Oleh: Rosma Susiwaty
Situmeang, S.P/POPT BPP Busungbiu
Beauveria bassiana adalah salah satu jamur
entomopatogen yang termasuk dalam divisi Ascomycota. B. bassiana bersifat
toksik bagi semua tahap serangga dari ordo homoptera, hemiptera, coleoptera, lepidoptera,
orthoptera, isoptera, diptera, dan hymenoptera. B. bassiana adalah salah satu jamur
entomopatogen yang memiliki toksisitas tinggi, aplikasi yang luas mampu menginfeksi
sekitar 700 spesies serangga, tidak mencemari lingkungan, dapat bertahan
sebagai saprofit di tanah, dan membentuk suatu ikatan saling menguntungkan
dengan tanaman sebagai endofit.
Beauveria bassiana menghasilkan beberapa
metabolit sekunder dengan sifat antibiotik, antijamur, dan bioinsektisida. Metabolit
sekunder adalah senyawa organik yang tidak berperan langsung dalam pertumbuhan
dan metabolisme organisme. B.bassiana
memiliki metabolit sekunder seperti bassiacridin, bassianolide,
beauvericin, bassianin, tenellin, oosporein yang telah menunjukkan aktivitas
antimikroba dan antijamur in vitro, dan beberapa telah dihubungkan dengan
spesifisitas dan virulensi karena beberapa dapat menekan reaksi ketahanan tubuh
dari inangnya, yaitu imunomodulator. Oosporein memiliki peran penting sebagai
senyawa antibakteri pada akhir proses infeksi B. bassiana dengan mengurangi
mikrobiota inang dan membantu jamur menyelesaikan siklus infeksinya.
Proses infeksi B. bassiana pada
serangga inang terjadi melalui empat tahap: inokulasi, perkecambahan,
penetrasi, penyebaran, dan kolonisasi. Tahap inokulasi melibatkan kontak antara
organ infektif dan integumen serangga inang. Organ infektif dari jamur B.
bassiana adalah konidia, jadi selama aplikasi di lapangan, suspensi konidia
harus kontak dengan tubuh serangga, terutama lapisan integumen. Selanjutnya,
konidia melekat pada integumen serangga, dan untuk proses ini, zat perekat
diperlukan untuk memastikan konidia melekat pada integumen sebagai organ
infektif. Tahap kedua adalah perkecambahan. Konidia membentuk tabung kecambah,
memerlukan kelembaban tinggi di atas 90%. Tahap ketiga adalah penetrasi. Pada
titik ini, jamur membentuk blastospora di ujung appresorium atau haustorium, siap
untuk menembus lapisan kutikula serangga, yang mengarah pada pembentukan hifa
primer di dalam tubuh.
Efektivitas B. bassiana sangat
bergantung pada faktor-faktor abiotik lingkungan, termasuk kelembaban, suhu,
curah hujan, dan radiasi ultraviolet, untuk pertumbuhan dan penyimpanan
inokulum. Suhu optimal untuk
perkecambahan spora dan pertumbuhan miselium adalah 24 °C dan juga mendukung
proses infeksi. Batas suhu secara umum untuk pertumbuhan adalah antara 34 °C
dan 36 °C. Suhu yang lebih tinggi dapat secara signifikan mengurangi efisiensi
produksi jamur.
Jamur entomopatogen B. bassiana
adalah salah satu agensia paling efektif dalam pengendalian OPT secara biologi.
Jamur entomopatogen memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan dalam
pengendalian dengan menggunakan mikroorganisme. Keunggulan penggunaan jamur
sebagai insektisida adalah bahwa jamur ini memiliki selektivitas tinggi
terhadap inang dalam beberapa kasus pengendalian hama. Jamur entomopatogen dapat
digunakan dalam pengendalian serangga berbahaya tanpa mempengaruhi populasi
parasitoid dan serangga berguna. Mereka tidak memiliki pengaruh negatif pada
mamalia, dan oleh karena itu, dapat mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh
aplikasi insektisida seperti polusi lingkungan. Jamur entomopatogen dapat
digunakan untuk mengurangi masalah seperti resistensi insektisida, menyediakan
pengendalian jangka panjang, dikembangkan dengan penelitian bioteknologi, dan
tetap berada di lingkungan untuk waktu yang lama setelah aplikasi. Namun ada
beberapa kelemahannya yaitu memerlukan waktu yang lebih lama untuk membunuh
serangga dibandingkan insektisida kimia (kadang-kadang 10-15 hari). Jamur
patogen serangga lebih selektif daripada insektisida kimia yang berarti bahwa jamur
ini mungkin tidak efektif membunuh semua hama. Memerlukan biaya produksi yang
cukup tinggi dan memerlukan penyimpanan dengan kondisi dingin dibandingkan
dengan insektisida kimia.
Sumber:
Wahjono,
T.I., Yulianti, Y dan Hadiyanto. 2024. Beauveria bassiana; Insect Pathogen and
Biopesticide Producer as an Effective and Environtmentally Friendly Alternative
for Biological Control. Jurnal Ilmiah Agrineca Vol:24 No.1. Semarang.
Marida
Santi Yudha Ika Bayu, Yusmani Prayogo, Sri Wahyuni Indiati. 2021. Beauveria
Bassiana: Biopestisida Ramah Lingkungan dan Efektif untuk Mengendalikan Hama
dan Penyakit Tanaman. Buletin Palawija Vol. 19. No.1, Mei 2021. hal.41-63.