(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Deteksi Dini dan Pengendalian Busuk Batang Diplodia pada Tanaman Jagung

Admin distankan | 01 April 2026 | 488 kali

Oleh : I Gede Sila Adnyana, S.P.

( POPT Ahli Pertama di Kecamatan Sukasada )

Jagung merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang memiliki peran penting dalam sistem pertanian dan ketahanan pangan. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, bahan baku industri, serta pakan ternak. Produktivitas jagung dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, teknik budidaya, dan gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengelolaan budidaya yang baik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi jagung di tingkat petani.

Salah satu penyakit penting pada tanaman jagung adalah busuk batang Diplodia. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Stenocarpella maydis yang juga dikenal dengan sinonim Diplodia maydis. Patogen ini termasuk jamur tular sisa tanaman. Jamur dapat bertahan pada jaringan tanaman yang telah mati di lahan. Infeksi biasanya terjadi pada jaringan tanaman yang rentan, terutama pada kondisi lingkungan yang lembap.

Penyakit busuk batang Diplodia umumnya muncul pada fase generatif tanaman jagung. Serangan sering terjadi pada fase pengisian biji. Pada fase ini tanaman memerlukan kondisi fisiologis yang stabil untuk mendukung pembentukan tongkol dan pengisian biji. Infeksi pada fase tersebut dapat menyebabkan kematian tanaman sebelum waktunya. Kondisi ini mengakibatkan proses pengisian biji tidak berlangsung optimal.

Gejala awal penyakit dapat diamati pada batang bagian bawah tanaman. Warna jaringan batang berubah dari hijau menjadi cokelat keabu-abuan. Batang menjadi lunak dan kehilangan kekuatan. Tanaman menjadi mudah rebah terutama ketika terkena angin atau beban tongkol.

Kerusakan jaringan batang berkembang menuju bagian dalam tanaman. Bagian empulur batang mengalami pembusukan. Jaringan menjadi kering dan rapuh. Batang dapat patah atau terlipat pada bagian pangkal. Tanaman yang terserang berat sering menunjukkan gejala layu.

Ciri khas penyakit ini adalah munculnya bintik-bintik kecil berwarna hitam pada jaringan batang. Bintik tersebut merupakan struktur jamur yang disebut piknidia. Piknidia berfungsi sebagai tempat pembentukan spora jamur. Struktur ini sering terlihat pada jaringan batang yang membusuk. Keberadaan piknidia menjadi indikator penting dalam identifikasi penyakit di lapangan.

Jamur Stenocarpella maydis mampu bertahan hidup pada sisa tanaman jagung setelah panen. Patogen dapat bertahan dalam bentuk miselium atau struktur reproduktif. Sisa tanaman yang terinfeksi menjadi sumber inokulum utama. Spora jamur dapat menyebar saat kondisi lingkungan lembap. Penyebaran terjadi melalui percikan air hujan atau bantuan angin.

Kondisi lingkungan basah sangat mendukung perkembangan penyakit ini. Curah hujan tinggi meningkatkan kelembapan di sekitar tanaman. Drainase lahan yang kurang baik juga mempercepat perkembangan patogen. Tanaman yang mengalami stres cenderung lebih rentan terhadap infeksi. Kekurangan unsur hara dapat memperlemah kondisi tanaman.

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan varietas jagung yang memiliki ketahanan terhadap busuk batang. Varietas hibrida tertentu memiliki tingkat toleransi yang lebih baik terhadap patogen. Penggunaan benih bermutu dan bersertifikat juga penting. Benih sehat membantu mengurangi sumber infeksi sejak awal pertanaman.

Pergiliran tanaman merupakan strategi penting dalam pengendalian penyakit. Rotasi dengan tanaman non-inang dapat menurunkan populasi patogen di lahan. Tanaman kacang-kacangan sering digunakan dalam sistem rotasi. Pengelolaan drainase juga perlu diperhatikan. Tanah yang tidak tergenang membantu menekan perkembangan jamur.

Upaya pengendalian lain dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman terpadu. Petani perlu menjaga jarak tanam yang sesuai agar sirkulasi udara tetap baik. Pemupukan berimbang dapat meningkatkan ketahanan tanaman. Penggunaan agen hayati seperti Trichoderma sp. dapat membantu menekan perkembangan patogen di dalam tanah. Sanitasi lahan juga perlu dilakukan dengan membersihkan sisa tanaman yang terinfeksi.

Sebagai petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), kegiatan pemantauan lapangan menjadi bagian penting dalam pengelolaan penyakit tanaman. Pengamatan rutin membantu mendeteksi gejala serangan sejak dini. Informasi hasil pengamatan menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi kepada petani. Pendekatan pengendalian terpadu perlu terus didorong di tingkat lapangan.

Daftar Pustaka:

Balai Penelitian Tanaman Serealia. (2018). Penyakit penting pada tanaman jagung dan teknik pengendaliannya. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 37(2), 123–132.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (2020). Pedoman Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Jagung. Jakarta: Kementerian Pertanian.