Oleh: I Wayan Rusman, S.P.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda
Kecamatan Sawan
Salah
satu hal peting yang sering dibicarakan pada budidaya pertanian adalah pH
tanah, karena sangat berpengaruh terhadap tanaman utamanya pada penyerapan dan
ketersediaan unsur hara dalam tanah. salah satu tanaman yang memiliki toleransi
tinggi terhadap kemasaman adalah tanaman padi, namun batas toleransi pH untuk
tanaman padi belum menyelesaikan seluruh masalah, karena ketika pH turun
mencapai (pH <4) dan kondisi tergenang menyebabkan meningkatnya konsentrasi
unsur yang bersifat toksik atau racun seperti: Al (aluminium), Mn (Mangan), dan
Fe (Besi) serta sulfat. Pada kondisi lahan padi yang terus-terusan tergenang
keracunan Fe (besi) lebih sering terjadi dibandingkan keracunan Al (aluminium).
Proses reduksi melepaskan OH yang bereaksi dengan Al terlarut menjadi Al
hidroksida yang sukar larut, sehingga tanah sawah jarang mengalami keracunan Al
kecuali bila proses reduksi berlangsung lambat. Toksisitas Fe menjadi salah
satu faktor penghambat untuk produksi padi sawah di lahan rawa karena
pembentukan Fe2+ berlebih pada tanah dengan kondisi tereduksi.
Kelebihan Fe dapat menyebabkan gejala keracunan dan kekurangan hara P, K, Ca, Mg, Mn sebagai pengaruh tidak langsung, seperti yang sering ditemukan pada tanaman padi selama fase vegetatif dan reproduksi, sehingga menurunkan hasil panen. Gejala tanaman padi yang mengalami keracunan Fe umumnya terlihat pertama kali pada bagian daun. Daun yang semula berwarna hijau akan berubah menjadi kekuningan, kemudian berkembang menjadi warna cokelat kemerahan atau seperti berkarat (bronzing), biasanya dimulai dari ujung daun dan menyebar ke seluruh permukaan daun. Pada kondisi yang lebih parah, daun dapat mengering, tampak terbakar, dan akhirnya mati. Gejala ini sering muncul lebih dahulu pada daun tua sebelum menyebar ke daun yang lebih muda. Selain perubahan warna daun, pertumbuhan tanaman padi yang keracunan Fe juga menjadi terhambat. Tanaman terlihat kerdil, tinggi tanaman lebih rendah dari normal, dan jumlah anakan berkurang. Perkembangan akar juga terganggu, di mana akar berubah warna menjadi cokelat tua hingga hitam, pertumbuhannya pendek, dan kemampuan menyerap unsur hara menjadi menurun. Akibatnya, tanaman tampak lemah, pertumbuhan tidak seragam di lahan, dan pada serangan berat dapat menyebabkan penurunan hasil panen secara signifikan bahkan menyebabkan tanaman mati.
Bagaimana Manfaat Pupuk Silika untuk Tanah dan Tanaman
Silika
berperan penting dalam membantu memulihkan tanaman padi yang tumbuh pada tanah
masam atau mengalami keracunan Fe. Pada kondisi tanah masam yang tergenang,
unsur besi menjadi lebih mudah larut, sehingga diserap tanaman dalam jumlah
berlebihan dan bersifat racun. Pemberian silika dapat mengurangi dampak
keracunan tersebut melalui beberapa mekanisme fisiologis dan kimia di dalam
tanah maupun jaringan tanaman. Berikut mekanisme yang dimaksud:
1.
Secara
fisiologis, silika yang diserap tanaman akan terakumulasi pada dinding sel
jaringan daun, batang, dan akar sehingga memperkuat struktur jaringan tanaman.
Penguatan dinding sel ini membentuk semacam lapisan pelindung yang dapat
menghambat masuknya ion besi berlebih ke dalam sel tanaman. Dengan demikian,
silika membantu menjaga keseimbangan unsur hara dalam tanaman dan mengurangi
kerusakan sel akibat toksisitas Fe. Tanaman yang mendapatkan suplai silika
biasanya menunjukkan daun yang lebih tegak, jaringan lebih kuat, dan toleransi
yang lebih tinggi terhadap stres lingkungan.
2.
Silika
juga berperan dalam memperbaiki kondisi kimia tanah masam. Silika dapat
meningkatkan pH tanah secara bertahap dan mengikat ion besi dalam bentuk yang
kurang larut, sehingga ketersediaan Fe yang berlebihan di dalam larutan tanah
dapat ditekan. Proses ini membantu menurunkan tingkat toksisitas Fe di sekitar
akar tanaman. Di daerah perakaran, silika juga merangsang pembentukan lapisan
oksida besi pada permukaan akar (iron plaque) yang berfungsi sebagai
penghalang alami terhadap penyerapan Fe berlebih.
3.
Silika
dapat meningkatkan aktivitas fotosintesis dan efisiensi penggunaan unsur hara
lain seperti fosfor dan kalium, yang sering terganggu pada tanah masam. Dengan
meningkatnya kesehatan fisiologis tanaman, proses pemulihan dari keracunan Fe
menjadi lebih cepat. Tanaman padi yang diberi silika umumnya menunjukkan
pertumbuhan akar yang lebih baik, jumlah anakan meningkat, serta warna daun
kembali lebih hijau dibandingkan tanaman tanpa perlakuan silika.
4. Silika diketahui dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik. Pada tanaman padi salah satu cekaman biotik yang berdampak terhadap penurunan hasil di antaranya serangan penyakit blas baik blas daun maupun leher yang disebabkan oleh serangan jamur. Aplikasi Si telah terbukti mampu menurunkan dan mengontrol serangan penyakit blas secara efektif. Aplikasi Si pada tanah dengan kandungan Si tersedia menunjukkan hasil menurunkan serangan blas daun dan leher. Lebih lanjut diketahui bahwa tingkat serangan blas berkorelasi nyata dengan rendahnya kadar Si tersedia di tanah. Meningkatnya ketahanan tanaman padi terhadap serangan blas dikarenakan Si yang terdapat di jaringan epidermal akan membentuk membran silika-selulosa dan akan berasosiasi bersama pektin dan ion Ca. Lapisan ini membentuk lapisan kutikula berlapis yang melindungi, menguatkan struktur jaringan tanaman serta menghambat penetrasi fungi.
Dosis Pemberian Pupuk Silika
Saat
ini pupuk silika tersedia dipasaran dengan berbagai bentuk dan merk serta cara
penggunaan yang berbeda-beda pula. Salah satu produk yang tersedia adalah
produk yang mengandung Silika 50% dan Kalium 26%, produk tersebut dapat
diaplikasikan dengan cara penyemprotan ataupun dengan pemupukan ke lahan.
Penyemprotan dapat dilakukan dengan konsentrasi 1,5 - 2 gram per liter air yang
disemprotkan ke daun, saat usia tanaman 14 - 45 hari dengan interval 7 - 14
hari. Selain disemprotkan bisa juga ditabur di lahan dengan konsentrasi 4 kg
per Ha lahan dengan melarutkan kedalam 500 liter air, sebaiknya disemprotkan di
atas lahan dengan kondisi lahan yang basah sebelum tanam.
Daftar Referensi:
Ma, J. F., dan Takahashi, E. 2002. Soil, Fertilizer,
and Plant Silicon Research in Japan. Amsterdam: Elsevier Science.
Dobermann, A., dan Fairhurst, T. 2000. Rice:
Nutrient Disorders and Nutrient Management. Singapore: Potash & Phosphate
Institute (PPI), Potash & Phosphate Institute of Canada (PPIC), dan
International Rice Research Institute (IRRI).
Subagyo, H., Suharta, N., dan Siswanto, A. B. 2000.
Tanah-tanah Pertanian di Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat.