(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

PERANAN ASAM HUMAT DALAM MENGATASI GANGGUAN FISIOLOGIS TANAMAN PADI PADA TANAH MASAM

Admin distankan | 27 Februari 2026 | 97 kali

Oleh: I Wayan Rusman, S.P.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda

Kecamatan Sawan

anah masam banyak dijumpai pada lahan sawah di daerah dengan curah hujan tinggi dan intensitas pencucian unsur hara yang besar. Tanah dengan pH di bawah 5,5 umumnya memiliki kandungan aluminium dan besi yang tinggi, yang dapat bersifat racun bagi tanaman padi. Selain itu, ketersediaan unsur hara penting seperti fosfor (P), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan kalium (K) menjadi sangat terbatas. Kondisi ini menyebabkan tanaman mengalami stres fisiologis, yang oleh petani sering disebut sebagai “asam-aseman”. Salah satu teknologi ramah lingkungan yang terbukti efektif dalam mengatasi permasalahan tanah masam adalah penggunaan asam humat. Asam humat mampu meningkatkan kualitas tanah sekaligus memperbaiki pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan.

 

Apa Itu Asam Humat?

Asam humat merupakan fraksi utama dari bahan humat, hasil dekomposisi lanjut bahan organik oleh mikroorganisme tanah. Secara kimia, asam humat adalah senyawa organik kompleks yang mengandung gugus karboksil, fenolat, dan aromatik yang berfungsi sebagai pengikat unsur hara serta logam berat. Asam humat berwarna cokelat tua hingga hitam, larut dalam larutan basa, dan berperan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan struktur tanah, kapasitas tukar kation (KTK), dan aktivitas mikroba tanah.

Asam humat dapat diperoleh dari berbagai sumber alami, Ada yang bersumber dari batubara muda (lignit dan leonardit) dan merupakan sumber asam humat dengan konsentrasi tinggi.  Terdapat pula sumber asam humat yang lebih mudah didapat yaitu dari kompos dan pupuk kandang matang, hasil penguraian bahan organik dalam jangka waktu panjang. Di lapangan, petani umumnya menggunakan produk asam humat jadi, karena lebih praktis dan mudah diaplikasikan. baik dalam bentuk cair, granula, maupun serbuk, yang telah diekstraksi dan distandarisasi.

 

Mekanisme Kerja Asam Humat dalam Memperbaiki Tanah Masam

1.    Menetralisir Keasaman Tanah

Asam humat memiliki kemampuan sebagai penyangga (buffer) pH tanah. Gugus karboksil dan fenolatnya mampu mengikat ion hidrogen berlebih sehingga menaikkan pH tanah secara bertahap. Hal ini membantu menciptakan lingkungan yang lebih optimal bagi pertumbuhan akar padi.

2.    Mengikat Aluminium dan Besi Beracun

Pada tanah masam, ion aluminium dan besi dapat meracuni tanaman dan menghambat penyerapan fosfor. Asam humat membentuk kompleks stabil dengan ion-ion tersebut, sehingga menurunkan kelarutannya dan mengurangi toksisitas terhadap tanaman.

3.    Meningkatkan Ketersediaan Unsur Hara

Asam humat meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), sehingga tanah mampu menahan dan menyediakan unsur hara makro dan mikro lebih efektif. Akibatnya, penyerapan nutrisi oleh tanaman padi menjadi lebih optimal.

4.    Merangsang Pertumbuhan Akar dan Aktivitas Mikroba

Asam humat berperan sebagai stimulan biologis yang meningkatkan pertumbuhan akar, memperluas daerah serapan hara, serta merangsang aktivitas mikroorganisme menguntungkan di dalam tanah.

Asam humat merupakan solusi ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mengatasi gangguan fisiologis tanaman padi akibat tanah masam. Melalui kemampuannya dalam menetralkan pH, mengikat logam beracun, meningkatkan ketersediaan hara, serta merangsang pertumbuhan akar, asam humat mampu memperbaiki kondisi tanah dan meningkatkan produktivitas padi secara signifikan. Aplikasi asam humat secara tepat dan teratur sangat dianjurkan terutama pada lahan sawah dengan permasalahan keasaman tinggi.

 

Sumber referensi:

Nardi, S., Pizzeghello, D., Muscolo, A., & Vianello, A. (2002). Physiological effects of humic substances on higher plants. Soil Biology and Biochemistry, 34(11), 1527–1536.

Sembiring, M., & Sarifuddin. (2013). Pengaruh asam humat terhadap sifat kimia tanah dan pertumbuhan tanaman padi pada tanah masam. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 15(2), 45–53.

Stevenson, F.J. (1994). Humus Chemistry: Genesis, Composition, Reactions. New York: John Wiley & Sons.