(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Akar Stroberi Habis Dimakan Uret? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Admin distankan | 18 Mei 2026 | 28 kali

Oleh :

Ni Putu Eka Handayani, S.P

 

Tanaman stroberi yang tiba-tiba layu, pertumbuhannya lambat, bahkan mati sering membuat petani bingung apa penyebabnya. Banyak orang mengira karena kekurangan air atau penyakit jamur. Padahal, bisa jadi akar stroberi sedang diserang uret.yang merupakan larva yang hidup di dalam tanah dan memakan akar tanaman. Hama ini sangat berbahaya karena menyerang bagian akar yang tidak terlihat, sehingga kerusakannya sering terlambat disadari.

 

Apa Itu Uret?

Uret merupakan larva kumbang berwarna putih kekuningan dengan tubuh melengkung seperti huruf “C”. Kepalanya berwarna cokelat dan memiliki rahang kuat untuk menggigit akar tanaman. Hama ini biasanya hidup di tanah yang lembap, kaya bahan organik dan sangat menyukai akar muda karena teksturnya lunak dan kaya nutrisi. Selain menyerang stroberi, uret juga dapat merusak tanaman sayuran, jagung, kentang, dan rumput.

 

Kenapa Uret Berbahaya untuk Stroberi?

Akar stroberi tergolong halus dan dangkal, sehingga mudah rusak saat diserang uret. Ketika akar dimakan, tanaman tidak mampu menyerap air dan nutrisi dengan baik. Yang membuat uret berbahaya adalah serangannya sulit terlihat dari permukaan tanah.

Gejala Serangan Uret pada Stroberi

Serangan uret sering kali terlambat disadari karena terjadi di dalam tanah. Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai:

1.    Tanaman mendadak layu

Ini gejala paling sering terjadi. Daun terlihat layu dan menggantung meski tanah mendapatkan penyiraman yang cukup

2.    Pertumbuhan terhambat

Tanaman menjadi kerdil dan sulit menghasilkan tunas baru.

3.    Daun menguning

Akar yang rusak membuat penyerapan nutrisi terganggu sehingga daun berubah kuning dan tampak tidak segar.

4.    Tanaman mudah tercabut

Jika akar sudah habis dimakan, tanaman terasa longgar saat disentuh dan gampang tercabut.

5.    Ada Larva Putih di tanah

Saat tanah dibongkar, biasanya terlihat larva putih melengkung yang bergerak aktif, Kurniawan, A., & Suryanto, D. (2018).

 

Cara Mengatasi Uret pada Stroberi

Jika menemukan gejala gejala serangan hama uret. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya, antara lain

1.    Pengendalian fisik dan mekanis

Cara paling sederhana adalah membongkar media tanah lalu mengambil uret satu per satu. Meskipun terlihat merepotkan, cara ini cukup efektif untuk serangan ringan.

2.    Penggunaan pupuk organik

Jika populasi uret banyak, sebaiknya gunakan pupuk kompos matang dan hindari pupuk kandang mentah.

3.    Gunakan pestisida nabati

Bahan alami juga bisa membantu mengurangi uret, Siramkan ke area akar secara rutin.

menggunakan bahan bahan seperti air bawang putih,, ekstrak daun mimba danlarutan tembakau.

4.    Penggunaan agens hayati

Penggunaan jamur entomopatogen seperti Metarhizium anisopliae, Suryadi, Y., & Widodo (2016).  

5.    Kurangi kelembapan berlebihan

Uret menyukai tanah yang terlalu lembap. Pastikan drainase media tanam baik agar air tidak menggenang.

6.    Alternatif terakhir gunakan insektisida kimia

Untuk serangan berat, insektisida khusus hama tanah berbahan aktif klorpirifos, fipronil, karbofuran, imidakloprid, tiametoksam dan diazinon dapat digunakan sesuai dosis anjuran.

 

Cara Mencegah Uret Datang Lagi

Mencegah tentu lebih mudah daripada mengobati. Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:

·         rutin menggemburkan tanah,

·         membersihkan gulma,

·         tidak menggunakan media tanam sembarangan,

·         memeriksa akar secara berkala,

·         menjaga kebersihan area tanam.

 

Daftar Pustaka

Kurniawan, A., & Suryanto, D. (2018). “Identifikasi dan Intensitas Serangan Uret pada Tanaman Stroberi di Dataran Tinggi.” Jurnal Hortikultura Tropika, 5(2), 101–108.

Suryadi, Y., & Widodo. (2016). “Pengendalian Larva Uret (Coleoptera: Scarabaeidae) pada Budidaya Stroberi Menggunakan Agen Hayati.” Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 20(1), 33–40.