerusakan mekanis pada akar juga lebih rentan mengalami infeksi dibandingkan tanaman yang tumbuh sehat.

Pengelolaan penyakit JAP dianjurkan menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pendekatan ini mengutamakan upaya pencegahan melalui pengelolaan lingkungan budidaya sehingga perkembangan patogen dapat ditekan tanpa bergantung pada penggunaan fungisida. Dengan demikian, pengendalian menjadi lebih efektif sekaligus menjaga produktivitas tanaman.

Langkah pertama dalam PHT adalah menggunakan bibit yang sehat dan berasal dari sumber benih terpercaya. Sebelum penanaman, lahan perlu dibersihkan dari tunggul, akar tanaman lama, maupun sisa-sisa kayu yang berpotensi menjadi tempat bertahan hidup jamur. Pengolahan tanah yang baik disertai perbaikan drainase juga penting dilakukan agar kondisi tanah tidak terlalu lembap, karena kelembapan tinggi sangat mendukung perkembangan JAP.

Sanitasi kebun menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit ini. Tanaman yang menunjukkan gejala berat sebaiknya segera dicabut beserta seluruh sistem perakarannya, kemudian dimusnahkan agar tidak menjadi sumber penularan. Lubang bekas tanaman sakit dianjurkan dibiarkan terkena sinar matahari selama beberapa waktu sebelum dilakukan penanaman kembali. Kegiatan pemangkasan cabang yang mati serta pengendalian gulma secara rutin juga membantu menciptakan kondisi kebun yang kurang sesuai bagi perkembangan patogen.

Pemanfaatan agens hayati dapat menjadi alternatif pengendalian yang efektif dalam konsep PHT. Jamur antagonis seperti Trichoderma harzianum, Trichoderma asperellum, maupun Trichoderma viride dapat diaplikasikan pada daerah perakaran untuk menekan perkembangan Rigidoporus microporus. Jamur antagonis tersebut bekerja melalui mekanisme kompetisi ruang dan nutrisi, menghasilkan senyawa penghambat pertumbuhan patogen, serta melakukan mikoparasitisme terhadap jamur penyebab penyakit.

Pemeliharaan kesuburan tanah melalui pemberian bahan organik yang telah matang dan pemupukan berimbang juga berperan dalam meningkatkan kesehatan tanaman. Tanaman yang memperoleh unsur hara secara cukup memiliki sistem perakaran yang lebih kuat sehingga mampu bertahan lebih baik terhadap serangan penyakit. Selain itu, monitoring kebun secara rutin perlu dilakukan agar gejala awal dapat dikenali sedini mungkin sehingga tindakan pengendalian dapat segera dilaksanakan.

Apabila intensitas serangan telah tinggi dan berbagai upaya pengendalian dalam konsep PHT belum mampu menekan perkembangan penyakit, penggunaan fungisida kimia dapat dilakukan sebagai pilihan terakhir. Aplikasi fungisida harus dilakukan secara tepat sasaran, mengikuti dosis anjuran pada label, serta memperhatikan prinsip penggunaan pestisida yang bijaksana agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun organisme bukan sasaran.

Beberapa bahan aktif fungisida yang dapat digunakan untuk membantu pengendalian penyakit Jamur Akar Putih antara lain heksakonazol, propikonazol, triadimefon, tebukonazol, dan azoksistrobin, sesuai dengan komoditas serta izin penggunaannya. Aplikasi umumnya dilakukan melalui penyiraman (soil drench) atau pengocoran di sekitar daerah perakaran tanaman yang masih berada pada tingkat serangan awal. Dengan menerapkan pengendalian berdasarkan prinsip PHT yang mengintegrasikan tindakan pencegahan, sanitasi kebun, penggunaan agens hayati, pemeliharaan kesehatan tanaman, serta penggunaan fungisida sebagai alternatif terakhir, diharapkan serangan penyakit Jamur Akar Putih pada tanaman Jambu Mente dapat ditekan sehingga produktivitas dan umur ekonomis tanaman tetap terjaga.

 

DAFTAR PUSTAKA

Falahiyah, M. T., Bahri, S., Marnita, Y., & Dalimunthe, C. I. (2023). Uji efektivitas beberapa isolat Trichoderma sp. terhadap penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus). Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan

Yulia, E., Rahayu, A., & Suganda, T. (2022). Antagonisme jamur rizosfer tanaman karet terhadap Rigidoporus microporus secara in vitro dan in planta. Jurnal AGRO

Fairuzah, Z., Dalimunthe, C. I., Karyudi, Suryaman, S., & Widhayati, W. E. (2014). Keefektifan beberapa fungi antagonis (Trichoderma spp.) dalam biofungisida Endohevea terhadap penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus) di lapangan. Jurnal Penelitian Karet, 32(2), 122–128.