(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

PEMANFAATAN BIO-URIN SEBAGAI PESTISIDA NABATI RAMAH LINGKUNGAN

Admin distankan | 17 April 2026 | 743 kali


Oleh:

Rafika Ardiani, S.P/ POPT Ahli Pertama BPP Gerokgak

 

Ketergantungan petani terhadap pestisida kimia menimbulkan berbagai masalah serius, seperti pencemaran lingkungan, resistensi hama, serta terganggunya keseimbangan ekosistem. Di sisi lain, pestisida kimia yang semakin mahal menjadi beban tersendiri bagi petani. Oleh karenanya, Kementerian Pertanian terus mendorong praktik kegiatan pengendalian hama dan penyakit berbasis ramah lingkungan melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). salah satu pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu pemanfaatan bio-urin, yaitu urine hewan ternak (sapi, kambing) yang telah melalui proses fermentasi. Tidak hanya berfungsi sebagai pupuk organik cair yang kaya unsur hara, bio-urin juga terbukti efektif sebagai biopestisida untuk mengendalikan berbagai jenis OPT.

A.      Kandungan dan Mekanisme Keja Bio-Urin

1.       Kandungan Unsur Hara dan Senyawa Bioaktif

Bio-urin mengandung senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi tanaman sekaligus bersifat repelen (pengusir) bagi hama. Urine sapi, misalnya kaya akan kandungan nitrogen, fosfor, kalium, serta air dalam jumlah yang melimpah. Kandungan senyawa organik ini tidak hanya menyuburkan tanaman namun juga mengeluarkan aroma menyengat yang tidak disukai hama tertentu seperti tikus.

2. Mekanisme Pengendalian OPT

Mekanisme bio-urin dalam mengendalikan OPT bersifat kompleks dan multimodal:

a)       Efek Repelen (Pengusir) : Aroma kuat hasil fermentasi urine, terutama setelah dicampur dengan bahan-bahan seperti empon-empon (jahe, kunyi, kencur)dan terasi, terbukti efektif mengusir tikus sawah. Bau menyengat ini mengganggu indera penciuman tikus sehingga mereka menjauhi area pertanaman (Direktoral Jenderal Tanaman Pangan, 2021).

b)       Media Perbanyakan Agen Hayati : Bio-urin dapat diformulasi sebagai media perbanyakan mikroorganisme antagonis. Penelitian menunjukkan bahwa bio-urin yang diperkaya dengan molase 5% mampu menjadi media pertumbuhan Bacillus thuringiensis, bakteri patogen serangga yang menghasilkan protein toksin sebagaia racun perut bagi hama (Puspita, 2022).

c)       Peningkatan Ketahanan Tanaman : Dengan menyuburkan tanaman, bio-urin secara tidak langsung meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan OPT. Tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap tekanan biotik.

B.      Keunggulan Bio-Urin Dibanding Pestisida Kimia

1st    Ramah Lingkungan : Tidak meninggalkan residu berbahaya dan tidak mencemari tanah serta air.

2nd  Biaya Murah : Bahan baku (urin ternak) merupakan limbah yang tersedia gratis si sekitar peternakan.

3rd  Mudah Diproduksi : Teknologi fermentasi sederhana dapat dilakukan oleh petani secara mandiri

4th   Dual Function : Selain mengendalikan hama, bio-urin juga menyuburkan tanaman

 

C.      Tantangan dan Keterbatasan

Meskipun memiliki banyak keunggulan, aplikasi bio-urin sebagai biopestisida juga menghadapi beberapa tantanga:

1.       Bau Menyengat : Aroma amonia hasil fermentasi cukup menyengat dan mungkin mengganggu kenyamanan petani saat aplikasi. Namun, bau ini justru berperan sebagai repelen bagi hama.

2.       Efektivitas Lebih Lambat : Dibandingkan pestisida kimia yang bekerja cepat, bio-urin memerlukan waktu lebih lama untuk menunjukkan hasil.

3.       Faktor Lingkungan : Keberhasilan pengendalian sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, jenis tanah.

 

Sumber:

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (2021). Pengendalian OPT Ramah Lingkungan Melalui Pengembangan Pestisida Biologi. Webinar Kementerian Pertanian RI.

Puspita, F., dkk. (2022). Study of Effectivity Bacillus thuringiensis Based Bio-Insecticide Against Oryctes rhinoceros Larvae at Shade House. DOAJ - Directory of Open Access Journals.