Oleh :
Rafika Ardiani, S.P/ POPT Ahli Pertama, Balai
Penyuluhan Pertanian
Kecamatan Gerokgak
Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan utama dalam
budidaya tanaman pangan, khususnya padi. Perubahan pola curah hujan,
peningkatan suhu, serta musim kemarau yang lebih panjang dapat menyebabkan
berkurangnya ketersediaan air bagi tanaman. Kondisi tersebut dapat menimbulkan
cekaman kekeringan yang berdampak pada pertumbuhan tanaman, pembentukan anakan,
pembungaan, pengisian gabah, hingga produktivitas dan risiko gagal panen.
Menghadapai kondisi tersebut, salah satu strategi adaptasi
yang dapat dilakukan adalah menggunakan vareitas padi yang memiliki kemampuan
beradaptasi terhadap kekeringan. Kementerian Petanian pada tahun 2026 secara
khusus mendorong pemanfaatan varietas padi adaptif, termasuk inpari 38-46,
untuk menghadapi musim kemarau dan keterbatasan air.
Dampak
Kekeringan terhadap Tanaman Padi
Ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan budidaya
padi. Kekurangan air pada fase vegetatif menyebabkan pertumbuhan tanaman
terhambat dan mengurangi pembentukan anakan. Sementara itu, apabila cekaman
kekeringan terjadi pada fase generatif, terutama menjelang pembungaan dan
pengisian gebah, dampaknya dapat lebih besar terhadap hasil. Kondisi kekeringan
juga dapat menyebabkan tanah menjadi kering dan keras sehingga penyerapan air
serta unsur hara oleh akar menjadi terganggu. Tanaman yang mengalami kekurangan
air dalam waktu lama dapat menunjukkan gejala daun menggulung, daun
mengering, pertumbuhan terhambat, hingga
mengalami kerusakan berat dan puso. Risiko tersebut terutama tinggi pada sawah
tadah hujan, karena ketersedian air sangat bergantung pada curah hujan.
Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa sawah tadah hujan memiliki risiko
kekeringan yang tinggi pada musim kemarau sehingga diperlukan veritas yang
mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Inpari
38-46 sebagai Vareitas Adaptif
Inpari 38 sampai 46 merupakan kelompok varietas yang
mendapatka perhatian dalam strategi adaptasi pertanian terhadap kekeringan.
Pada 2026, Kementerian Pertanian mendorong petani untuk memanfaatkan Inpari
38-46 sebagai salah satu kelompok varietas genjah dan tahan/toleran terhadap
cekaman kekeringan. Penggunaan varietas tersebut diharapkan dapat membantu
menjaga produksi ketika ketersediaan air terbatas. Namun penting untuk dipahami
bahwa istilah tahan atau toleran kekeringan tidak berarti tanaman dapat tumbuh
tanpa air. Varietas adaptif tetap membutuhkan air untuk pertumbuhan dan
produksi. Keunggulannya adalah kemampuan tanaman untuk mempertahankan
pertumbuhan dan hasil relatif lebih baik ketika menghadapi keterbatasan air
dibandingkan varietas yang tidak sesuai dengan kondisi tersebut.
Peran
Inpari 38-46 dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Penggunaan inpari 38-46 dapat menjadi salah satu bentuk
adaptasi teknologi budidaya terhadap perubahan iklim. Strategi ini penting
karena perubahan iklim menyebabkan petani tidak dapat sepenuhnya mengandalkan
pola musim dan kondisi air seperti pada tahun-tahun sebelumnya. BRMP Agroklimat
pada 2026 menjelaskan bahwa penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi
agroklimat merupakan salah satu strategi penting untuk mengurangi risiko gagal
panen akibat cekaman iklim. Varietas adaptif dapat membantu mempertahankan
stabilitas produksi ketika tanaman menghadapi tekanan lingkungan.
Penggunaan vareitas adaptif juga perlu dikombinasikan dengan teknologi budidaya lainnya. Kementerian Pertanian mendorong penerapan pengairan berselang (Alternate Wetting and Drying/AWD) , pengelolaan irigasi, pompanisasi dan perpipaan sebagai bagian dari strategi menghadapi musim kemarau.
Sumber
:
BRMP Agroklimat dan Hidrologi
Pertanian. 2026. BRMP Agroklimat Kenalkan Varietas Padi Tahan Cekaman Iklim
Sebagai Solusi Adaptasi Perubahan Iklim. Www.agroklimat.brmp.pertanian.go.id
Kementerian Pertanian Republik
Indonesia. 2026. Hadapi Kemarau Lebih Awal, Kementan Dorong Pemanfaatan
Varietas Padi Adaptif. Pertanian.go.id