Oleh: Rosma Susiwaty
Situmeang, S.P
POPT BPP Busungbiu
Penggerek
buah kopi (Hypothenemus hampei) atau sering disebut PBKo. Hama ini
merupakan hama utama tanaman kopi yang dapat menurunkan produksi secara
signifikan. Hama ini tidak
hanya menyerang buah
kopi yang sudah tua tapi juga buah yang masih muda. Buah kopi yang bijinya
masih lunak umumnya tidak digunakan sebagai tempat berkembang biak tetapi hanya
digerek untuk mendapatkan makanan sementara. Serangan H. hampei menyebabkan
buah menjadi tidak berkembang, berubah warna menjadi kuning kemerahan dan
akhirnya gugur. Imago betina menyerang buah kopi dengan cara membuat lubang, sekitar 8 minggu setelah pembungaan hingga
panen (>32 minggu). Hama ini umumnya menyerang pada buah kopi yang bijinya (endosperm) telah
mengeras/sudah cukup tua dan mengakibatkan buah kopi berlubang. Lubang gerekan
berbentuk bulat dengan diameter 1 mm.
Gejala serangan penggerek buah kopi dapat
terlihat dari adanya lubang-lubang pada buah akibat kumbang betina yang masuk
untuk menggerek. Serangan pada buah muda menyebabkan gugur buah, sementara
serangan buah tua menyebabkan biji kopi berlubang dan bermutu rendah. Serangga
betina membuat lubang pada buah kemudian bertelur sekitar 30 - 50 butir dan menggerek di dalam buah kopi. Telur berkembang menjadi larva yang
menggerek hingga mengakibatkan buah tidak menjadi utuh dan mengalami penurunan
kuantitas dan kualitas produksi buah kopi. Identifikasi gejala serangan hama
penggerek buah kakao juga bisa dilakukan dengan merendam buah-buah kopi di
dalam air kemudian dilihat buah yang mengapung. Buah kopi yang mengapung
menandakan bagian dalam buah sudah kopong akibat digerek oleh hama
H.hampei.
Beauveria bassiana adalah salah satu jamur entomopatogen
yang menghasilkan beberapa metabolit sekunder dengan sifat
antibiotik, antijamur, dan bioinsektisida. Proses infeksi B. bassiana pada serangga inang terjadi melalui empat
tahap: inokulasi, perkecambahan, penetrasi, penyebaran, dan kolonisasi. Tahap
inokulasi melibatkan kontak antara organ infektif dan integumen serangga inang.
Organ infektif dari jamur B. bassiana adalah konidia, jadi selama aplikasi di
lapangan, suspensi konidia harus kontak dengan tubuh serangga, terutama lapisan
integumen. Selanjutnya, konidia melekat pada integumen serangga dan terjadi perkecambahan. Konidia
membentuk tabung kecambah, memerlukan kelembaban tinggi di atas 90%. Tahap
ketiga adalah penetrasi. Pada titik ini, jamur membentuk blastospora di ujung
appresorium atau haustorium, siap untuk menembus lapisan kutikula serangga, yang
mengarah pada pembentukan hifa primer di dalam tubuh.
Pengendalian hama PBKo dengan menggunakan B. bassiana merupakan salah satu cara efektif untuk mengurangi penggunaan insektisida kimia di lahan. Aplikasi jamur Beauveria bassiana sebanyak 2 kg/200 Liter air/Ha dan diaplikasikan 2-3 kali permusim. Penyemprotan pertama dilakukan pada saat buah masak susu atau sekitar 3 bulan setelah pembungaan dan kemudian setelah periode 1 bulan. Sasaran penyemprotan yaitu pada dompolan buah kopi dan dilakukan pada pagi hari dan sore hari.
Sumber:
Solichah, C., Wicaksono, D., Waluya dan Brotodjojo, R. 2020. Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tanaman Kopi. UPN Veteran Yogyakarta, 14-20.