(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

MENGENAL PENYAKIT KARAT PADA TANAMAN JAGUNG

Admin distankan | 20 Maret 2026 | 29 kali

Oleh: Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama

pada Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Banjar

Penyakit karat pada tanaman jagung merupakan salah satu penyakit penting dimana penyakit ini disebabkan oleh cendawan Puccinia sp. Terdapat dua jenis patogen yang menyebabkan penyakit karat pada daun jagung yaitu Puccinia sorghi dan P. polysora, perbedaan di antara keduanya yaitu urediniospora pada P. sorghi berbentuk bulat sedangkan pada P. polysora lonjong. Urediniospora pada P.  sorghi berwarna coklat kemerahan, berdinding sel agak tebal tetapi lunak dan memiliki jalur-jalur seperti tanda pahatan. Bentuk dan warna spora tersebut mengakibatkan warna gejala karat pada daun jagung juga berwarna coklat kemerah-merahan mirip karat sehingga disebut penyakit karat.

Penyakit ini dapat menjadi penyebab menurunnya hasil produksi karena mengakibatkan tanaman tidak dapat melakukan proses fotosintesis secara sempurna sehingga pertumbuhannya melambat dan produksi yang dihasilkan rendah. Penyakit karat pada jagung dapat menimbulkan kerugian berkisar 45-60%. Berdasarkan gejala penyakitnya, penyakit karat daun jagung bisa dibedakan atas 3 yaitu tropical corn rust menunjukkan gejala karat putih, southern rust karat hanya terdapat pada permukaan bagian atas, sedangkan common rust karat terdapat baik pada bagian atas maupun bagian bawah permukaan daun.

Gejala penyakit karat diawali oleh adanya lesio kecil pada bagian daun, selanjutnya melingkar sampai memanjang. Ketika lesio berkembang, cendawan keluar dari permukaan daun dan lesio menjadi lebih memanjang dan biasanya terjadi halo kuning. Gejala lanjut terlihat adanya bisul (pustul) pada kedua permukaan daun bagian atas dan bawah dengan warna coklat kemerahan tersebar pada permukaan daun dan berubah warna menjadi hitam kecoklatan setelah teliospora berkembang. Apabila infeksi penyakit dibiarkan maka akan menyebabkan daun menjadi kering dan tanaman mati.

Penyakit karat menyerang tanaman jagung saat memasuki fase generatif. Perkembangan dan penyebaran penyakit ini sangat berpengaruh terhadap lingkungan di sekitarnya dan penyebaran penyakit karat ini sangat mudah sekali. Ukuran spora yang kecil dengan jumlah yang sangat banyak mengakibatkan patogen mudah berpindah ke tanaman lainnya yang sehat. Spora dapat ditiup angin dan menginfeksi tanaman baru dengan waktu inkubasi selama 7 sampai 14 hari. Faktor kondisi lingkungan lainnya seperti panas dan lembab dapat mempercepat perkembangan patogen di tanaman. Suhu optimum untuk perkecambahan spora patogen kira-kira 23-28 derajat Celcius dengan kelembaban relative lebih kurang 95%. Saat ini, perkembangan penyakit karat di beberapa daerah endemis sudah banyak gejala yang ditemukan di bagian batang tanaman dan pada tongkol. Gejala yang terlihat hampir sama yaitu adanya pustul-pustul dengan panjang 0,2–1 mm berwarna kuning keemasan yang menyebar di bagian batang tanaman dan tongkol jagung. Gejala berawal dari bagian permukaan daun dan berkembang menyebar hingga ke bagian batang bawah tanaman dan tongkol tanaman. Patogen Puccinia sp bersifat obligat, sehingga tidak bisa hidup pada tanaman yang sudah mati.

Beberapa teknik pengendalian penyakit karat pada jagung, diantaranya : a). penanaman varietas tahan seperti XCI 47, XCJ 33, TCKUJ 1414, TC arren, CI-27-3, Pool 468, Arjuna, Wiyasa dan Pioneer 2 dianggap tahan terhadap penyakit karat, b) pengaturan jarak tanam untuk menjaga suhu dan kelembaban tanaman, dimana faktor suhu dan kelembaban sangat mempengaruhi laju infeksi karena semakin tinggi suhu maka laju infeksi menurun sedangkan semakin tinggi kelembaban maka laju infeksi semakin meningkat, c) menanam di waktu yang tepat secara serempak, yaitu menanam di awal musim kemarau, d) melakukan tindakan penyiangan gulma, dimana keberadaan gulma di sekitar pertanaman dapat meningkatkan insidensi penyakit karena persaingan unsur hara dan efek alelopati yang toksik bagi tanaman selain membuat tanah menjadi gersang. Gulma juga dapat menyerap air sehingga apabila tanaman kekurangan air maka akan menyebabkan tanaman tersebut menjadi stress, e) Aplikasi pestisida kimiawi bahan aktif zineb, oksiklorida tembaga, fermat ataupun dithane sebagai pillihan terakhir ketika intensitas serangan penyakit cukup tinggi.

 

Daftar Pustaka

Albana, H. dan Z. Resti. 2024. Tingkat Serangan Penyakit Karat Daun pada Tanaman Jagung Manis di Kecamatan Kuranji. Jurnal AGRIFOR 23(2):305-312. Diakses pada laman http://ejurnal.untag-smd.ac.id/index.php/AG/article/view/7527/6979

Dolezal, W. E. 2011. Corn Rust: Common Rust, Southern Rust and Tropical Rust. Maize Product Development Pioneer Hi-Bred Johnston, IA. Field Crops Rust Symposium San Antonio.

Sari R., Reymas M. R. R., Eko A. M., Alexander Y. dan Derek K. E. 2022. Ketahanan Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia sorghi) di Dusun Copti Distrik Prafi Kabupaten Manokwari. Jurnal AGROTEK Vol 10(1):19-26.

Semangun, H. 1991. Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.