(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Waspada Hama Tikus! Musuh Utama Tanaman Padi yang Sering Diabaikan

Admin distankan | 22 April 2026 | 47 kali

oleh : Ni Putu Eka Handayani, S.P

POPT Ahli Pertama di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sukasada

Hama tikus yang paling umum menyerang tanaman padi adalah tikus sawah (Rattus argentiventer). Jenis ini sangat adaptif terhadap lingkungan persawahan dan memiliki kemampuan berkembang biak yang sangat cepat. Dalam satu tahun, seekor tikus betina dapat melahirkan hingga 5–7 kali, dengan jumlah anak mencapai 6–12 ekor setiap kelahiran. Hal inilah yang menyebabkan populasi tikus dapat meningkat tajam dalam waktu singkat jika tidak dikendalikan. Tikus biasanya aktif pada malam hari (nokturnal) dan bersembunyi di siang hari di dalam lubang tanah, tanggul sawah, atau semak-semak di sekitar lahan pertanian, Siregar, H. M., Priyambodo, S., & Hindayana, D. (2018).

 

Pola Serangan pada Tanaman Padi

Serangan tikus dapat terjadi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi:

1.      Fase Persemaian

Pada tahap ini, tikus memakan benih atau bibit muda yang baru tumbuh. Akibatnya, jumlah tanaman berkurang dan pertumbuhan menjadi tidak merata.

2.      Fase Vegetatif

Tikus menyerang dengan memotong batang padi muda untuk dimakan. Kerusakan pada fase ini dapat menyebabkan tanaman mati atau pertumbuhan terganggu.

3.      Fase Generatif (Pembungaan hingga Panen)

Ini merupakan fase paling merugikan. Tikus memakan bulir padi yang sedang berisi hingga siap panen. Sering kali, tikus hanya memakan sebagian dan merusak sisanya sehingga menurunkan hasil panen, Siregar, H. M., Priyambodo, S., & Hindayana, D. (2018).

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Serangan hama tikus dapat menyebabkan kerugian besar, antara lain:

1.       Penurunan hasil panen hingga 30–70% dalam kasus berat

2.       Biaya tambahan untuk pengendalian hama

3.       Ketidakseimbangan ekosistem jika pengendalian dilakukan secara tidak tepat (misalnya penggunaan racun berlebihan). Dalam skala luas, serangan tikus dapat mengancam ketahanan pangan suatu daerah.

 

Faktor Pemicu Ledakan Populasi Tikus

Beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya populasi tikus antara lain:

1.      Pola tanam tidak serempak

2.      Banyaknya sumber makanan sepanjang tahun

3.      Minimnya predator alami

4.      Lingkungan sawah yang kotor dan banyak tempat persembunyian

5.      Kurangnya koordinasi antarpetani dalam pengendalian

 

Cara Efektif Mengendalikan Hama Tikus

Pengendalian hama tikus perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  1. Sanitasi Lingkungan
    Membersihkan area sekitar sawah dari semak-semak dan sisa tanaman dapat mengurangi tempat persembunyian tikus. 
  2. Pemasangan Perangkap
    Menggunakan perangkap mekanis atau jebakan tradisional dapat membantu mengurangi jumlah tikus secara signifikan.
  3. Penggunaan Musuh Alami
    Memanfaatkan predator alami seperti burung hantu dapat menjadi solusi ramah lingkungan dalam jangka panjang.
  4. Tanam Serempak
    Penanaman padi secara serempak dalam satu wilayah dapat memutus siklus makanan tikus, sehingga mengurangi potensi serangan.
  5. Penggunaan Rodentisida : Jika diperlukan, penggunaan racun tikus berbahan aktif rodifakum harus dilakukan secar hati - hati agar tidak mersak lingkungan a embahayakan hewan lain. 


Hama tikus merupakan musuh utama tanaman padi yang sering kali luput dari perhatian. Pengendalian hama tikus tidak akan efektif jika dilakukan secara individu. Dibutuhkan kerja sama antarpetani dalam satu kawasan untuk mengendalikan populasi tikus secara menyeluruh.  Dengan meningkatkan kewaspadaan serta menerapkan strategi pengendalian yang tepat, ancaman tikus dapat diminimalkan. Kesadaran dan tindakan bersama menjadi kunci utama dalam menjaga produktivitas pertanian padi tetap optimal.

 

Daftar Pustaka

Siregar, H. M., Priyambodo, S., & Hindayana, D. (2018). Preferensi serangan tikus sawah (Rattus argentiventer) terhadap tanaman padi. Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi.