(0362) 25090
distankan@bulelengkab.go.id
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan Dan Perikanan

Beauveria bassiana: Pengendalian biologi Penggerek Buah Kopi (PBKo)

Admin distankan | 29 Juni 2026 | 135 kali

Oleh: Rosma Susiwaty Situmeang, S.P

POPT BPP Busungbiu

 

Penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei) atau sering disebut PBKo. Hama ini merupakan hama utama tanaman kopi yang dapat menurunkan produksi secara signifikan. Hama ini tidak hanya menyerang buah kopi yang sudah tua tapi juga buah yang masih muda. Buah kopi yang bijinya masih lunak umumnya tidak digunakan sebagai tempat berkembang biak tetapi hanya digerek untuk mendapatkan makanan sementara. Serangan H. hampei menyebabkan buah menjadi tidak berkembang, berubah warna menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur. Imago betina menyerang buah kopi dengan cara membuat lubang, sekitar 8 minggu setelah pembungaan hingga panen (>32 minggu). Hama ini umumnya menyerang pada buah kopi yang bijinya (endosperm) telah mengeras/sudah cukup tua dan mengakibatkan buah kopi berlubang. Lubang gerekan berbentuk bulat dengan diameter 1 mm.

Gejala serangan penggerek buah kopi dapat terlihat dari adanya lubang-lubang pada buah akibat kumbang betina yang masuk untuk menggerek. Serangan pada buah muda menyebabkan gugur buah, sementara serangan buah tua menyebabkan biji kopi berlubang dan bermutu rendah. Serangga betina membuat lubang pada buah kemudian bertelur sekitar 30 - 50 butir dan menggerek di dalam buah kopi. Telur berkembang menjadi larva yang menggerek hingga mengakibatkan buah tidak menjadi utuh dan mengalami penurunan kuantitas dan kualitas produksi buah kopi. Identifikasi gejala serangan hama penggerek buah kakao juga bisa dilakukan dengan merendam buah-buah kopi di dalam air kemudian dilihat buah yang mengapung. Buah kopi yang mengapung menandakan bagian dalam buah sudah kopong akibat digerek oleh hama H.hampei.  

Beauveria bassiana adalah salah satu jamur entomopatogen yang menghasilkan beberapa metabolit sekunder dengan sifat antibiotik, antijamur, dan bioinsektisida. Proses infeksi B. bassiana pada serangga inang terjadi melalui empat tahap: inokulasi, perkecambahan, penetrasi, penyebaran, dan kolonisasi. Tahap inokulasi melibatkan kontak antara organ infektif dan integumen serangga inang. Organ infektif dari jamur B. bassiana adalah konidia, jadi selama aplikasi di lapangan, suspensi konidia harus kontak dengan tubuh serangga, terutama lapisan integumen. Selanjutnya, konidia melekat pada integumen serangga dan terjadi perkecambahan. Konidia membentuk tabung kecambah, memerlukan kelembaban tinggi di atas 90%. Tahap ketiga adalah penetrasi. Pada titik ini, jamur membentuk blastospora di ujung appresorium atau haustorium, siap untuk menembus lapisan kutikula serangga, yang mengarah pada pembentukan hifa primer di dalam tubuh.

Pengendalian hama PBKo dengan menggunakan B. bassiana merupakan salah satu cara efektif untuk mengurangi penggunaan insektisida kimia di lahan. Aplikasi jamur Beauveria bassiana sebanyak 2 kg/200 Liter air/Ha dan diaplikasikan 2-3 kali permusim. Penyemprotan pertama dilakukan pada saat buah masak susu atau sekitar 3 bulan setelah pembungaan dan kemudian setelah periode 1 bulan. Sasaran penyemprotan yaitu pada dompolan buah kopi dan dilakukan pada pagi hari dan sore hari.

 

Sumber:

 

Solichah, C., Wicaksono, D., Waluya dan Brotodjojo, R. 2020. Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tanaman Kopi. UPN Veteran Yogyakarta, 14-20.