Oleh: Rosma Susiwaty
Situmeang, S.P
POPT BPP Busungbiu
Salah
satu hama penting pada tanaman padi adalah tikus. Serangan tikus biasanya terjadi pada malam hari sedangkan pada siang hari tikus lebih banyak bersembunyi di dalam lubang. Seluruh bagian tanaman padi pada berbagai
stadia pertumbuhan dapat dirusak oleh tikus. Walaupun demikian, tikus paling
senang memakan bagian malai atau bulir tanaman padi pada stadia generatif. Pada
stadia persemaian, tikus mencabut benih yang sudah mulai tumbuh (bibit) untuk
memakan bagian biji yang
masih tersisa. Pada stadia vegetatif, tikus memotong bagian pangkal batang untuk memakan bagian batangnya. Adapun pada stadia generatif, tikus
memotong pangkal batang untuk memakan bagian malai atau bulirnya.
Tikus dapat
menyerang tanaman padi pada berbagai
fase tanaman padi. Pada
fase vegetatif, tikus akan memutuskan batang padi sehingga tampak berserakan,
tikus akan menggigit lebih dari jumlah yang dibutuhkan untuk makan. Kerusakan
yang ditimbulkan oleh tikus bersifat khas, yaitu ditengah-tengah petakan sawah
tampak gundul, sedangkan
bagian tepi biasanya tidak diserang. Mereka juga menyerang
bedengan persemaian dengan memakan benih-benih yang disebar atau mencabut
tanaman-tanaman yang baru tumbuh. Tikus sawah suka menggali liang untuk
berlindung. Tikus sawah termasuk
omnivora (pemakan segala jenis makanan).
Apabila makanan berlimpah
mereka cenderung memilih yang paling disukai, yaitu biji- bijian atau padi yang tersedia di sawah. Pada kondisi bera, tikus sering berada di pemukiman,
mereka menyerang semua stadium tanaman padi sejak pesemaian sampai panen.
Tingkat kerusakan yang diakibatkan bervariasi tergantung stadium tanaman.
Penggunaan fumigasi asap belerang yang paling efektif
adalah pada saat tanaman padi dalam stadia generatif karena tikus sawah sedang
beranak di sarang. Fumigasi ini dilakukan menggunakan mercon tikus yang
memiliki bahan aktif Belerang (sulfur 57%). Mercon tikus dibakar pada bagian
sumbu dan segera dimasukkan ke dalam lobang aktif tikus. Mercon tikus akan
mengeluarkan asap beracun, kemudian menutup semua lubang keluar yang ada dan
tidak perlu dilakukan penggalian sarang tikus. Penggalian sarang tikus setelah
fumigasi hanya untuk membuktikan kepastian kematian tikus dalam sarang. Fumigasi
mempunyai keuntungan yaitu kemampuan membunuh
tikus-tikus muda yang berada di dalam liang. Perlakuan fumigasi dengan mercon
belerang mengakibatkan kematian tikus sawah paling cepat karena akan menimbulkan gangguan
pada pembuluh-pembuluh sistem
pernafasan tikus sehingga mempercepat
kematiannya.
Jenis fumigan lainnya yang dapat digunakan untuk membunuh tikus sawah adalah berbentuk pellet, tablet, atau butiran yang mengandung bahan aluminium atau magnesium fosfida. Tablet dimasukkan ke dalam sarang tikus, kemudian lubang keluarnya ditutup dengan lumpur. Bahan aktif fumigan beracun tersebut menguap dalam sarang dan menyebabkan kematian tikus.
Sumber:
Sudarmaji.
2018. Tikus Sawah: Bioekologi dan Pengendalian. IAARD Press. Jakarta. Hlm. 92-93.