Oleh :
Luh Pastiniasih, STP, M.Si (Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda)
Sukun
(Artocarpus altilis) merupakan salah satu komoditas pangan lokal yang
memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat
alternatif. Buah sukun mengandung sekitar 80% karbohidrat dan memiliki sejumlah
vitamin serta mineral. Namun, sukun segar memiliki kadar air yang tinggi
sehingga relatif cepat mengalami kerusakan setelah matang. Oleh karena itu,
pengolahan sukun menjadi tepung menjadi salah satu cara untuk memperpanjang
masa simpan sekaligus meningkatkan nilai tambahnya.
Pembuatan
tepung sukun pada prinsipnya dilakukan dengan mengurangi kadar air buah melalui
proses pengeringan, kemudian menggilingnya hingga menjadi tepung. Tahapan
sederhana yang dapat dilakukan adalah memilih buah sukun yang cukup tua dan
sehat, mengupas kulit serta membuang bagian hati, kemudian mencuci dan memotong
daging buah. Potongan sukun selanjutnya dapat diblansir atau disiram air panas
untuk membantu mengurangi getah dan mempertahankan kualitas bahan. Setelah itu,
daging sukun diiris atau disawut menjadi bagian yang lebih tipis agar proses
pengeringan berlangsung lebih efektif. Berikut merupakan alur pembuatan tepung
sukun.
Alur
Pembuatan Tepung Sukun
1. Pengupasan
dan Pembuangan Ati
Buah sukun yang cukup
tua dan sehat dikupas kulitnya. Selanjutnya, bagian ati/jantung sukun dibuang
karena bagian tersebut kurang sesuai untuk diolah menjadi tepung. Daging sukun kemudian
dicuci hingga bersih.
2. Pengirisan
Daging sukun diiris
tipis dan seragam. Pengirisan bertujuan agar proses perendaman dan pengeringan
berlangsung lebih merata serta mempercepat proses pengeringan.
3. Perendaman
dengan Natrium Metabisulfit
Irisan sukun direndam
dalam larutan natrium metabisulfite 0,3% selama 20 menit. Tahap ini bertujuan
untuk membantu mencegah pencoklatan (browning) pada daging sukun sehingga warna
tepung yang dihasilkan lebih baik.
4. Blansir,
Tiriskan dan Keringkan
Irisan sukun kemudian
dilakukan blansir selama 5–10 menit. Setelah itu, sukun ditiriskan dan dijemur
hingga benar-benar kering. Sukun dapat dijemur menggunakan sinar matahari atau
dikeringkan menggunakan alat pengering hingga teksturnya renyah dan kadar
airnya rendah.
5. Penggilingan
Sukun yang telah kering
digiling menggunakan mesin atau alat penepung hingga menjadi tepung. Tepung
dapat diayak untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih seragam, kemudian
disimpan dalam wadah yang bersih, kering, dan tertutup.
Keunggulan
Tepung Sukun
Tepung
sukun memiliki beberapa keunggulan yang menjadikannya potensial sebagai bahan
pangan lokal alternatif dan mendukung penganekaragaman konsumsi pangan, antara
lain:
1. Sumber
karbohidrat lokal dan tinggi serat kasar
Tepung
sukun kaya akan karbohidrat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu
sumber energi dan alternatif bahan pangan selain beras. Kandungan serat kasar
dalam tepung sukun (sekitar 4,22 gram per 100 gram) jauh lebih tinggi daripada
tepung terigu biasa (sekitar 0,3 gram per 100 gram), yang baik untuk pencernaan.
2. Memiliki
daya simpan lebih lama
Pengolahan
sukun segar menjadi tepung dengan kadar air rendah dapat memperpanjang masa
simpan dibandingkan buah sukun segar yang relatif mudah rusak.
3. Mudah
disimpan dan didistribusikan, serta serbaguna dalam pengolahan pangan
Dalam
bentuk tepung, sukun menjadi lebih praktis untuk dikemas, disimpan, dan
digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan. Tepung sukun dapat
digunakan sebagai bahan utama maupun bahan substitusi dalam berbagai produk,
seperti cookies, brownies, bolu, cake, roti, kue tradisional, dan berbagai
kudapan.
4. Mendukung
penganekaragaman konsumsi pangan
Pemanfaatan tepung sukun dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan tertentu, khususnya tepung terigu, sekaligus memperkenalkan sumber pangan lokal kepada masyarakat.
Dengan demikian, pembuatan tepung sukun bukan sekadar proses pengawetan buah. Lebih jauh, teknologi ini dapat mengubah sukun segar yang mudah rusak menjadi bahan pangan setengah jadi yang lebih awet, mudah disimpan, mudah didistribusikan, dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Sumber:
S. Widowati, et al. 2019. Reduksi
Senyawa Penyebab Rasa Pahit Dalam Pembuatan Tepung Sukun. Jurnal Pangan Halal,
1(2), 59-65.
Hendrawan. 2024. Karakteristik Tepung
Sukun (Artocarpus Altilis). Agritekh (Jurnal Agribisnis dan Teknologi
Pangan), 5(1), 1-6.
Pratiwi, D.P., et al. 2012. Pemanfaatan Tepung Sukun (Artocarpus altilis sp.) pada Pembuatan Aneka Kudapan Sebagai Alternatif Makanan Bergizi untuk PMT-AS. Jurnal Gizi dan Pangan, 7(3), 175-180.