Oleh:
Pande Made Giopany, S.P.
POPT-Ahli Pertama di Kecamatan Kubutambahan
Tanah
sering dipahami sebagai media tempat tanaman tumbuh, padahal sesungguhnya tanah
merupakan sebuah ekosistem hidup yang sangat kompleks. Di dalamnya berlangsung
interaksi antara partikel mineral, bahan organik, air, udara, akar tanaman
serta berbagai organisme dari ukuran makro hingga mikro. Setiap gram tanah
subur dapat mengandung miliaran mikroorganisme yang berperan aktif dalam
menjaga keseimbangan ekosistem tersebut. Struktur tanah yang baik, dengan
pori-pori yang cukup untuk sirkulasi udara dan air, menyediakan ruang hidup
yang ideal bagi mikroorganisme.
Mikroorganisme
adalah kelompok organisme yang memiliki ukuran mikroskopis atau berukuran
kecil. Umumnya, jumlah mikrooganisme dalam tanah jauh lebih banyak jika
dibandingkan dengan di udara maupun di dalam air. Mikroorganisme berfungsi
sebagai bagian penting dari ekosistem tanah dalam berbagai proses yang mendukung
kesuburan tanah, meningkatkan kualitas tanaman, dan mengurangi ketergantungan
pada bahan kimia sintetis. Studi terbaru menunjukkan bahwa mikroorganisme dapat
berfungsi sebagai alternatif yang efektif untuk mengatasi masalah yang dihadapi
sistem pertanian modern, seperti polusi, degradasi tanah, dan penurunan
produktivitas tanaman akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.
Hubungan
antara tanaman dan mikroorganisme di dalam tanah bersifat timbal balik. Tanaman
melalui akarnya melepaskan eksudat berupa senyawa organik yang menjadi sumber
makanan bagi organisme. Sebaliknya mikoorganisme membantu tanaman memperoleh
unsur hara, meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi, serta memberikan
perlindungan terhadap patogen. Interaksi yang dinamis ini yang menjadikan tanah
sebagai sistem biologis yang terus berubah namun tetap seimbang ketika dikelola
dengan baik.
Berbagai
jenis mikroorganisme memiliki peran dalam penyediaan unsur hara untuk meningkatkan
kesuburan tanah. Bakteri penambat nitrogen yaitu Rhizobium, Azotobacter,
dan Azospirillum mampu mengubah nitrogen bebas dari atmosfer menjadi
bentuk yang dapat diserap tanaman, sehingga mengurangi ketergantungan pada
pupuk nitrogen sintetis. Selain itu, terdapat bakteri dan jamur pelarut fosfat
yang membantu melarutkan unsur fosfor yang sebelumnya terikat dalam mineral
tanah. Fungi mikoriza membentuk hubungan simbiosis dengan akar tanaman,
memperluas daerah serapan air dan hara, serta meningkatkan ketahanan tanaman
terhadap kekeringan dan cekaman lingkungan lainnya. Keberadaan mikroorganisme
ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kesuburan tanah secara alami.
Selain membantu penyediaan unsur hara, mikroorganisme tanah juga berperan sebagai dekomposer yang menguraikan sisa-sisa tanaman dan bahan organik menjadi humus. Proses dekomposisi ini tidak hanya mendaur ulang unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan sulfur, tetapi juga memperbaiki struktur tanah melalui pembentukan agregat yang stabil. Beberapa mikroorganisme bahkan menghasilkan senyawa yang dapat menekan pertumbuhan patogen tanah, sehingga berfungsi sebagai agen pengendali hayati alami.
Daftar Pustaka
George, T. S., & Wright, D. (2013). Peran
Mikroorganisme dalam Meningkatkan Ketersediaan Unsur Hara Bagi Pertumbuhan
Tanaman. Field Crops Research, 153, 131-141.
Nadhifah, A. (2021). Aplikasi Bakteri
Penambat Nitrogen dan Bakteri Pelarut Fosfat pada Tanaman Kedelai (Glycine Max L.)
Varietas Dega 1 sebagai Agen Biofertilizer. Undergraduate thesis,
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Tahrin, M. (2010). Peranan Mikroorganisme Tanah Sebagai Penyedia Unsur Hara Bagi Tanaman dan Pengendali Hayati. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin. Makassar.
Sumber gambar
Hartmann M & Johan S. (2023). Soil
Structure and Microbiome Functions in Agroecosystems. Nature Reviews Earth
& Environment