Oleh:
Rafika Ardiani, S.P/ POPT Ahli Pertama BPP Gerokgak
Ketergantungan petani
terhadap pestisida kimia menimbulkan berbagai masalah serius, seperti
pencemaran lingkungan, resistensi hama, serta terganggunya keseimbangan
ekosistem. Di sisi lain, pestisida kimia yang semakin mahal menjadi beban
tersendiri bagi petani. Oleh karenanya, Kementerian Pertanian terus mendorong
praktik kegiatan pengendalian hama dan penyakit berbasis ramah lingkungan
melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). salah satu pengendalian
Hama Terpadu (PHT) yaitu pemanfaatan bio-urin, yaitu urine hewan ternak (sapi,
kambing) yang telah melalui proses fermentasi. Tidak hanya berfungsi sebagai
pupuk organik cair yang kaya unsur hara, bio-urin juga terbukti efektif sebagai
biopestisida untuk mengendalikan berbagai jenis OPT.
A. Kandungan dan Mekanisme Keja Bio-Urin
1.
Kandungan Unsur Hara dan
Senyawa Bioaktif
Bio-urin mengandung
senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi tanaman sekaligus bersifat repelen
(pengusir) bagi hama. Urine sapi, misalnya kaya akan kandungan nitrogen,
fosfor, kalium, serta air dalam jumlah yang melimpah. Kandungan senyawa organik
ini tidak hanya menyuburkan tanaman namun juga mengeluarkan aroma menyengat
yang tidak disukai hama tertentu seperti tikus.
2. Mekanisme Pengendalian OPT
Mekanisme bio-urin dalam
mengendalikan OPT bersifat kompleks dan multimodal:
a)
Efek Repelen (Pengusir) : Aroma kuat hasil fermentasi urine, terutama setelah dicampur dengan
bahan-bahan seperti empon-empon (jahe, kunyi, kencur)dan terasi, terbukti
efektif mengusir tikus sawah. Bau menyengat ini mengganggu indera penciuman
tikus sehingga mereka menjauhi area pertanaman (Direktoral Jenderal Tanaman
Pangan, 2021).
b)
Media Perbanyakan Agen
Hayati : Bio-urin dapat diformulasi sebagai media
perbanyakan mikroorganisme antagonis. Penelitian menunjukkan bahwa bio-urin
yang diperkaya dengan molase 5% mampu menjadi media pertumbuhan Bacillus
thuringiensis, bakteri patogen serangga yang menghasilkan protein toksin
sebagaia racun perut bagi hama (Puspita, 2022).
c)
Peningkatan Ketahanan
Tanaman : Dengan menyuburkan tanaman, bio-urin secara
tidak langsung meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan OPT. Tanaman
yang sehat akan lebih tahan terhadap tekanan biotik.
B. Keunggulan Bio-Urin Dibanding Pestisida Kimia
1st
Ramah Lingkungan : Tidak meninggalkan residu berbahaya dan tidak mencemari tanah serta
air.
2nd Biaya Murah : Bahan baku (urin ternak)
merupakan limbah yang tersedia gratis si sekitar peternakan.
3rd Mudah Diproduksi : Teknologi fermentasi
sederhana dapat dilakukan oleh petani secara mandiri
4th
Dual Function : Selain mengendalikan hama, bio-urin juga menyuburkan tanaman
C. Tantangan dan Keterbatasan
Meskipun memiliki banyak
keunggulan, aplikasi bio-urin sebagai biopestisida juga menghadapi beberapa
tantanga:
1.
Bau Menyengat : Aroma amonia hasil
fermentasi cukup menyengat dan mungkin mengganggu kenyamanan petani saat
aplikasi. Namun, bau ini justru berperan sebagai repelen bagi hama.
2.
Efektivitas Lebih Lambat :
Dibandingkan pestisida kimia yang bekerja cepat, bio-urin memerlukan waktu
lebih lama untuk menunjukkan hasil.
3.
Faktor Lingkungan : Keberhasilan
pengendalian sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu,
kelembaban, jenis tanah.
Sumber:
Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan. (2021). Pengendalian OPT Ramah Lingkungan Melalui
Pengembangan Pestisida Biologi. Webinar Kementerian Pertanian RI.
Puspita,
F., dkk. (2022). Study of Effectivity Bacillus thuringiensis Based Bio-Insecticide
Against Oryctes rhinoceros Larvae at Shade House. DOAJ - Directory of Open
Access Journals.