Oleh : Ketut Agus Ary Subakti, S.TP.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Bidang Tanaman Pangan
pada Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan, Kabupaten Buleleng
Gabah Kering Panen (GKP)
merupakan hasil utama dari kegiatan budidaya padi yang memiliki peran strategis
dalam menentukan kualitas beras sebagai produk akhir. Mutu GKP sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik pada tahap prapanen maupun pascapanen.
Oleh karena itu, pengawasan mutu GKP di tingkat petani menjadi langkah krusial
dalam menjamin kualitas beras yang dihasilkan serta meningkatkan daya saing
produk pertanian.
Secara teknis, mutu GKP
ditentukan oleh beberapa parameter penting antara lain persyaratan kuantitatif
meliputi kadar air, kotoran/cemaran, gabah rusak, gabah hijau/kapur, persentase
butir hampa sedangkan persyaratan kualitatif meliputi benda asing dan serangga
hidup. Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada
bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa
pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan
daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya
bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi
perubahan pada bahan pangan (Winarno, 1997). Berdasarkan SNI 01-6128-1999 kadar
air kritis atau kadar maksimal pada beras adalah sekitar 14 %. Demikian pula,
tingginya proporsi butir rusak dan benda asing akan menurunkan kualitas fisik
gabah dan berdampak pada rendahnya rendemen beras giling.
Pengawasan mutu GKP di
tingkat petani memiliki peran penting sebagai upaya pengendalian kualitas sejak
awal rantai produksi. Melalui pengawasan yang baik, petani dapat menerapkan
praktik panen yang tepat, seperti menentukan waktu panen optimal, menggunakan
alat panen yang sesuai, serta melakukan penanganan pascapanen yang benar,
termasuk proses perontokan, pengeringan, dan penyimpanan. Praktik-praktik
tersebut secara langsung berkontribusi terhadap penurunan kehilangan hasil
(losses) dan peningkatan kualitas gabah.
Selain itu, pengawasan mutu
GKP juga berimplikasi terhadap aspek ekonomi petani. Gabah dengan mutu yang lebih
baik umumnya memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan gabah
berkualitas rendah. Hal ini karena industri penggilingan padi cenderung
memberikan harga premium terhadap bahan baku yang memenuhi standar mutu
tertentu. Dengan demikian, penerapan pengawasan mutu tidak hanya berfungsi
menjaga kualitas produk, tetapi juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
petani.
Dalam konteks yang lebih
luas, pengawasan mutu GKP di tingkat petani turut mendukung upaya peningkatan
kualitas beras nasional. Beras yang dihasilkan dari gabah berkualitas tinggi
akan memiliki karakteristik fisik dan organoleptik yang lebih baik, seperti
warna yang lebih cerah, tingkat patahan yang rendah, serta cita rasa yang lebih
baik. Kondisi ini penting dalam memenuhi kebutuhan konsumen serta meningkatkan
daya saing beras di pasar domestik maupun internasional.
Menurut Suismono, et. al
(2005) bahwa mutu gabah dan beras di Indonesia masih beragam. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kualitas gabah dan beras ditentukan oleh varietas,
agroekosistem, teknik budidaya dan penanganan pascapanen. untuk memberi jaminan
mutu gabah dan beras pada konsumen, salah satu cara Teknik budidaya yang baik
(GAP). GAP (Good Agriculture Practice) merupakan cakupan penerapan
teknologi yang ramah lingkungan, penjagaan kesehatan dan peningkatan
kesejahteraan pekerja, pencegahan penularan organisme pengganggu tanaman (opt)
dan prinsip traceability (suatu produk dapat ditelusuri asal usulnya
dari pasar sampai kebun. Untuk menjamin mutu gabah dan produktvitas, khususnya
dalam proses budidaya padi dikenal beberapa system budidaya seperti sistem rice
intensification (SRI) dan sistem pendekatan pengelolaan
tanaman terpadu (PTT) padi sawah.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengawasan mutu Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani merupakan faktor kunci dalam mendukung peningkatan kualitas beras. Upaya ini perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi guna memastikan bahwa setiap tahapan produksi padi menghasilkan output yang berkualitas tinggi, bernilai ekonomi, serta mampu memenuhi standar pasar yang semakin kompetitif.
Sumber
:
Iswahyudi, dkk. 2018. Evaluasi
Mutu Gabah Pamekasan Madura Jawa Timur. https://journal.umpr.ac.id>article>download
[ diakses tanggal 4 Mei 2026 ]
Suismono, Sudaryono,
Safaruddin Lubis dan S. Joni Munarso. 2005. Kajian Pengembangan Agribisnis
Perberasan Melalui Penerapan Sistem Manajemen Mutu. Prosiding Seminar Nasional
Teknologi Inovatif Pascapanen untuk Pengembangan Industri Berbasis Pertanian.
Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Nutrisi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.