oleh : Ni Putu Eka Handayani, S.P/ POPT Ahli Pertama di BPP Kecamatan Sukasada
Dalam budidaya padi sering menemui gejala kerusakan daun yang tampak mirip memutih, kering, atau seperti terbakar. Dua penyebab yang kerap tertukar adalah hama putih palsu dan lalat Hydrellia. Sekilas gejalanya serupa, tetapi sebenarnya keduanya berbeda dari penyebabnya.
Apa itu Hama Putih Palsu?
Hama putih palsu
biasanya merujuk pada larva serangga pemakan daun yang menyebabkan tampilan
daun memutih. Istilah “palsu” digunakan karena gejalanya mirip dengan serangan
penyakit atau hama lain, namun penyebabnya berbeda.
a)
Gejala serangan hama putih palsu:Daun berubah putih pucat seperti terbakar dari
ujung atau bagian tertentu.
b)
Kerusakan
cenderung melebar dan tidak beraturan.
c)
Permukaan
daun tampak terkikis, bukan bergaris.
d)
Pada
serangan berat, daun bisa habis tersisa tulangnya saja.
e)
Tanaman
tampak meranggas dan lemah.
Apa itu Lalat Hydrellia?
Lalat
Hydrellia adalah hama pengorok daun (leaf miner) yang menyerang padi
sejak fase awal pertumbuhan. Larvanya hidup di dalam jaringan daun.
1.
Gejala
serangan lalat Hydrellia:Muncul
garis putih memanjang (seperti lorong) pada daun.
2.
Garis
terlihat transparan atau seperti goresan halus.
3.
Serangan
lebih sering pada daun muda.
4.
Daun
bisa menguning lalu mengering sebagian.
5.
Pertumbuhan
tanaman bisa terhambat jika serangan berat.
Dignosa Pembeda di Lapangan
Perbedaan utama dapat dilihat dari pola kerusakan:
a)
Pola
acak tanpa arah : indikasi
hama putih palsu
b)
Garis
sejajar tulang daun
: indikasi lalat Hydrellia
c)
Kerusakan
di permukaan daun
: hama putih palsu
d)
Kerusakan
dari dalam jaringan
: lalat Hydrellia
Ketelitian dalam mengamati gejala ini sangat penting
untuk menghindari kesalahan pengendalian kimia terutama penggunaan bahan aktif,
(Zenita,
Z., dkk. 2020)
Strategi Pengendalian
Kedua hama ini berpotensi menurunkan
produktivitas tanaman padi, terutama jika serangan terjadi pada fase vegetatif.
Kerusakan daun akan mengurangi kapasitas fotosintesis dan menghambat pertumbuhan anakan, Pendekatan
pengendalian harus mengacu pada prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
1. Monitoring dan Pengamatan
Dini
1.
Lakukan
pengamatan rutin minimal 1 kali per minggu
2.
Identifikasi
gejala sejak fase persemaian hingga vegetatif
2. Pengendalian Kultur
Teknis
1.
Pengaturan
jarak tanam untuk mengurangi kelembapan
2.
Pemupukan
berimbang (hindari kelebihan nitrogen)
3.
Pengelolaan
air yang tepat
3. Pengendalian Hayati
a)
Pelestarian
musuh alami predator seperti kumbang koksi, tomcat, laba-laba dll
4. Pengendalian Kimiawi
a.
Menggunakan
insektisida selektif sesuai jenis hama seperti hama putih palsu lebih efektif menggunakan
insektisida berbahan aktif fipronil, emamektin benzoate
dan flubendoamide sedanngkan lalat Hydrellia
lebih efektif menggunakan
abamektin, karbofuran atau deltametrin.
b.
Rotasi
bahan aktif untuk mencegah resistensi
Meskipun
hama putih palsu dan lalat Hydrellia menunjukkan gejala daun memutih
yang serupa, keduanya memiliki perbedaan mendasar pada pola dan mekanisme
kerusakan. Pemahaman yang baik terhadap gejala spesifik di lapangan akan
membantu petani dan praktisi perlindungan tanaman dalam menentukan langkah
pengendalian yang tepat dan efisien.
Dengan
penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu, risiko kerugian akibat serangan
kedua hama ini dapat diminimalkan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem
pertanian.
Daftar
Pustaka
Zenita, Z., dkk. 2020. Serangga Hama pada Tanaman Padi pada Fase Vegetatif dan Generatif. Prosiding Seminar Nasional.