(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

ANCAMAN PENYAKIT KANKER BATANG PADA TANAMAN DURIAN

Admin distankan | 25 Maret 2026 | 303 kali

Oleh

Rafika Ardiani, S.P/ POPT Ahli Pertama BPP Banjar

Tanaman durian merupakan buah yang mendapatkan sebuah julukan "Raja Buah", di mana buah ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan digemari di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Budidaya tanaman durian yang menjanjikan seringk kali menghadapi berbagai kendala, salah satu yang paling serius adalah serangan penyakti. Di antara banyaknya penyakit tanaman durian, penyakit kanker batang merupakan ancaman senyap yang dapat menurunkan produktivitas secara signifikan, merusak tanaman secara permanen, bahkan menyebabkan kematian pada tanaman durian.

Penyakit ini sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya yang berkembang perlahan. Petani baru menyadari adanya masalah serius ketika pohon durian sudah menunjukkan tanda-tanda kemunduran yang parah. Oleh karena itu, pemahaman yang komperehensif mengenai penyakit ini, mulai dari penyebab, gejala, hingga strategi pengendaliannya, menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan kebun durian.

Penyebab dan Agen Penyakit

Penyakit kanker batang pada durian biasanya disebabkan oleh serangan jamur patogen, dari genus Phytophthora. Jamur yang paling sering menyerang tanaman durian adalah Phytophhora palmivora. Jamur Phytophthora bersifat soil-borne (berasal dari tanah) dan memiliki kemampuan bertahan hidup dalam tanah untuk waktu yang lama dalam bentuk struktur istirahat (klamidospora). Patogen ini sangat aktif pada kondisi lingkungan yang lembab. Penyebarannya dapat melalui: 

Air : Aliran permukaan air, air hujan, atau air irigasi dapat membawa sporan jamur dari tanaman sakit ke tanaman sehat.

Tanah dan Sisa Tanaman : Tanah yang terkontaminasi atau sisa-sisa tanaman yang sakit yang terbawa alat pertanian atau angin.

Luka Mekanis : Jamur dengan mudah menginfeksi jaringan tanaman melalui luka, baik yang disebabkan oleh alat pemangkasan, cangkulan, gigitan hewan, atau keretakan alami pada batang.

Gejala Serangan pada Batang

Gejala khas penyakit ini terutama terlihat pada bagian batang dan cabang utama. Berikut adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai:

1. Kanker (Luka): Gejala awal adalah munculnya bercak basah berwarna kehitaman atau coklat gelap pada permukaan batang. Area ini kemudian berkembang menjadi luka terbuka (kanker) yang merupakan cairan getah berwarna coklat kemerahan seperti karat.

2. Gumosis (Pengeluaran Getah): Ciri yang paling mudah dikenali adalah keluarnya eksudat (getah) dari celah-celah kulit batang yang terinfeksi. Getah ini akan mengering dan meninggalkan bekas berwarna hitam.

3. Kulit batang mengelupas : Jaringan kulit batang yang terinfeksi akan menjadi busuk, kering, dan akhirnya mengelupas. Di bawah kulit yang mengelupas, terlihat jaringan kayu di dalamnya yang juga telah berubah warna menjadi coklat kehitaman.

4. Pembengkakan : Pada beberapa kasus, batang yang terinfeksi dapat mengalami pembengkakan tidak normal di sekitar area luka.

Dampak pada Tanaman

Kanker batang menyebabkan kerusakan pada jaringan pembuluh (floem dan xilem) yang bertugas mengangkut air, unsur hara, dan hasil fotosintesis. Akibatnya:

Layu dan Klorosis :  Daun-daun menguning, layu, dan rontok, dimulai dari cabang di atas area yang terinfeksi.

Penurunan Produksi: Tanaman yang stres tidak dapat menghasilkan bunga dan buah secara optimal. Buah yang terbentuk pun berukuran kecil dan kualitasnya buruk.

Kematian Tanaman :  Jika kanker melingkari batang (girdling), aliran nutrisi terputus total dan pohon akan mati. Hal ini sering terjadi pada tanaman muda.

Pengendalian

1. Kultur Teknis (Pencegahan)

Penyehatan Lahan :  Pastikan lahan memiliki drainase yang baik untuk menghindari genangan air. Hindari menanam durian di lahan yang bekas terinfeksi Phytophthora.

Sanitasi Kebun :  Bersihkan gulma dan sisa-sisa tanaman sakit. Alat-alat pertanian harus disterilkan setelah digunakan pada tanaman sakit.

Pemupukan Berimbang : Pemberian pupuk yang cukup, terutama kalium (K) dan kalsium (Ca), untuk memperkuat jaringan tanaman dan meningkatkan ketahanannya terhadap infeksi jamur.

Menghindari Luka :  Lakukan perawatan seperti pemangkasan dengan hati-hati untuk meminimalkan luka pada batang.

2. Pengendalian Mekanis/Fisik :

Pengerokan :  Untuk serangan awal, lakukan pengerokan pada bagian kulit batang yang sakit hingga bersih, termasuk jaringan kayu yang berubah warna. Pastikan batas pengerokan mencapai jaringan yang sehat. Luka bekas kerokan kemudian diolesi dengan fungisida atau bahan penutup luka.

3. Pengendalian Kimiawi :

Fungisida : Penggunaan fungisida berbahan aktif seperti Metalaksi, Fosetil-Al, atau Dimetomorf dapat dilakukan. Fungisida dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada batang, dikocor ke tanah di sekitar pangkal batang, atau dioleskan pada luka setelah pengerokan. Penting untuk menggunakan fungisida secara bijak dan bergantian untuk mencegah resistesi jamur.

4. Pengendalian Hayati :

Pemanfaatan agens hayati seperti jamur antagonis Trichoderma spp. Atau bakteri Pseudomonas fluorescens  cukup efektif. Trichoderma  dapat diaplikasikan ke tanah untuk menekan populasi patogen, sementara Pseudomonas  dapat memicu ketahanan tanaman.


Sumber :

Darmosarkoso, W., & Sutanto,A. 2016. Penyakit penting Tanaman Durian dan Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.

Erwina, Y., martias, & Edison, R. 2019. Identifikasi Penyakit Antraknosa dan Kanker batang pada Tanaman Durian di kabupaten Dharmasraya. Jurnal Proteksi Tanaman, 3(2),88-95.

Manohara, D., & Mulya, K. 2008. Phytophthora palmivora Penyebab Penyakit Busuk Akar dan Kanker Batang pada Durian. Jurnal Penelitian Tanaman Industri, 14(1), 25-32.