Oleh :
Rafika Ardiani, S.P/ POPT Ahli Pertama BPP Kecamatan Gerokgak
Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan salah satu
komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting dalam perekonomian
masyarakat Indonesia. Kelapa dimanfaatkan sebagai bahan pangan, industri,
maupun kebutuhan rumah tangga. Namun demikian, produktivitas tanaman kelapa
sering mengalami penurunan akibat serangan organisme pengganggu tanaman, salah
satunya penyakit busuk pucuk. Penyakit ini tergolong berbahaya karena menyerang
bagian titik tumbuh tanaman sehingga dapat menyebabkan kematian pohon kelapa
apabila tidak segera ditangani.
Penyakit busuk pucuk pada tanaman kelapa umumnya disebabkan
oleh cendawan Phytophthora palmivora. Patogen ini berkembang dengan baik pada
kondisi lingkungan yang lembap, curah hujan tinggi, dan drainase kebun yang
buruk. Penyakit lebih sering muncul pada musim hujan karena kelembapan udara
meningkat dan air mudah menggenang di sekitar tanaman. Selain itu, penularan
penyakit dapat terjadi melalui percikan air hujan, angin, serangga, maupun sisa
tanaman yang telah terinfeksi di dalam kebun.
Gejala awal penyakit busuk pucuk ditandai dengan daun muda
atau janur yang tampak pucat, layu, dan mengering. Daun-daun bagian atas
menjadi patah dan menggantung di sekitar pucuk tanaman. Pada serangan yang
lebih parah, bagian pucuk membusuk, berwarna cokelat kehitaman, serta
mengeluarkan bau busuk. Jika infeksi telah mencapai titik tumbuh, tanaman tidak
dapat diselamatkan dan akhirnya mati. Pada beberapa kasus, buah kelapa juga
mengalami gugur sebelum mencapai umur panen.
Penyebaran penyakit busuk pucuk dapat berlangsung dengan
cepat apabila tanaman yang terserang tidak segera ditangani. Pohon yang sakit
dapat menjadi sumber inokulum bagi tanaman sehat di sekitarnya. Oleh sebab itu,
sanitasi kebun sangat penting dilakukan untuk meminimalkan perkembangan
patogen. Kebun yang dipenuhi sampah organik, pelepah busuk, dan genangan air
akan meningkatkan risiko terjadinya serangan penyakit.
Pengendalian penyakit busuk pucuk dilakukan secara terpadu
melalui tindakan pencegahan dan pengendalian langsung. Upaya pencegahan
meliputi penggunaan bibit sehat, perbaikan drainase kebun, menjaga kebersihan
lingkungan tanaman, serta melakukan pemupukan yang seimbang agar tanaman tetap
kuat terhadap serangan penyakit. Tanaman yang telah terserang berat sebaiknya
ditebang dan dimusnahkan agar tidak menjadi sumber penularan bagi tanaman lain.
Selain itu, pengendalian secara kimia dapat dilakukan menggunakan fungisida berbahan aktif tembaga, benomil, atau metalaksil pada tahap awal serangan. Pengamatan rutin di lapangan juga perlu dilakukan untuk mendeteksi gejala penyakit sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Dengan penerapan teknik budidaya yang baik dan pengendalian terpadu, kerugian akibat penyakit busuk pucuk pada tanaman kelapa dapat ditekan sehingga produktivitas tanaman tetap terjaga.
Sumber
:
Ayo
Sebar. 2025. Teknik Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk Kelapa.
Jasa
Purba. 2018. Cara Penanggulangan Busuk Pucuk Daun Pada Kelapa Sawit (TBM).
YouTube.
Kementerian Pertanian. 2019.
Pengendalian Terpadu Penyakit Kelapa. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran
Teknologi Pertanian.
SIMARLIN Kabupaten Pangandaran. 2024.
Pengendalian OPT Busuk Pucuk (Phytophthora sp) pada Tanaman Kelapa.