(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

PERAN UNSUR HARA SILIKA DALAM MENGUATKAN TANAMAN DARI SERANGAN PENYAKIT DAN GANGGUAN FISIOLOGIS

Admin distankan | 29 April 2026 | 30 kali

Oleh: I Wayan Rusman, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda

Kecamatan Sawan

Salah satu hal peting yang sering dibicarakan pada budidaya pertanian adalah pH tanah, karena sangat berpengaruh terhadap tanaman utamanya pada penyerapan dan ketersediaan unsur hara dalam tanah. salah satu tanaman yang memiliki toleransi tinggi terhadap kemasaman adalah tanaman padi, namun batas toleransi pH untuk tanaman padi belum menyelesaikan seluruh masalah, karena ketika pH turun mencapai (pH <4) dan kondisi tergenang menyebabkan meningkatnya konsentrasi unsur yang bersifat toksik atau racun seperti: Al (aluminium), Mn (Mangan), dan Fe (Besi) serta sulfat. Pada kondisi lahan padi yang terus-terusan tergenang keracunan Fe (besi) lebih sering terjadi dibandingkan keracunan Al (aluminium). Proses reduksi melepaskan OH yang bereaksi dengan Al terlarut menjadi Al hidroksida yang sukar larut, sehingga tanah sawah jarang mengalami keracunan Al kecuali bila proses reduksi berlangsung lambat. Toksisitas Fe menjadi salah satu faktor penghambat untuk produksi padi sawah di lahan rawa karena pembentukan Fe2+ berlebih pada tanah dengan kondisi tereduksi.

Kelebihan Fe dapat menyebabkan gejala keracunan dan kekurangan hara P, K, Ca, Mg, Mn sebagai pengaruh tidak langsung, seperti yang sering ditemukan pada tanaman padi selama fase vegetatif dan reproduksi, sehingga menurunkan hasil panen. Gejala tanaman padi yang mengalami keracunan Fe umumnya terlihat pertama kali pada bagian daun. Daun yang semula berwarna hijau akan berubah menjadi kekuningan, kemudian berkembang menjadi warna cokelat kemerahan atau seperti berkarat (bronzing), biasanya dimulai dari ujung daun dan menyebar ke seluruh permukaan daun. Pada kondisi yang lebih parah, daun dapat mengering, tampak terbakar, dan akhirnya mati. Gejala ini sering muncul lebih dahulu pada daun tua sebelum menyebar ke daun yang lebih muda. Selain perubahan warna daun, pertumbuhan tanaman padi yang keracunan Fe juga menjadi terhambat. Tanaman terlihat kerdil, tinggi tanaman lebih rendah dari normal, dan jumlah anakan berkurang. Perkembangan akar juga terganggu, di mana akar berubah warna menjadi cokelat tua hingga hitam, pertumbuhannya pendek, dan kemampuan menyerap unsur hara menjadi menurun. Akibatnya, tanaman tampak lemah, pertumbuhan tidak seragam di lahan, dan pada serangan berat dapat menyebabkan penurunan hasil panen secara signifikan bahkan menyebabkan tanaman mati.

Bagaimana Manfaat Pupuk Silika untuk Tanah dan Tanaman

Silika berperan penting dalam membantu memulihkan tanaman padi yang tumbuh pada tanah masam atau mengalami keracunan Fe. Pada kondisi tanah masam yang tergenang, unsur besi menjadi lebih mudah larut, sehingga diserap tanaman dalam jumlah berlebihan dan bersifat racun. Pemberian silika dapat mengurangi dampak keracunan tersebut melalui beberapa mekanisme fisiologis dan kimia di dalam tanah maupun jaringan tanaman. Berikut mekanisme yang dimaksud:

1.        Secara fisiologis, silika yang diserap tanaman akan terakumulasi pada dinding sel jaringan daun, batang, dan akar sehingga memperkuat struktur jaringan tanaman. Penguatan dinding sel ini membentuk semacam lapisan pelindung yang dapat menghambat masuknya ion besi berlebih ke dalam sel tanaman. Dengan demikian, silika membantu menjaga keseimbangan unsur hara dalam tanaman dan mengurangi kerusakan sel akibat toksisitas Fe. Tanaman yang mendapatkan suplai silika biasanya menunjukkan daun yang lebih tegak, jaringan lebih kuat, dan toleransi yang lebih tinggi terhadap stres lingkungan.

2.        Silika juga berperan dalam memperbaiki kondisi kimia tanah masam. Silika dapat meningkatkan pH tanah secara bertahap dan mengikat ion besi dalam bentuk yang kurang larut, sehingga ketersediaan Fe yang berlebihan di dalam larutan tanah dapat ditekan. Proses ini membantu menurunkan tingkat toksisitas Fe di sekitar akar tanaman. Di daerah perakaran, silika juga merangsang pembentukan lapisan oksida besi pada permukaan akar (iron plaque) yang berfungsi sebagai penghalang alami terhadap penyerapan Fe berlebih.

3.        Silika dapat meningkatkan aktivitas fotosintesis dan efisiensi penggunaan unsur hara lain seperti fosfor dan kalium, yang sering terganggu pada tanah masam. Dengan meningkatnya kesehatan fisiologis tanaman, proses pemulihan dari keracunan Fe menjadi lebih cepat. Tanaman padi yang diberi silika umumnya menunjukkan pertumbuhan akar yang lebih baik, jumlah anakan meningkat, serta warna daun kembali lebih hijau dibandingkan tanaman tanpa perlakuan silika.

4.        Silika diketahui dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik. Pada tanaman padi salah satu cekaman biotik yang berdampak terhadap penurunan hasil di antaranya serangan penyakit blas baik blas daun maupun leher yang disebabkan oleh serangan jamur. Aplikasi Si telah terbukti mampu menurunkan dan mengontrol serangan penyakit blas secara efektif. Aplikasi Si pada tanah dengan kandungan Si tersedia menunjukkan hasil menurunkan serangan blas daun dan leher. Lebih lanjut diketahui bahwa tingkat serangan blas berkorelasi nyata dengan rendahnya kadar Si tersedia di tanah. Meningkatnya ketahanan tanaman padi terhadap serangan blas dikarenakan Si yang terdapat di jaringan epidermal akan membentuk membran silika-selulosa dan akan berasosiasi bersama pektin dan ion Ca. Lapisan ini membentuk lapisan kutikula berlapis yang melindungi, menguatkan struktur jaringan tanaman serta menghambat penetrasi fungi.

Dosis Pemberian Pupuk Silika

Saat ini pupuk silika tersedia dipasaran dengan berbagai bentuk dan merk serta cara penggunaan yang berbeda-beda pula. Salah satu produk yang tersedia adalah produk yang mengandung Silika 50% dan Kalium 26%, produk tersebut dapat diaplikasikan dengan cara penyemprotan ataupun dengan pemupukan ke lahan. Penyemprotan dapat dilakukan dengan konsentrasi 1,5 - 2 gram per liter air yang disemprotkan ke daun, saat usia tanaman 14 - 45 hari dengan interval 7 - 14 hari. Selain disemprotkan bisa juga ditabur di lahan dengan konsentrasi 4 kg per Ha lahan dengan melarutkan kedalam 500 liter air, sebaiknya disemprotkan di atas lahan dengan kondisi lahan yang basah sebelum tanam.


Daftar Referensi:

Ma, J. F., dan Takahashi, E. 2002. Soil, Fertilizer, and Plant Silicon Research in Japan. Amsterdam: Elsevier Science.

Dobermann, A., dan Fairhurst, T. 2000. Rice: Nutrient Disorders and Nutrient Management. Singapore: Potash & Phosphate Institute (PPI), Potash & Phosphate Institute of Canada (PPIC), dan International Rice Research Institute (IRRI).

Subagyo, H., Suharta, N., dan Siswanto, A. B. 2000. Tanah-tanah Pertanian di Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.