(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

VARIETAS PADI INPARI 38-46 SEBAGAI UPAYA ADAPTASI TERHADAP DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN KEKERINGAN

Admin distankan | 11 September 2026 | 454 kali

Oleh :

Rafika Ardiani, S.P/ POPT Ahli Pertama, Balai Penyuluhan Pertanian

Kecamatan Gerokgak

Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya tanaman pangan, khususnya padi. Perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, serta musim kemarau yang lebih panjang dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bagi tanaman. Kondisi tersebut dapat menimbulkan cekaman kekeringan yang berdampak pada pertumbuhan tanaman, pembentukan anakan, pembungaan, pengisian gabah, hingga produktivitas dan risiko gagal panen.

Menghadapai kondisi tersebut, salah satu strategi adaptasi yang dapat dilakukan adalah menggunakan vareitas padi yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kekeringan. Kementerian Petanian pada tahun 2026 secara khusus mendorong pemanfaatan varietas padi adaptif, termasuk inpari 38-46, untuk menghadapi musim kemarau dan keterbatasan air.

Dampak Kekeringan terhadap Tanaman Padi

Ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan budidaya padi. Kekurangan air pada fase vegetatif menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan mengurangi pembentukan anakan. Sementara itu, apabila cekaman kekeringan terjadi pada fase generatif, terutama menjelang pembungaan dan pengisian gebah, dampaknya dapat lebih besar terhadap hasil. Kondisi kekeringan juga dapat menyebabkan tanah menjadi kering dan keras sehingga penyerapan air serta unsur hara oleh akar menjadi terganggu. Tanaman yang mengalami kekurangan air dalam waktu lama dapat menunjukkan gejala daun menggulung, daun mengering,  pertumbuhan terhambat, hingga mengalami kerusakan berat dan puso. Risiko tersebut terutama tinggi pada sawah tadah hujan, karena ketersedian air sangat bergantung pada curah hujan. Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa sawah tadah hujan memiliki risiko kekeringan yang tinggi pada musim kemarau sehingga diperlukan veritas yang mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Inpari 38-46 sebagai Vareitas Adaptif

Inpari 38 sampai 46 merupakan kelompok varietas yang mendapatka perhatian dalam strategi adaptasi pertanian terhadap kekeringan. Pada 2026, Kementerian Pertanian mendorong petani untuk memanfaatkan Inpari 38-46 sebagai salah satu kelompok varietas genjah dan tahan/toleran terhadap cekaman kekeringan. Penggunaan varietas tersebut diharapkan dapat membantu menjaga produksi ketika ketersediaan air terbatas. Namun penting untuk dipahami bahwa istilah tahan atau toleran kekeringan tidak berarti tanaman dapat tumbuh tanpa air. Varietas adaptif tetap membutuhkan air untuk pertumbuhan dan produksi. Keunggulannya adalah kemampuan tanaman untuk mempertahankan pertumbuhan dan hasil relatif lebih baik ketika menghadapi keterbatasan air dibandingkan varietas yang tidak sesuai dengan kondisi tersebut.

Peran Inpari 38-46 dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Penggunaan inpari 38-46 dapat menjadi salah satu bentuk adaptasi teknologi budidaya terhadap perubahan iklim. Strategi ini penting karena perubahan iklim menyebabkan petani tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pola musim dan kondisi air seperti pada tahun-tahun sebelumnya. BRMP Agroklimat pada 2026 menjelaskan bahwa penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi agroklimat merupakan salah satu strategi penting untuk mengurangi risiko gagal panen akibat cekaman iklim. Varietas adaptif dapat membantu mempertahankan stabilitas produksi ketika tanaman menghadapi tekanan lingkungan.

Penggunaan vareitas adaptif juga perlu dikombinasikan dengan teknologi budidaya lainnya. Kementerian Pertanian mendorong penerapan pengairan berselang (Alternate Wetting and Drying/AWD) , pengelolaan irigasi, pompanisasi dan perpipaan sebagai bagian dari strategi menghadapi musim kemarau.

Sumber :

BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian. 2026. BRMP Agroklimat Kenalkan Varietas Padi Tahan Cekaman Iklim Sebagai Solusi Adaptasi Perubahan Iklim. Www.agroklimat.brmp.pertanian.go.id

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2026. Hadapi Kemarau Lebih Awal, Kementan Dorong Pemanfaatan Varietas Padi Adaptif. Pertanian.go.id