Oleh: Shierly P. V. Nainggolan,
SP. / POPT Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan
Pertanian Kec. Banjar
Penyakit karat pada
tanaman jagung merupakan salah satu penyakit penting dimana penyakit ini
disebabkan oleh cendawan Puccinia sp. Terdapat dua jenis patogen
yang menyebabkan penyakit karat pada daun jagung yaitu Puccinia sorghi
dan P. polysora, perbedaan di antara keduanya yaitu urediniospora pada P.
sorghi berbentuk bulat sedangkan pada P. polysora lonjong. Urediniospora
pada P. sorghi berwarna coklat
kemerahan, berdinding sel agak tebal tetapi lunak dan memiliki jalur-jalur
seperti tanda pahatan. Bentuk dan warna spora tersebut mengakibatkan warna
gejala karat pada daun jagung juga berwarna coklat kemerah-merahan mirip karat
sehingga disebut penyakit karat.
Penyakit ini dapat
menjadi penyebab menurunnya hasil produksi karena mengakibatkan tanaman tidak
dapat melakukan proses fotosintesis secara sempurna sehingga pertumbuhannya
melambat dan produksi yang dihasilkan rendah. Penyakit karat pada jagung dapat
menimbulkan kerugian berkisar 45-60%. Berdasarkan gejala penyakitnya, penyakit karat
daun jagung bisa dibedakan atas 3 yaitu tropical corn rust menunjukkan
gejala karat putih, southern rust karat hanya terdapat pada permukaan
bagian atas, sedangkan common rust karat terdapat baik pada bagian atas
maupun bagian bawah permukaan daun.
Gejala penyakit
karat diawali oleh adanya lesio kecil pada bagian daun, selanjutnya melingkar
sampai memanjang. Ketika lesio berkembang, cendawan keluar dari permukaan daun
dan lesio menjadi lebih memanjang dan biasanya terjadi halo kuning. Gejala
lanjut terlihat adanya bisul (pustul) pada kedua permukaan daun bagian atas dan
bawah dengan warna coklat kemerahan tersebar pada permukaan daun dan berubah
warna menjadi hitam kecoklatan setelah teliospora berkembang. Apabila infeksi
penyakit dibiarkan maka akan menyebabkan daun menjadi kering dan tanaman mati.
Penyakit karat
menyerang tanaman jagung saat memasuki fase generatif. Perkembangan dan
penyebaran penyakit ini sangat berpengaruh terhadap lingkungan di sekitarnya dan
penyebaran penyakit karat ini sangat mudah sekali. Ukuran spora yang kecil
dengan jumlah yang sangat banyak mengakibatkan patogen mudah berpindah ke
tanaman lainnya yang sehat. Spora dapat ditiup angin dan menginfeksi tanaman
baru dengan waktu inkubasi selama 7 sampai 14 hari. Faktor kondisi lingkungan
lainnya seperti panas dan lembab dapat mempercepat perkembangan patogen di
tanaman. Suhu optimum untuk perkecambahan spora patogen kira-kira 23-28 derajat
Celcius dengan kelembaban relative lebih kurang 95%. Saat ini, perkembangan
penyakit karat di beberapa daerah endemis sudah banyak gejala yang ditemukan di
bagian batang tanaman dan pada tongkol. Gejala yang terlihat hampir sama yaitu
adanya pustul-pustul dengan panjang 0,2–1 mm berwarna kuning keemasan yang
menyebar di bagian batang tanaman dan tongkol jagung. Gejala berawal dari
bagian permukaan daun dan berkembang menyebar hingga ke bagian batang bawah
tanaman dan tongkol tanaman. Patogen Puccinia sp bersifat
obligat, sehingga tidak bisa hidup pada tanaman yang sudah mati.
Beberapa teknik
pengendalian penyakit karat pada jagung, diantaranya : a). penanaman varietas
tahan seperti XCI 47, XCJ 33, TCKUJ 1414, TC arren, CI-27-3, Pool 468, Arjuna,
Wiyasa dan Pioneer 2 dianggap tahan terhadap penyakit karat, b) pengaturan
jarak tanam untuk menjaga suhu dan kelembaban tanaman, dimana faktor suhu dan
kelembaban sangat mempengaruhi laju infeksi karena semakin tinggi suhu maka
laju infeksi menurun sedangkan semakin tinggi kelembaban maka laju infeksi
semakin meningkat, c) menanam di waktu yang tepat secara serempak, yaitu
menanam di awal musim kemarau, d) melakukan tindakan penyiangan gulma, dimana keberadaan
gulma di sekitar pertanaman dapat meningkatkan insidensi penyakit karena
persaingan unsur hara dan efek alelopati yang toksik bagi tanaman selain
membuat tanah menjadi gersang. Gulma juga dapat menyerap air sehingga apabila tanaman
kekurangan air maka akan menyebabkan tanaman tersebut menjadi stress, e) Aplikasi
pestisida kimiawi bahan aktif zineb, oksiklorida tembaga, fermat ataupun
dithane sebagai pillihan terakhir ketika intensitas serangan penyakit cukup
tinggi.
Daftar Pustaka
Albana,
H. dan Z. Resti. 2024. Tingkat Serangan Penyakit Karat Daun pada Tanaman Jagung
Manis di Kecamatan Kuranji. Jurnal AGRIFOR 23(2):305-312. Diakses pada laman http://ejurnal.untag-smd.ac.id/index.php/AG/article/view/7527/6979
Dolezal,
W. E. 2011. Corn Rust: Common Rust, Southern Rust and Tropical Rust.
Maize Product Development Pioneer Hi-Bred Johnston, IA. Field Crops Rust
Symposium San Antonio.
Sari
R., Reymas M. R. R., Eko A. M., Alexander Y. dan Derek K. E. 2022. Ketahanan Beberapa
Varietas Jagung (Zea mays L.) terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia sorghi) di
Dusun Copti Distrik Prafi Kabupaten Manokwari. Jurnal AGROTEK Vol 10(1):19-26.
Semangun,
H. 1991. Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University
Press, Yogyakarta.