Oleh
Rafika Ardiani, S.P/ POPT Ahli Pertama BPP Banjar
Tanaman durian merupakan
buah yang mendapatkan sebuah julukan "Raja Buah", di mana buah ini
memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan digemari di berbagai negara Asia
Tenggara, termasuk Indonesia. Budidaya tanaman durian yang menjanjikan seringk
kali menghadapi berbagai kendala, salah satu yang paling serius adalah serangan
penyakti. Di antara banyaknya penyakit tanaman durian, penyakit kanker batang
merupakan ancaman senyap yang dapat menurunkan produktivitas secara signifikan,
merusak tanaman secara permanen, bahkan menyebabkan kematian pada tanaman
durian.
Penyakit ini sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya yang berkembang perlahan. Petani baru menyadari adanya masalah serius ketika pohon durian sudah menunjukkan tanda-tanda kemunduran yang parah. Oleh karena itu, pemahaman yang komperehensif mengenai penyakit ini, mulai dari penyebab, gejala, hingga strategi pengendaliannya, menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan kebun durian.
Penyebab dan Agen Penyakit
Penyakit kanker batang pada durian biasanya disebabkan oleh serangan jamur patogen, dari genus Phytophthora. Jamur yang paling sering menyerang tanaman durian adalah Phytophhora palmivora. Jamur Phytophthora bersifat soil-borne (berasal dari tanah) dan memiliki kemampuan bertahan hidup dalam tanah untuk waktu yang lama dalam bentuk struktur istirahat (klamidospora). Patogen ini sangat aktif pada kondisi lingkungan yang lembab. Penyebarannya dapat melalui:
Air : Aliran permukaan air, air hujan, atau air irigasi
dapat membawa sporan jamur dari tanaman sakit ke tanaman sehat.
Tanah dan Sisa
Tanaman : Tanah yang terkontaminasi
atau sisa-sisa tanaman yang sakit yang terbawa alat pertanian atau angin.
Luka Mekanis
: Jamur dengan mudah menginfeksi jaringan tanaman melalui luka, baik yang
disebabkan oleh alat pemangkasan, cangkulan, gigitan hewan, atau keretakan
alami pada batang.
Gejala Serangan pada Batang
Gejala khas penyakit ini terutama terlihat pada bagian batang dan cabang utama. Berikut adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai:
1. Kanker (Luka): Gejala awal adalah munculnya bercak basah berwarna kehitaman atau
coklat gelap pada permukaan batang. Area ini kemudian berkembang menjadi luka
terbuka (kanker) yang merupakan cairan getah berwarna coklat kemerahan seperti
karat.
2.
Gumosis (Pengeluaran Getah): Ciri
yang paling mudah dikenali adalah keluarnya eksudat (getah) dari celah-celah
kulit batang yang terinfeksi. Getah ini akan mengering dan meninggalkan bekas
berwarna hitam.
3. Kulit
batang mengelupas : Jaringan kulit
batang yang terinfeksi akan menjadi busuk, kering, dan akhirnya mengelupas. Di
bawah kulit yang mengelupas, terlihat jaringan kayu di dalamnya yang juga telah
berubah warna menjadi coklat kehitaman.
4. Pembengkakan : Pada beberapa kasus, batang yang terinfeksi dapat mengalami pembengkakan tidak normal di sekitar area luka.
Dampak
pada Tanaman
Kanker batang menyebabkan
kerusakan pada jaringan pembuluh (floem dan xilem) yang bertugas mengangkut
air, unsur hara, dan hasil fotosintesis. Akibatnya:
Layu dan Klorosis : Daun-daun menguning, layu, dan
rontok, dimulai dari cabang di atas area yang terinfeksi.
Penurunan Produksi: Tanaman yang stres tidak dapat menghasilkan bunga dan buah secara
optimal. Buah yang terbentuk pun berukuran kecil dan kualitasnya buruk.
Kematian Tanaman : Jika kanker melingkari batang (girdling), aliran nutrisi terputus total dan pohon akan mati. Hal ini sering terjadi pada tanaman muda.
Pengendalian
1. Kultur Teknis (Pencegahan)
Penyehatan Lahan : Pastikan lahan memiliki drainase
yang baik untuk menghindari genangan air. Hindari menanam durian di lahan yang
bekas terinfeksi Phytophthora.
Sanitasi Kebun : Bersihkan gulma dan sisa-sisa
tanaman sakit. Alat-alat pertanian harus disterilkan setelah digunakan pada
tanaman sakit.
Pemupukan Berimbang : Pemberian pupuk yang cukup, terutama kalium (K) dan kalsium (Ca), untuk memperkuat jaringan tanaman dan meningkatkan ketahanannya terhadap infeksi jamur.
Menghindari Luka : Lakukan perawatan seperti pemangkasan dengan hati-hati untuk meminimalkan luka pada batang.
2. Pengendalian Mekanis/Fisik :
Pengerokan : Untuk serangan awal, lakukan pengerokan pada
bagian kulit batang yang sakit hingga bersih, termasuk jaringan kayu yang
berubah warna. Pastikan batas pengerokan mencapai jaringan yang sehat. Luka
bekas kerokan kemudian diolesi dengan fungisida atau bahan penutup luka.
3. Pengendalian Kimiawi :
Fungisida : Penggunaan
fungisida berbahan aktif seperti Metalaksi, Fosetil-Al, atau Dimetomorf
dapat dilakukan. Fungisida dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada
batang, dikocor ke tanah di sekitar pangkal batang, atau dioleskan pada luka
setelah pengerokan. Penting untuk menggunakan fungisida secara bijak dan
bergantian untuk mencegah resistesi jamur.
4. Pengendalian Hayati :
Pemanfaatan agens hayati seperti jamur antagonis Trichoderma
spp. Atau bakteri Pseudomonas fluorescens cukup efektif. Trichoderma dapat diaplikasikan ke tanah untuk menekan
populasi patogen, sementara Pseudomonas dapat memicu ketahanan tanaman.
Sumber :
Darmosarkoso,
W., & Sutanto,A. 2016. Penyakit penting Tanaman Durian dan Pengendaliannya.
Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.
Erwina, Y.,
martias, & Edison, R. 2019. Identifikasi Penyakit Antraknosa dan Kanker
batang pada Tanaman Durian di kabupaten Dharmasraya. Jurnal Proteksi
Tanaman, 3(2),88-95.
Manohara,
D., & Mulya, K. 2008. Phytophthora palmivora Penyebab Penyakit Busuk
Akar dan Kanker Batang pada Durian. Jurnal Penelitian Tanaman Industri,
14(1), 25-32.