(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Potensi Daun Mangga (Mangifera indica L.) sebagai Bioherbisida Ramah Lingkungan

Admin distankan | 31 Agustus 2026 | 45 kali

Oleh:

Pande Made Giopany, S.P. – POPT Ahli Pertama Kecamatan Kubutambahan

 

Gulma merupakan tumbuhan yang keberadaannya tidak dikehendaki pada suatu areal budidaya karena dapat mengganggu pertumbuhan dan produktivitas tanaman utama. Keberadaan gulma pada lahan pertanian menimbulkan persaingan dengan tanaman budidaya dalam memperoleh berbagai sumber daya yang diperlukan untuk pertumbuhan, terutama air, unsur hara, cahaya, dan ruang tumbuh. Selain melalui kompetisi, beberapa jenis gulma juga dapat memengaruhi tanaman di sekitarnya melalui pelepasan senyawa alelokimia, serta dapat berperan sebagai tempat berlindung atau inang alternatif bagi organisme pengganggu tanaman.

Pengendalian gulma pada pertanian selama ini banyak mengandalkan herbisida sintetis karena penggunaannya relatif mudah, cepat, dan mampu mengendalikan gulma pada areal yang luas. Namun, ketergantungan secara terus-menerus terhadap herbisida dengan mekanisme kerja yang sama dapat meningkatkan tekanan seleksi terhadap populasi gulma, mendorong berkembangnya gulma resisten, pencermaran lingkungan, dan dampak negatif terhadap organisme non target. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan metode pengendalian yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap herbisida sintetis tanpa mengabaikan efektivitas pengendalian gulma.

Salah satu alternatif yang perlu dikembangkan adalah penggunaan bioherbisida, yaitu agen atau bahan yang berasal dari sumber biologis dan memiliki kemampuan menekan perkecambahan, pertumbuhan, atau perkembangan gulma. Bioherbisida berbahan tumbuhan umumnya memanfaatkan senyawa metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas fitotoksik atau alelopatik. Alelopati merupakan interaksi biokimia ketika suatu tumbuhan menghasilkan dan melepaskan senyawa tertentu yang dapat memengaruhi perkecambahan maupun pertumbuhan tumbuhan lainnya. Salah satu tanaman yang menarik untuk dikembangkan sebagai sumber bioherbisida adalah mangga (Mangifera indica L.).

Daun mangga diketahui mengandung beragam senyawa fenolik dan metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas biologis. Kajian Kato-Noguchi dan Kurniadie (2020) menunjukkan bahwa pada daun mangga telah teridentifikasi mengandung berbagai senyawa fitotoksik, antara lain asam kumarat, asam vanilat, asam kafeat, asam sinamat, asam galat, asam protokatekuat, metil galat, serta turunan kuersetin. Penelitian fitokimia lainnya juga menunjukkan bahwa daun mangga kaya akan senyawa fenolik, flavonoid, benzofenon, dan xanton, termasuk mangiferin.

Potensi daun mangga sebagai bioherbisida telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian eksperimental pembuatan ekstrak daun mangga dengan metode maserasi. Penelitian yang dilakukan oleh Syahri et al. (2017) menemukan bahwa ekstrak daun beberapa jenis mangga mampu menghambat pertumbuhan bayam duri (Amaranthus spinosus), dengan M. indica menunjukkan kemampuan penghambatan yang kuat pada percobaan tersebut. Hasil serupa dilaporkan pada rumput teki (Cyperus rotundus), di mana pemberian ekstrak air daun mangga Arumanis pada konsentrasi 20% menurunkan panjang tunas, bobot segar, dan bobot kering gulma dibandingkan kontrol.

Potensi daun mangga sebagai bioherbisida juga semakin diperkuat oleh pengujian terhadap babadotan dan putri malu. Guntoro et al. (2020) menguji ekstrak daun mangga pada konsentrasi 0, 15, 30, 45, dan 60% terhadap A. conyzoides. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 60% memberikan penghambatan paling kuat terhadap pertumbuhan gulma, termasuk tinggi tanaman, panjang akar, serta bobot basah dan bobot kering, sehingga dinyatakan sebagai konsentrasi efektif pada kondisi percobaan tersebut. Sementara itu, Putrie et al. (2024) melaporkan bahwa ekstrak metanol daun mangga mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan putri malu (Mimosa pudica), dengan konsentrasi 20% memberikan respons penghambatan terbaik di antara konsentrasi yang diuji. Perbedaan konsentrasi efektif antarpenelitian menunjukkan bahwa respons gulma terhadap ekstrak daun mangga dapat bergantung pada jenis gulma, metode ekstraksi, pelarut, konsentrasi senyawa aktif, umur bahan tanaman, serta kondisi aplikasi.

Berdasarkan berbagai hasil penelitian tersebut, daun mangga memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai bahan baku bioherbisida berbasis tumbuhan. Pemanfaatannya juga memberikan peluang untuk meningkatkan nilai guna daun atau serasah mangga yang selama ini relatif kurang dimanfaatkan. Meskipun demikian, hasil penelitian skala laboratorium dan rumah kaca belum dapat langsung diartikan bahwa ekstrak daun mangga dapat menggantikan herbisida sintetis sepenuhnya. Pengembangan selanjutnya masih memerlukan pengujian terhadap berbagai jenis gulma, penentuan konsentrasi dan formulasi yang stabil, selektivitas terhadap tanaman budidaya, lama aktivitas di lingkungan, keamanan terhadap organisme bukan sasaran, serta efektivitasnya pada kondisi lapangan.

Sumber Pustaka

Guntoro, G., Dibisono, M. Y., & Sinaga, A. (2020). Uji potensi alelopati ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) sebagai bioherbisida terhadap gulma babadotan (Ageratum conyzoides L.). Jurnal Agrium, 17(1), 51–56. DOI: 10.29103/agrium.v17i1.2355.

Kato-Noguchi, H., & Kurniadie, D. (2020). Allelopathy and allelopathic substances of mango (Mangifera indica L.). Weed Biology and Management, 20(4), 131–138. DOI: 10.1111/wbm.12212.

Prasetya, D. N., Zulkifli, Handayani, T. T., & Lande, M. L. (2018). Efek alelopati ekstrak air daun mangga (Mangifera indica L. var. Arumanis) terhadap pertumbuhan rumput teki (Cyperus rotundus L.). Jurnal Penelitian Pertanian Terapan, 18(3), 193–198.

Putrie, A. N., Zakiah, Z., & Mukarlina, M. (2024). Potential of mango leaf methanol extract (Mangifera indica L.) as a bioherbicide against the growth of Putri Malu weed (Mimosa pudica L.). Jurnal Biologi Tropis, 24(2), 287–293. DOI: 10.29303/jbt.v24i2.6747.

Syahri, R., Widaryanto, E., & Wicaksono, K. P. (2017). Bioactive compound from mangoes leaves extract as potential soil bioherbicide to control amaranth weed (Amaranthus spinosus Linn.). Journal of Degraded and Mining Lands Management, 4(3), 829–836. DOI: 10.15243/jdmlm.2017.043.829.