Oleh : I Gede Sila
Adnyana, S.P.
( POPT Ahli Pertama
di Kecamatan Sukasada )
Jagung
merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang memiliki peran penting
dalam sistem pertanian dan ketahanan pangan. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai
sumber karbohidrat, bahan baku industri, serta pakan ternak. Produktivitas
jagung dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, teknik budidaya, dan gangguan
organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengelolaan budidaya yang baik menjadi
faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi jagung di tingkat petani.
Salah satu
penyakit penting pada tanaman jagung adalah busuk batang Diplodia. Penyakit ini
disebabkan oleh jamur Stenocarpella maydis yang juga dikenal dengan sinonim
Diplodia maydis. Patogen ini termasuk jamur tular sisa tanaman. Jamur dapat
bertahan pada jaringan tanaman yang telah mati di lahan. Infeksi biasanya
terjadi pada jaringan tanaman yang rentan, terutama pada kondisi lingkungan
yang lembap.
Penyakit
busuk batang Diplodia umumnya muncul pada fase generatif tanaman jagung.
Serangan sering terjadi pada fase pengisian biji. Pada fase ini tanaman
memerlukan kondisi fisiologis yang stabil untuk mendukung pembentukan tongkol
dan pengisian biji. Infeksi pada fase tersebut dapat menyebabkan kematian
tanaman sebelum waktunya. Kondisi ini mengakibatkan proses pengisian biji tidak
berlangsung optimal.
Gejala awal
penyakit dapat diamati pada batang bagian bawah tanaman. Warna jaringan batang
berubah dari hijau menjadi cokelat keabu-abuan. Batang menjadi lunak dan
kehilangan kekuatan. Tanaman menjadi mudah rebah terutama ketika terkena angin
atau beban tongkol.
Kerusakan
jaringan batang berkembang menuju bagian dalam tanaman. Bagian empulur batang
mengalami pembusukan. Jaringan menjadi kering dan rapuh. Batang dapat patah
atau terlipat pada bagian pangkal. Tanaman yang terserang berat sering
menunjukkan gejala layu.
Ciri khas
penyakit ini adalah munculnya bintik-bintik kecil berwarna hitam pada jaringan
batang. Bintik tersebut merupakan struktur jamur yang disebut piknidia.
Piknidia berfungsi sebagai tempat pembentukan spora jamur. Struktur ini sering
terlihat pada jaringan batang yang membusuk. Keberadaan piknidia menjadi
indikator penting dalam identifikasi penyakit di lapangan.
Jamur
Stenocarpella maydis mampu bertahan hidup pada sisa tanaman jagung setelah
panen. Patogen dapat bertahan dalam bentuk miselium atau struktur reproduktif.
Sisa tanaman yang terinfeksi menjadi sumber inokulum utama. Spora jamur dapat
menyebar saat kondisi lingkungan lembap. Penyebaran terjadi melalui percikan
air hujan atau bantuan angin.
Kondisi
lingkungan basah sangat mendukung perkembangan penyakit ini. Curah hujan tinggi
meningkatkan kelembapan di sekitar tanaman. Drainase lahan yang kurang baik
juga mempercepat perkembangan patogen. Tanaman yang mengalami stres cenderung
lebih rentan terhadap infeksi. Kekurangan unsur hara dapat memperlemah kondisi
tanaman.
Pengendalian
penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan varietas jagung yang memiliki
ketahanan terhadap busuk batang. Varietas hibrida tertentu memiliki tingkat
toleransi yang lebih baik terhadap patogen. Penggunaan benih bermutu dan
bersertifikat juga penting. Benih sehat membantu mengurangi sumber infeksi
sejak awal pertanaman.
Pergiliran
tanaman merupakan strategi penting dalam pengendalian penyakit. Rotasi dengan
tanaman non-inang dapat menurunkan populasi patogen di lahan. Tanaman
kacang-kacangan sering digunakan dalam sistem rotasi. Pengelolaan drainase juga
perlu diperhatikan. Tanah yang tidak tergenang membantu menekan perkembangan
jamur.
Upaya
pengendalian lain dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman terpadu. Petani
perlu menjaga jarak tanam yang sesuai agar sirkulasi udara tetap baik.
Pemupukan berimbang dapat meningkatkan ketahanan tanaman. Penggunaan agen
hayati seperti Trichoderma sp. dapat membantu menekan perkembangan patogen di
dalam tanah. Sanitasi lahan juga perlu dilakukan dengan membersihkan sisa
tanaman yang terinfeksi.
Sebagai petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), kegiatan pemantauan lapangan menjadi bagian penting dalam pengelolaan penyakit tanaman. Pengamatan rutin membantu mendeteksi gejala serangan sejak dini. Informasi hasil pengamatan menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi kepada petani. Pendekatan pengendalian terpadu perlu terus didorong di tingkat lapangan.
Daftar Pustaka:
Balai Penelitian Tanaman Serealia. (2018).
Penyakit penting pada tanaman jagung dan teknik pengendaliannya. Jurnal
Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 37(2), 123–132.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (2020). Pedoman
Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Jagung. Jakarta:
Kementerian Pertanian.